Begitu pula dengan saya, yang walaupun tidak punya pengalaman membuka toko sebelumnya, akhirnya tertarik juga untuk mencoba… Berawal dari menjadi dropshipper untuk pakaian wanita, lalu dilanjut dengan menjualkan baju-baju Bali dan perlengkapan home spa. Namun ternyata saya merasa sangat tidak nyaman dengan menjadi dropshipper. Mengapa? Oke deh, saya akan berbagi cerita dengan Anda.
Apa sih dropshipper itu?
Dropshipper adalah orang yang menjalankan satu jenis sistem penjualan dimana penjual tidak memiliki produk yang dijualnya tetapi memiliki ijin untuk menjual barang tersebut atas namanya sendiri. Ia hanya menjadi perantara supplier (pemilik barang) dengan pembelinya/ customer. Untuk lebih jelasnya, bisa lihat skema berikut atau googling aja sanahh![]()

Sistem dropship bisa diilustrasikan sebagai berikut:
1. Dropshipper mempromosikan dan menjual barang A kepada customer seharga Rp 2.500
2. Customer mentransfer uang Rp 2.500 kepada dropshipper
3. Dropshipper membeli barang A seharga Rp 2.000 dari supplier
4. Dropshipper mentransfer uang sebesar Rp 2.000 ke supplier (selisih Rp 500 diambil sebagai laba)
5. Supplier mengirimkan barang A kepada customer atas nama dropshipper
Dengan langkah mudah tersebut, tak heran bila ada yang bilang kalau sistem dropship ini memberi peluang siapa saja untuk jadi makelar tapi bertampang owner…![]()
Sistem dropship ini menguntungkan bagi Anda yang ingin menambah penghasilan tanpa harus mengeluarkan modal (kecuali biaya promosi). Anda tidak perlu repot-repot stok barang, membungkus dan mengirimkannya. Tapi tentu ada konsekuensi dari berjualan cara dropshipping:
1. Anda tidak tahu pasti stok/ ketersediaan barang di supplier. Saat ini barang masih ada, beberapa menit kemudian belum tentu. Seringkali ini membuat customer kecewa. Selain harus sering menanyakan ketersediaan barang, dropshipper juga harus sabar menunggu konfirmasi dari supplier. Benar-benar harus sabar. Customer ingin cepat-cepat mendapat kepastian barang, supplier seringkali lama merespon dengan berbagai alasan.
2. Anda bukan pemilik barang, dan tidak menyimpan sendiri barang yang dijual. Bisa dipastikan Anda tidak akan menguasai sepenuhnya product knowledge. Anda hanya mengetahui sebatas foto dan informasi lain yang diberikan supplier. Itupun kadang tidak sesuai fakta yang ada. Dan jika ada customer yang meminta tambahan informasi, kadang supplier hanya menjawab sekenanya. Misalnya saat customer minta tambahan foto (tampak samping, belakang dan detail), supplier enggan memberikan. Disini dropshipper harus pintar-pintar berkomunikasi dengan customer.
3. Masih terkait dengan poin ke-2. Karena Anda tidak menyimpan barang sendiri, maka Anda tidak tahu kondisi barang yang sebenarnya. Kualitas barang, kondisi barang, dan kelayakan bungkus/ kemasan kirimnya. Contoh: Baju A, bahan spandek warna biru dikirim ke customer sesuai permintaan. Begitu sampai, customer komplain karena barang tidak sesuai harapan. Baju warna biru? Ya. Bahan spandek? Ya. Potongan seperti difoto? Ya. Lalu? Ternyata bahannya kain spandek dengan kualitas buruk, jahitan sangat amat tidak rapi dan ada kancing yang copot. Ketika Anda katakan ini kepada supplier, supplier bilang: “Sebelum dikirim barang sudah diperiksa, kancing lengkap/ utuh. Baju itu bahan spandek, warna biru, potongan sesuai foto. Tak ada kebohongan. Kalaupun ada kekurangan, itu resiko berbelanja online. Tidak bisa meraba bahan secara langsung.” Nah lho… Siapa yang bohong soal kancing baju yang lepas? Dan untuk menyelamatkan muka, dropshipper akhirnya merefund uang customer tanpa bisa mengembalikan baju ‘jelek’ pada supplier. Atau… Bisa saja dropshipper tidak mau rugi, dengan cara memaksa customer menelan pil pahit sendirian: barang tidak bisa diretur. Kalau saya sih tidak mau begitu. Kasihan customernya… Tapi kalau terus-terusan begitu juga sayanya yang kasian dong. Mau untung kok malah buntung![]()
Oh iya, saya juga pernah dikomplain customer gara-gara packing supplier yang ngasal. Barang hanya dibungkus selembar plastik transparan hingga terlihat jelas isinya apa. Duh! <intermezzo>
