<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Beladjar Bitjara</title>
	<atom:link href="http://ratnarespati.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ratnarespati.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Thu, 05 Aug 2010 04:33:38 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Agar Kata Tak Menjadi Petaka</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2010/08/05/agar-kata-tak-menjadi-petaka/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2010/08/05/agar-kata-tak-menjadi-petaka/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 20:05:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=1559</guid>
		<description><![CDATA[Kata adalah simbol yang dibuat manusia, sehingga sebetulnya memiliki arti yang tidak jelas (menurut Dr. Jeannette Murad, staf pengajar Fak. Psikologi UI).
Memang, kata merupakan bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kita akan lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal. Misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Dari cara memberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kata adalah simbol yang dibuat manusia, sehingga sebetulnya memiliki arti yang tidak jelas (menurut Dr. Jeannette Murad, staf pengajar Fak. Psikologi UI).</p>
<p style="text-align: justify;">Memang, kata merupakan bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kita akan lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal. Misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Dari cara memberi penekanan kata, juga bisa memberi makna yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Contoh, kata “dia cantik” adalah ucapan tulus, tapi jika diucapkan “Dia? Cantik?” jelas mengandung pelecehan. Jadi, tergantung bagaimana mengucapkannya. Kata-kata bisa sama, tapi arti atau pemaknaannya tergantung pada yang menyertainya, termasuk mimik atau bahasa tubuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Mempersepsikan kata juga tergantung pada bagaimana relasi kita dengan seseorang. Relasi renggang berbeda dengan seandainya berteman baik. Sehingga, jika dikatakan “gembrot banget sih kamu”, penerimaannya akan berbeda. Pada orang yang tak begitu dikenal, akan terasa menyakitkan. Sebaliknya, jika diucapkan kepada seorang sahabat, bisa diterima sebagai feedback positif, bahwa berat badan kita bertambah, sehingga butuh diet khusus.</p>
<p><span id="more-1559"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kata-kata bisa berdampak negatif bagi orang lain. Salah satunya karena orang yang mendengarkan mempunyai latar belakang yang berbeda dengan yang berbicara. Ada juga faktor perbedaan budaya. Misalnya penggunaan kata &#8217;si&#8217; di depan nama seseorang.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebaliknya, memberikan kata-kata pujian juga harus hati-hati. Jika tak tepat waktu, misal sedang ada masalah, maka pujian bisa berakibat fatal. Begitu pun jika tak sesuai dengan kenyataan, pujian bisa dianggap sindiran atau ejekan. Ada pula pujian yang diprotes si terpuji, karena ia merasa dirinya tak pantas dipuji.</p>
<p style="text-align: justify;">So, bagaimana dengan kita yang sudah terbiasa berinteraksi dengan orang lain lewat tulisan? Misalnya di blog, juga &#8216;celetukan&#8217; lewat status di Facebook atau Twitter. Ya, tentu saja kehati-hatian harus selalu dipakai. Apalagi sebuah tulisan tidak bisa menampilkan tingkah laku non-verbal seperti intonasi, gerak-gerik tubuh, mimik wajah dan penekanan kata. Pemakaian tanda baca dan emoticon bisa digunakan untuk membantu proses komunikasi secara tertulis.</p>
<p style="text-align: justify;">Well&#8230;<br />
Berkata-kata sebagaimanapun simpelnya harus selalu berhati-hati, karena bisa menyakiti orang lain. Dan itu berbahaya. Mengancam integrasi, <em>lebaynya</em>. Apa yang kita ucapkan memang harus sesuai dengan situasi dan kondisi, supaya tidak terjadi friksi dengan orang lain. Apa yang menurut kita biasa, belum tentu diinterpretasikan sama oleh orang lain. Apalagi mereka yang tidak mengerti maksud dan arti kata-kata yang kita ucapkan.Tapi kalau terlalu hati-hati, malah jadi takut bicara.
</p>
<p style="text-align: justify;">So, penggunaan media sosial seperti blog, Facebook, Twitter, bagi saya merupakan media yang bagus untuk terus belajar mengasah kemampuan menulis. Fasilitas komen dan reply bisa dijadikan tolok ukur apakah pesan kita diterima dengan baik atau tidak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2010/08/05/agar-kata-tak-menjadi-petaka/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wanita Bekerja di Luar Rumah?</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2010/05/12/wanita-bekerja-di-luar-rumah/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2010/05/12/wanita-bekerja-di-luar-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 21:54:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<category><![CDATA[ibu rumah tangga]]></category>