4. Harus ikut aturan supplier. Yaiyalah. Supplier kan yang punya barang, puncak kekuasaan tertinggi dong ya?
Biasanya supplier menentukan sendiri rule bagi para dropshipper. Salah satunya aturan tentang ‘keep’ barang. Ada supplier yang begitu ‘penindas’. Aturannya: tidak bisa cancel barang. Misal, customer mau barang A, dropshipper bilang ke supplier. Eh, tahunya customer cancel atau kabur begitu saja (istilahnya hit and run). Supplier tak mau tahu alasan apapun, yang penting kalau sudah bilang “mau” harus jadi. Jika customer membatakan pembelian, itu resiko dropshipper. Barang tetap harus dibeli dropshipper. Kalau tidak, dropshipper dicoret dari daftar klien supplier (diblacklist) dan tidak bisa dropshipping lagi. Tak heran ada teman saya yang dropshipper sejati, di rumahnya jadi banyak barang hasil hit and run customer-customernya. Kalau laku ya syukur, tapi kebanyakan tidak laku karena baju-bajunya sudah out of date.![]()
Meski banyak ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan *halah* dengan menjadi dropshipper, tapi keuntungan yang diperoleh pun tak bisa diremehkan. Banyak yang mendapatkan untung banyak hanya dengan ‘memakelari’ saja. Tentunya, keberuntungan itu tidak datang begitu saja dong yaa… Banyak variabel yang membentuknya. Diantaranya, dropshipper memiliki:
1. Supplier yang betul-betul profesional dan menghargai customer. Mereka mengutamakan kepuasan pelanggan. Barang terjaga baik, pengiriman tepat waktu, packaging baik, selalu memberikan informasi dan pelayanan sebaik-baiknya termasuk info kurir dan masalah retur barang.
2. Kemampuan berkomunikasi dengan customer dan supplier. Bagaimanapun, dropshipper berada di tengah-tengah kepentingan yang berbeda. Dropshipper harus bisa menyelaraskan dua kepentingan berbeda tersebut. Salah satu bermasalah, berdampak pada sisi lain.
3. Kemampuan marketing. Hanya dengan beriklan gratis di social media, situs-situs iklan, dan sedikit kemampuan ngeblog plus ilmu SEO, bisa mengantarkan seseorang menjadi dropshipper handal. Apalagi jika dia punya network yang bagus atau kemampuan plus lainnya (modal finansial misalnya).
Jadi kesimpulannya kalau mau jadi dropshipper sukses harus punya supplier oke, dan betul-betul harus tahan banting. Karena bagaimanapun dropshipper itu ‘tameng’ bagi kesalahan supplier.
Hmmmm… Apa lagi ya?![]()
![]()
![]()
Sementara sampai sini dulu dongeng-dongengnya…Kalau ada waktu -dan (yang terpenting) mood- saya mau bercerita mengapa saya memutuskan untuk menstock barang sendiri dan akhirnya berdagang di Mukena Pelangi. (Ahihiii… Masih kosong, Bo! Webnya belum ada isinyaaa…
Gapapa, ngasih link dulu aja. Biar tenar duluan, hahaha… Sementara saya masih menggelar dagangan di lapak yang amburadul, namanya juga masih dagang amatiran. Masih mejeng di pasar kaget dan trotoar dunia maya. Siap ditertibkan satpol kapan-kapan, hihihi… Do’akan saja cepet beres upgrade lapak jadi kios trus ningkat jadi toko dan lalu mall dehhh…)![]()
![]()
See you!![]()
Setahun gak ngeblog, pasti kangen lah. Cuma mungkin hasrat menulis dan blogwalking saya terkalahkan oleh aktivitas lain yang menurut saya lebih menarik. Iya. Hari-hari saya sekarang, selain melakukan rutinitas sebagai ibu tiga anak, juga lebih disibukkan dengan berjualan online dan mengurus dua kucing jantan. Yup! Karena begitu terlenanya dengan aktivitas tersebut, saya jadi lupa bercerita punya dua kucing lucu-lucu. Boy, si kucing Persia, dan Momot si blasteran kucing kampung-Persian.
OK deh, sebentar aja saya nongol disini yaa… Udah ‘pang-ping’ aja ini yang mau beli mukena, hehehe… Iya. Saya sekarang jadi Juragan Mukena nih. Dagang mukena bordir Tasikmalaya yang terkenal indah dan memikat hati banyak muslimah di dunia ![]()
Jadi buat Anda yang perlu mukena, baik untuk dipakai sehari-hari, untuk mahar, seserahan, mas kawin, hantaran, atau untuk dipakai saat hari raya Idul Fitri a.k.a. Lebaran, bahkan untuk bagi-bagi massal (partai besar), silakan kunjungi kios saya di Juragan Mukena atau Mukena Pelangi. Mohon maaf sampai saat ini warungnya masih belum nyaman dikunjungi. Tapi setidaknya saya siap membantu memberi saran mukena yang sesuai dengan kebutuhan Anda![]()
]]>
A camping trip can be a fun and memorable experience. But without proper planning it can become a stressful nightmare. Poor planning can result in accidents, exposure, and injuries. The easy way to make your camping trip go smoothly is to be prepared.
If you have never been camping before, you probably have no idea what you are missing out on. Before you head off on your camping trip, you need to do some planning. The first thing you should do is become familiar with the basic camping gear that you will need. Basically, you need a shelter, which could be a camping tents, cabin, or RV, and you need a bed, which could be a combination of sleeping bags and pads, cots, air mattresses, and comforters, and you need to eat, which may or may not require cooking utensils like camping stoves.
]]>Memang Casiopea sehebat apa sih, sampai saya begitu kesengsemnya dengan band yang kini sudah bubar itu? Menurut saya yang awam masalah musik, cukup dijawab: enak gila! Hehehe, jawaban yang tidak bertanggung jawab. Tapi percaya deh sama saya, Issei Noro dan kawan-kawannya yang kini sudah aki-aki itu memang yahud. Jagoan banget memainkan alat musik masing-masing. Jiwa bermusiknya keren. Memainkan lagu riang seperti Domino Line, Asayake, Space Road, atau Glowing, membuat saya tak tahan ingin melonjak-lonjak kegirangan. Begitu memainkan Will You Love Me Tomorrow, Lakai dan Nostalgia, membuat saya seakan sedang terjerembab cinta, kata lebaynya jatuh cinta
Banyak lagu lain yang saya suka. Yang membuat emosi saya hanyut dan nyangkut berdenyut-denyut di rumput. Halah. Coba saja dengarkan lagu Private Sunday, Sunnyside Feelin’, Sleek Passage, Dazzling, Wonder Quest, Golden Island, Looking Up, mmm…. ah banyak deh.
Wokey, sekian postingan saya. Senangnya bisa nulis di blog lagih, meski cuma beberapa baris tulisan yang ruingaaaaaan sekalih… Hidup Casiopea! Dan hidup saya juga!