		<category><![CDATA[wanita bekerja]]></category>

		<category><![CDATA[wanita karir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=1552</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai wanita yang mempunyai kesibukan di luar rumah, yang mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga tidak heran, cukup banyak wanita yang akhirnya merasa tak percaya diri, jenuh, dan merasa terjerat karena kehidupannya semata-mata adalah istri dan ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.
Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah merasakan hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai wanita yang mempunyai kesibukan di luar rumah, yang mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga tidak heran, cukup banyak wanita yang akhirnya merasa tak percaya diri, jenuh, dan merasa terjerat karena kehidupannya semata-mata adalah istri dan ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah merasakan hal demikian. Meski pada akhirnya saya menyadari, membuat suami dan anak-anak saya bahagia tinggal di rumah dan semangat bekerja/ belajar di sekolah adalah sebuah prestasi dan prestise tersendiri bagi saya. Terlebih setelah mengetahui bahwa Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Media massa memang memegang peran penting dalam memengaruhi cara berpikir masyarakat. Banyak wanita yang mendambakan kehidupan seperti pribadi-pribadi yang mereka kenal melalui pemberitaan (baca: selebritas). Tetapi apakah wanita-wanita ‘sukses’ ini tidak mempunyai masalah? Bisa jadi ada saat-saat wanita-wanita tersebut begitu merindukan kehidupan tenteram, bersama suami dan anak-anaknya. Tanpa mereka diganggu oleh deringan telepon, serta jadwal pekerjaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Cukup banyak wanita yang bekerja di luar rumah, yang sebenarnya tidak seharusnya mereka bekerja. Menurut La Rose, dalam bukunya Pribadi Mempesona, tidak sepantasnya wanita bekerja dengan alasan:</p>
<p><span id="more-1552"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Bekerja untuk hidup mewah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Apabila wanita mau berterus terang, kebanyakan dari mereka bekerja karena terdorong oleh keinginan membeli barang-barang konsumsi yang tidak dapat dibeli dari penghasilan suami. Mereka bekerja utuk memenuhi keinginan untuk dapat mengecap kemewahan. Bisa jadi juga memang ada lelaki yang mendorong istrinya bekerja, karena cukup banyak lelaki yang mendambakan hidup mewah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Rasa jenuh.</strong><br />
Sebenarnya untuk mengatasi kebosanan bukan dengan jalan bekerja di luar rumah. Malahan kemungkinan besar sekali, bekerja merupakan awal dari satu masalah yang lebih rumit lagi.
</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Ingin mencari pengalaman yang mengasyikkan di luar rumah</strong>, berada diantara orang-orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Ingin meringankan beban suami.</strong><br />
Namun yang terjadi seringkali beban suami justru menjadi lebih berat tatkala wanita bekerja di luar rumah. Apabila memang mau membantu suami dalam mengatasi masalah keuangan, mungkin jalan yang paling baik adalah mengurangi segala keinginan yang konsumptif itu.
</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>5. Iseng</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Amerika para pekerja sosial mengadakan penelitian mendalam tentang anak-anak yang ibu mereka bekerja. Hasil dari penelitian tersebut mengatakan, <em>“The mother’s presence in the home during the day means everything to the child’s feeling of well being and security, even though she may be busy with home making tasks.”</em> (Bahwasannya kehadiran ibu dalam rumah seharian mempunyai arti yang besar sekali untuk perasaan keamanan dan kesejahteraan anak. Walau sang Ibu pada saat bersamaan sibuk juga dengan pekerjaan rumahtangganya.”</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“The trend for the mother to be out of the home is a pattern of living which has extended for thirty years in America, since the emergency of World War II took millions of women into factories. It has been during this time that we have developed some of our threatening social problems, marriage problems, divorce, violence in the streets and on campus, drug abuse, rebollion against social customs and moral standard. Many of these problems can be traced to homes of working mothers. The children fail to developed properly, or developed into mental cases or fail to find purposes or happiness from life. They turn from the ways the parents and seek new ways.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh mengerikan. Rupanya penyalahgunaan obat-obat ataupun ganja dan morfin, konon banyak sekali bersumber dari keluarga dimana ibu tidak mempunyai waktu untuk anak-anaknya. Ini hasil penelitian di Amerika. Bagaimana dengan keadaan kita disini?</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya sih, ibu yang tidak punya waktu untuk anak-anaknya bukan hanya wanita yang punya karier di luar rumah. Ibu-ibu rumah tangga juga bisa menelantarkan anak-anaknya dengan sibuk ngegosip di tetangga, nongkrong terus-terusan di depan TV nonton shitnetron, atau mungkin juga keasyikan ngeblog <img src='http://ratnarespati.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> Mudah-mudahan sih saya ngga gitu…</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian Dr.David V.Haws, Ketua RSJ di Phoenix mengatakan, <em>“Mother must be returned to the home. The standard of living is a fictious thing. It is a woman’s premodial function to stay home and raise children. She should not join the hunt with men. A man, too feels less of a man when his wife works. If you don’t leave a family of decent kids behind, you have left nothing. Basic to the solution of adolescent problems of any generation is an intact home.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ini bukan mau menentang wanita yang bekerja di luar rumah lho. Hanya sekedar bahan perenungan bersama… Toh banyak wanita karier punya anak-anak yang berprestasi dan berakhlak baik. Tak sedikit pula ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah tapi punya anak ‘berantakan’. Ya fisik, ya mental…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2010/05/12/wanita-bekerja-di-luar-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan-jalan ke Bandung Dayeuh</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/11/16/jalan-jalan-ke-bandung-dayeuh/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/11/16/jalan-jalan-ke-bandung-dayeuh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 14:17:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<category><![CDATA[Bandung]]></category>