Oh iya… Saya ingin memohon maaf kepada Anda yang masih sering berkunjung kemari. Mungkin ingin berkomen untuk memperpanjang silaturahmi, tapi tak ada postingan terbaru untuk dikomentari
<< uahihii, ge-er amat, Mak! Tentu saja permohonan maaf terbesar saya untuk komen-komen yang belum sempat saya balas. Begitulah kalau banyak menunda-nunda pekerjaan. Sekarang tinggal bingungnya membalas puluhan komentar. Padahal ketika datang notifikasi lewat surel, senangnya bukan main
Ah. Tuh kan… Kalau sudah lewat dua paragraf saya suka jadi bengong. Nulis apa lagi nih… *lanjut kepuyengan mau kasih judul apa*
Oke deh. Mungkin ini postingan asal absen saja. Oh, tidak. Saya kangen ngeblog kok. Suwer. Kepingin blogwalking lagi. Komen sana, komen sini. Nulis sesering mungkin setiap minggu. Namun mungkin belum dapat hidayah aja kali yaaa, hihihi….
Okeh. Siyuuu. Terima kasih dan sampai jumpa
Hmmm… Sebegitu sibuknyakah saya? Entahlah. Sepertinya tidak. Buktinya saya selalu sempat bercengkrama dengan teman-teman di facebook maupun twitter. Dua jejaring sosial yang setiap hari tidak pernah saya lewatkan untuk hadir disana.
Jadi? Apakah kedua jejaring sosial tadi yang mengganggu aktivitas ngeblog saya? Saya bilang tidak juga. Buktinya, saya pernah deactivated akun Facebook saya sampai sebulan lamanya, namun tak satupun postingan di blog saya lahir.
Saya kira tak ada kaitannya aktivitas ngeblog dengan hobi pesbukan atau twitteran. Mungkin saya hanya jenuh ngeblog saja. Atau… Atau apa ya? Ya gitu deh. Hehehe… Pokoknya saya sekarang sedikit lega. Satu postingan mulai muncul lagi di blog ini. Selamat datang lagi Ratna Respati. Semoga nggak cuma hari ini aja nulisin blognya…
Jadi ingat. Sekitar tujuh tahun lalu saya pernah baca opini seorang Bapak (yang juga seorang suami tentunya) di majalah Femina edisi tahun ‘80-an. Judulnya sama dengan judul tulisan ini.
Si Bapak berpendapat bahwa sifat dasar lelaki memang suka ‘bertualang’ dengan wanita lain selain istrinya. Entah itu dalam bentuk fantasi maupun selingkuh ‘beneran’. Ia mengatakan bahwa itu adalah ‘kenakalan’ biasa yang bisa reda dengan sendirinya.
Kata si Bapak lagi. Kaum istri tidak perlu gundah-gulana apalagi stress sampai setengah gila jika mendapati suaminya berselingkuh. Yang penting suami tetap sayang kepada keluarga. Tanggung jawab menafkahi lahir-batin. Tidak meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai kepala keluarga, suami dan ayah. Pokoknya tetap menomorsatukan keluarga. Lain halnya kalau ia sampai meninggalkan keluarga.
Soal selingkuh, itu mainan wajar bagi laki-laki. Dan suami juga akan menghargai istrinya yang mengerti akan salah satu ‘kebutuhan’ khas lelaki ini. Katanya.
Entahlah. Terlepas dari ‘opini sok rasional’ ala si Bapak, yang pasti saya akan 3C (Cemburu, Crying, Cak-mencak tak ye…) kalau suami saya ketahuan selingkuh. Bukan tidak mungkin malah berkembang jadi 4C (3C+ Cerai) Hiiiy, amit-amit jabang bayi…
Tuhan saja yang Maha Kuat dan Maha Segalanya paling marah kalau diduakan. Dosa paling besar kalau ada yang syirik kepadaNya. Qul huwallaahu ahad! Apalagi saya, manusia biasa yang ‘hanya’ seorang perempuan…
]]>Tilu poe ieu, meh unggal poe kuring nyieun cilok. FYI, cilok teh sabangsaning kadaharan opieun nu dijieun tina aci, wangunna baruleud leutik. Ari cara ngadaharna teu kawas dahareun sejen nu guyub make sendok atawa di comot ku ramo. Tapi dicolok heula ku nyere, tuluy dicocolkeun kana saos atawa sambel suuk, karek am. Nu matak dingaranan cilok ge, da singgetan tina aCI dicoLOK.
Teuing kunaon kuring meni ‘terobsesi’ kieu kana cilok. Meni hayaaaang pisan bisa nyieun cilok nu pangeunahna sadunya. Lain bohong. Padahal lamun dipikir-pikir, hayang cilok mah tinggal meuli di si Emang paporit. Murah, teu kudu gawe ngagaley-ngabuleud-buleud, tinggal mere duit receh, diladangan dengan senyuman (hiih!) terus cingogo sisi jambatan bari nyolok-am…nyolok-am….
Ari sajarah kuring mimiti wawuh ka cilok, asa rada poho. Teuing jaman SMP atawa SMA. Da keur leutik mah tara pernah noel-noel acan. Da teu dikenalkeun ku pun biang. Saurna teh bahaya mun emam cilok mah. Sok e’*’ getih… Nya, sim kuring nu polos keneh teh atuh nurut pisan ka Mamah. Da sieun ** getih. Padahal nu bener mah (jigana) lain ** getih. Tapi ceurik getih. Kulantaran kuring hayang breakfast, lunch, dinner make cilok tapi teu diidinan. Yaa… nangis darah lah guwe. Heuheuy deuhh!
Alhamdulillah, jaman kuliah di Jatinangor baheula euweuh nu jualan cilok. Jadi duit bulanan kuring teu nepi ka jewol kulantaran meulian wae cilok. Ngan upama kuring nyiliwuri ka daerah Monumen Pancasila nu di Jalan Dipati Ukur tea, komo mun keur ngabring jeung babaturan. Siap-siap sajah si Emang hepi. Diborong dong. Tapi untungna kuring saparakanca adalah mahasiswa-mahasiswi yang tida lupa daratan. Jadi keinginan si Emang agar dagangannyah ludes habis dan licin tandas hanyalah angan beliaw semata…
Alatan geus weureu ku kadaharan aheng ala kape jeung restoran, meureun. Kuring bet jadi sering browsing neangan resep-resep jajanan pasar. Geus kapanggih, bandros, sorabi, cireng, misro, cakueh, tapi nu nyangsang dina hate nu pangjerona ngan ukur sakadang cilok. Aya sababaraha resep. Ku kuring dicobaan hiji-hiji. Trial n error we. Tapi nepi ka ayeuna can aya nu nyugemakeun. Aya nu alus bentukna, tapi rasana ancur. Aya nu geus rada ngeunah, tapi hese pisan ngabuleud-buleudna, nepi ka buyatak dioprek. Aya nu liaaaat pisan, matak coplok sihung.
Ayeuna kuring rek ngarenghap heula. Sahenteuna saminggu kahareup, kuring moal waka ngulik resep cilok heula. Keur lendeng yeuh. Resep nu kakara dipraktekkeun tadi teu ngeunah. Liat teuing, jeung cebrek euweuh sarian. Jadi rieut kana sirah. Jeung deui bisi kurang giji, hayoh wae cacamuilan daharan cilok. Enya beuteung seubeuh, tapi uteuk jadi hampos.
Cag heula. Tapi… kela ah. Rek curat-coret heula make pilok yeuh dina tembok. Yuu ah, yuuu. Ngagrapiti…
Cilok, I’m yours.
Let’s vote for Cilok.
Cilok is the best.
Bad or good, Cilok is my holy-food.
Forever in Cilok.
Cilok is never end.
I’m crazy about Cilok.
Cilok, mwwwaaahhhh..mwwaaaahhh!!!
Ciloxers.
Ratna lope Cilok.
Great big hug for my Cilok.
Spontan batin saya langsung nyeletuk, “Kenapa sih, ngotot banget pengen baju lebaran? Memangnya lebaran harus selalu pakai baju baru ya? Demi gaya aja sampai bela-belain mencuri.” Namun celotehan batin nyinyir saya langsung saya hentikan dengan beristighfar. Saya tak tahu konteks sebenarnya. Saya tak boleh mengumpat-umpat orang sembarangan.
Tentunya ada dorongan yang sangat kuat hingga seseorang berani berbuat hal yang bertentangan dengan hati nuraninya. Terlebih, pelaku adalah seorang guru di sebuah madrasah. Yang setidaknya nilai-nilai keagamaan sudah banyak mendominasi kesehariannya.