		<category><![CDATA[Bandung Electronic Center]]></category>

		<category><![CDATA[Bandung Indah Plaza]]></category>

		<category><![CDATA[BEC]]></category>

		<category><![CDATA[BIP]]></category>

		<category><![CDATA[carrefour]]></category>

		<category><![CDATA[Hypermart]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=1340</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu malam kemarin, karena ada sesuatu yang harus dibeli di BEC (Bandung Electronic Center) kami sekeluarga &#8216;pergi ke Bandung&#8217;. Meski rumah kami terletak di kota Bandung juga, tapi karena Cileunyi sudah masuk wilayah Kabupaten Bandung dan terasa jauuuuuh sekali kalau mau ke Bandung Kota, maka kami kalau &#8216;turun gunung&#8217; selalu menyebutnya &#8216;mau ke Bandung&#8217;.
Kendaraan kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Sabtu malam kemarin, karena ada sesuatu yang harus dibeli di <em>BEC (Bandung Electronic Center)</em> kami sekeluarga &#8216;pergi ke Bandung&#8217;. Meski rumah kami terletak di kota Bandung juga, tapi karena Cileunyi sudah masuk wilayah Kabupaten Bandung dan terasa jauuuuuh sekali kalau mau ke Bandung Kota, maka kami kalau &#8216;turun gunung&#8217; selalu menyebutnya &#8216;mau ke Bandung&#8217;.<img onclick="grin(':lol:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_lol.gif" alt=":lol:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kendaraan kami diparkir di basement <em>BIP (Bandung Indah Plaza)</em> demi mengefisienkan waktu yang kala itu sudah pukul tujuh malam. Kalau terlalu banyak wara-wiri kasihan <a href="http://ratnarespati.com/my-sons">anak-anak</a> yang pasti sudah mulai mengantuk. Rombongan (ciee rombongan!) dibagi dua. Suami pergi ke BEC dengan anak sulung dan tengah. Saya dan si bungsu belanja keperluan dapur di Hypermart.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya yang amat sangat jarang pergi ke keramaian di pusat kota Bandung, ketika mulai menjejakkan kaki di BIP menjadi terbengong-bengong sendiri. Duhh, begini kali ya, ibu-ibu kampung yang mainannya paling jauh juga Carrefour Kiaracondong&#8230; Saya merasa jadi orang katro sekaligus jadi orang paling beradab. Hayahh, lebay deh. Tapi betul! Saya bingung sendiri melihat cara berpakaian wanita-wanita kota. Juga gaya berpacaran mereka. Meski seringkali melihat di televisi, banyak sekali makhluk bening dan aneka macam &#8216;adegan heboh&#8217;. Tapi menyaksikan secara &#8216;live&#8217; membuat saya tulalit.<img onclick="grin(':oops:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_redface.gif" alt=":oops:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sekian dulu dan terima kasih.<br />
(Hihhiii&#8230; maap, lagi buru-buru ngejar dedleeeeeen!)<img onclick="grin(':mrgreen:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/11/16/jalan-jalan-ke-bandung-dayeuh/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Paid Review: Pisau Bermata Y</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/11/06/paid-review-pisau-bermata-y/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/11/06/paid-review-pisau-bermata-y/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 18:04:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[bisnis online]]></category>