Oh, ya. Saya punya sebuah cerita terkait baju lebaran ini. Seorang teman, pada saat malam takbiran Idul Fitri beberapa tahun lalu bertengkar dengan ayahnya. Gara-gara ia dan suaminya tak membelikan baju lebaran buat anak-anaknya. Alasannya, teman saya menganggap baju lebaran bukanlah hal yang krusial. Apalagi pada saat itu, kondisi keuangan rumah tangganya sedang tidak baik. Namun ayah teman saya itu malah marah dan menyebut-nyebut kalau teman saya itu tidak memperhatikan anak. Bahkan membandingkan dengan tetangga yang keadaan ekonominya lebih memprihatinkan, mampu membelikan baju lebaran.
Teman saya merasa tersinggung dan menangis karena pernyataan ayahnya tersebut. Lalu terjadilah adu argumentasi yang sebenarnya kurang pantas dilakukan di tengah kumandang takbir. Hingga esoknya, pas lebaran tiba, suasana maaf-maafan masih terwarnai acara bete-betean.Teman saya bete karena masih sakit hati, ayahnya juga cemberut karena melihat cucunya kalah keren dengan cucu tetangga.
“Gara-gara baju lebaran gitu loooh… Kok gue dibilang nggak merhatiin anak? Justru dengan nggak ngebiasain beli baju lebaran itu bentuk perhatian gue sama anak. Biar anak gue nggak ketelen sama tradisi kampungan itu. Biar anak gue nggak cuma taunya lebaran itu ajang petantang petenteng mamerin diri. Huuu!” kata teman saya sambil terisak saat dia menceritakan pertengkaran dengan ayahnya.
Ada kisah lain, sodara-sodara. Setiap lebaran, dulu keluarga besar saya selalu mengadakan acara halal bil halal. Pada suatu hari, saya dan ayah saya bertemu dengan saudara yang pada saat acara halal bi halal tidak hadir. Tentu kami bertanya dong, mengapa ia tidak datang. Jawabannya cukup mengagetkan, “Malu ah, belum punya mobil….”Dan ia mengatakannya dengan serius.
Satu lagi. Beberapa hari lalu saya membaca status seorang teman di Facebook. Ia terlihat stress karena tidak punya uang untuk dibagi-bagi pada saudara-saudaranya. Duh. Padahal saya tahu saudara-saudaranya orang berpunya semua.
Yah begitulah. Pada orang-orang tertentu, stigma “lebaran harus keren” melekat begitu erat. Sampai-sampai demi sebuah penampilan, orang sampai tega menekan anaknya yang tak berpunya untuk beli baju lebaran. Orang sampai mengabaikan silaturahmi dengan keluarga besar karena malu belum punya mobil. Orang sampai menyiksa diri dengan stress gara-gara malu, takut ketahuan nggak punya uang buat dibagi-bagi.
Lagi-lagi materi. Lagi-lagi gengsi. Lagi-lagi ketakutan menjadi inferior kalau tidak gaya.
Mungkin motivasi ini pula yang mendorong ibu guru honorer ini mencuri baju.
Wallahu’alam.
]]>Memang, kata merupakan bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kita akan lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal. Misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Dari cara memberi penekanan kata, juga bisa memberi makna yang lain.
Contoh, kata “dia cantik” adalah ucapan tulus, tapi jika diucapkan “Dia? Cantik?” jelas mengandung pelecehan. Jadi, tergantung bagaimana mengucapkannya. Kata-kata bisa sama, tapi arti atau pemaknaannya tergantung pada yang menyertainya, termasuk mimik atau bahasa tubuh.
Mempersepsikan kata juga tergantung pada bagaimana relasi kita dengan seseorang. Relasi renggang berbeda dengan seandainya berteman baik. Sehingga, jika dikatakan “gembrot banget sih kamu”, penerimaannya akan berbeda. Pada orang yang tak begitu dikenal, akan terasa menyakitkan. Sebaliknya, jika diucapkan kepada seorang sahabat, bisa diterima sebagai feedback positif, bahwa berat badan kita bertambah, sehingga butuh diet khusus.
Kata-kata bisa berdampak negatif bagi orang lain. Salah satunya karena orang yang mendengarkan mempunyai latar belakang yang berbeda dengan yang berbicara. Ada juga faktor perbedaan budaya. Misalnya penggunaan kata ‘si’ di depan nama seseorang.
Sebaliknya, memberikan kata-kata pujian juga harus hati-hati. Jika tak tepat waktu, misal sedang ada masalah, maka pujian bisa berakibat fatal. Begitu pun jika tak sesuai dengan kenyataan, pujian bisa dianggap sindiran atau ejekan. Ada pula pujian yang diprotes si terpuji, karena ia merasa dirinya tak pantas dipuji.
So, bagaimana dengan kita yang sudah terbiasa berinteraksi dengan orang lain lewat tulisan? Misalnya di blog, juga ‘celetukan’ lewat status di Facebook atau Twitter. Ya, tentu saja kehati-hatian harus selalu dipakai. Apalagi sebuah tulisan tidak bisa menampilkan tingkah laku non-verbal seperti intonasi, gerak-gerik tubuh, mimik wajah dan penekanan kata. Pemakaian tanda baca dan emoticon bisa digunakan untuk membantu proses komunikasi secara tertulis.
Well…
Berkata-kata sebagaimanapun simpelnya harus selalu berhati-hati, karena bisa menyakiti orang lain. Dan itu berbahaya. Mengancam integrasi, lebaynya. Apa yang kita ucapkan memang harus sesuai dengan situasi dan kondisi, supaya tidak terjadi friksi dengan orang lain. Apa yang menurut kita biasa, belum tentu diinterpretasikan sama oleh orang lain. Apalagi mereka yang tidak mengerti maksud dan arti kata-kata yang kita ucapkan.Tapi kalau terlalu hati-hati, malah jadi takut bicara.
So, penggunaan media sosial seperti blog, Facebook, Twitter, bagi saya merupakan media yang bagus untuk terus belajar mengasah kemampuan menulis. Fasilitas komen dan reply bisa dijadikan tolok ukur apakah pesan kita diterima dengan baik atau tidak.
]]>Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah merasakan hal demikian. Meski pada akhirnya saya menyadari, membuat suami dan anak-anak saya bahagia tinggal di rumah dan semangat bekerja/ belajar di sekolah adalah sebuah prestasi dan prestise tersendiri bagi saya. Terlebih setelah mengetahui bahwa Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.”
Media massa memang memegang peran penting dalam memengaruhi cara berpikir masyarakat. Banyak wanita yang mendambakan kehidupan seperti pribadi-pribadi yang mereka kenal melalui pemberitaan (baca: selebritas). Tetapi apakah wanita-wanita ‘sukses’ ini tidak mempunyai masalah? Bisa jadi ada saat-saat wanita-wanita tersebut begitu merindukan kehidupan tenteram, bersama suami dan anak-anaknya. Tanpa mereka diganggu oleh deringan telepon, serta jadwal pekerjaan.
Cukup banyak wanita yang bekerja di luar rumah, yang sebenarnya tidak seharusnya mereka bekerja. Menurut La Rose, dalam bukunya Pribadi Mempesona, tidak sepantasnya wanita bekerja dengan alasan:
1. Bekerja untuk hidup mewah.
Apabila wanita mau berterus terang, kebanyakan dari mereka bekerja karena terdorong oleh keinginan membeli barang-barang konsumsi yang tidak dapat dibeli dari penghasilan suami. Mereka bekerja utuk memenuhi keinginan untuk dapat mengecap kemewahan. Bisa jadi juga memang ada lelaki yang mendorong istrinya bekerja, karena cukup banyak lelaki yang mendambakan hidup mewah.
2. Rasa jenuh.
Sebenarnya untuk mengatasi kebosanan bukan dengan jalan bekerja di luar rumah. Malahan kemungkinan besar sekali, bekerja merupakan awal dari satu masalah yang lebih rumit lagi.
3. Ingin mencari pengalaman yang mengasyikkan di luar rumah, berada diantara orang-orang lain.
4. Ingin meringankan beban suami.
Namun yang terjadi seringkali beban suami justru menjadi lebih berat tatkala wanita bekerja di luar rumah. Apabila memang mau membantu suami dalam mengatasi masalah keuangan, mungkin jalan yang paling baik adalah mengurangi segala keinginan yang konsumptif itu.
5. Iseng.
Di Amerika para pekerja sosial mengadakan penelitian mendalam tentang anak-anak yang ibu mereka bekerja. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan, “The mother’s presence in the home during the day means everything to the child’s feeling of well being and security, even though she may be busy with home making tasks.” (Bahwasannya kehadiran ibu dalam rumah seharian mempunyai arti yang besar sekali untuk perasaan keamanan dan kesejahteraan anak. Walau sang Ibu pada saat bersamaan sibuk juga dengan pekerjaan rumahtangganya.”
“The trend for the mother to be out of the home is a pattern of living which has extended for thirty years in America, since the emergency of World War II took millions of women into factories. It has been during this time that we have developed some of our threatening social problems, marriage problems, divorce, violence in the streets and on campus, drug abuse, rebollion against social customs and moral standard. Many of these problems can be traced to homes of working mothers. The children fail to developed properly, or developed into mental cases or fail to find purposes or happiness from life. They turn from the ways the parents and seek new ways.”
Sungguh mengerikan. Rupanya penyalahgunaan obat-obat ataupun ganja dan morfin, konon banyak sekali bersumber dari keluarga dimana ibu tidak mempunyai waktu untuk anak-anaknya. Ini hasil penelitian di Amerika. Bagaimana dengan keadaan kita disini?
Menurut saya sih, ibu yang tidak punya waktu untuk anak-anaknya bukan hanya wanita yang punya karier di luar rumah. Ibu-ibu rumah tangga juga bisa menelantarkan anak-anaknya dengan sibuk ngegosip di tetangga, nongkrong terus-terusan di depan TV nonton shitnetron, atau mungkin juga keasyikan ngeblog
Mudah-mudahan sih saya ngga gitu…
Kemudian Dr.David V.Haws, Ketua RSJ di Phoenix mengatakan, “Mother must be returned to the home. The standard of living is a fictious thing. It is a woman’s premodial function to stay home and raise children. She should not join the hunt with men. A man, too feels less of a man when his wife works. If you don’t leave a family of decent kids behind, you have left nothing. Basic to the solution of adolescent problems of any generation is an intact home.”
Ini bukan mau menentang wanita yang bekerja di luar rumah lho. Hanya sekedar bahan perenungan bersama… Toh banyak wanita karier punya anak-anak yang berprestasi dan berakhlak baik. Tak sedikit pula ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah tapi punya anak ‘berantakan’. Ya fisik, ya mental…
]]>Kendaraan kami diparkir di basement BIP (Bandung Indah Plaza) demi mengefisienkan waktu yang kala itu sudah pukul tujuh malam. Kalau terlalu banyak wara-wiri kasihan anak-anak yang pasti sudah mulai mengantuk. Rombongan (ciee rombongan!) dibagi dua. Suami pergi ke BEC dengan anak sulung dan tengah. Saya dan si bungsu belanja keperluan dapur di Hypermart.
Saya yang amat sangat jarang pergi ke keramaian di pusat kota Bandung, ketika mulai menjejakkan kaki di BIP menjadi terbengong-bengong sendiri. Duhh, begini kali ya, ibu-ibu kampung yang mainannya paling jauh juga Carrefour Kiaracondong… Saya merasa jadi orang katro sekaligus jadi orang paling beradab. Hayahh, lebay deh. Tapi betul! Saya bingung sendiri melihat cara berpakaian wanita-wanita kota. Juga gaya berpacaran mereka. Meski seringkali melihat di televisi, banyak sekali makhluk bening dan aneka macam ‘adegan heboh’. Tapi menyaksikan secara ‘live’ membuat saya tulalit.![]()
Sekian dulu dan terima kasih.
(Hihhiii… maap, lagi buru-buru ngejar dedleeeeeen!)![]()