		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<category><![CDATA[you need to know]]></category>

		<category><![CDATA[advertiser]]></category>

		<category><![CDATA[backlink]]></category>

		<category><![CDATA[bahasa inggris]]></category>

		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[niche]]></category>

		<category><![CDATA[page rank]]></category>

		<category><![CDATA[pagerank]]></category>

		<category><![CDATA[paid review]]></category>

		<category><![CDATA[publisher]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=1312</guid>
		<description><![CDATA[Duh, judul apa sih ini?
Terus terang saya juga kebingungan. Memangnya ada pisau bermata Y? Mata Y juga apa&#8230; Ngarang dotkom bangeet!
Mau cerita nih. Beberapa menit lalu saya mendapat notifikasi baru dari sebuah broker paid review. Bahwa blog saya mendapatkan kesempatan untuk mereview sebuah website. Hoalah! Saya langsung tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Menghela nafas panjang, lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Duh, judul apa sih ini?<img onclick="grin(':roll:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_rolleyes.gif" alt=":roll:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Terus terang saya juga kebingungan. Memangnya ada pisau bermata Y? Mata Y juga apa&#8230; Ngarang dotkom bangeet!<img onclick="grin(':mrgreen:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Mau cerita nih. Beberapa menit lalu saya mendapat notifikasi baru dari sebuah broker paid review. Bahwa blog saya mendapatkan kesempatan untuk mereview sebuah website. Hoalah! Saya langsung tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. PR paid review yang kemarin tiba lewat email juga belum saya kerjakan, sudah datang lagi yang baru. Sebenarnya tugas itu bisa didelegasikan pada <a href="http://ask2write.blogspot.com" rel="nofollow">penulis konten</a>, yang kemampuan berbahasa Inggrisnya pasti jauh lebih baik dibanding saya. Namun saya sering ingin mengerjakan sendiri. Selain faktor kepuasan yang luar biasa saat tulisan saya di approve advertiser, juga menulis dalam bahasa Inggris secara signifikan bisa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya.</p>
<p><span id="more-1312"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Oh, iya. Kembali ke mata Y. (Saya mencoba mendeskripsikan. Mudah-mudahan Anda bisa catch the point ya&#8230;)</p>
<p style="text-align: justify;">Mata kesatu, mata paling depan.<br />
Paid review adalah kojo saya dalam menambang dollar di<a href="http://ratnarespati.com"> blog ini</a>. Hanya dengan menulis 2-3 paragraf saja, rata-rata 200-300 kata, sebuah tulisan paid review di blog ini dihargai antara $5-$40. Namun saya seringkali mereject penawaran dibawah $8. Saya tak mau mengobral link di blog saya begitu saja. Karena konsekuensi dengan banyak link yang keluar, akan menyebabkan pagerank blog ini turun. Semakin kecil pagerank sebuah blog, semakin kecil pula kemungkinan dapat job dari advertiser. Kalaupun ada, harganya pun recehan. Makanya saya lagi &#8216;berburu&#8217; pagerank sampai angka 5 saja. Biar sekali nulis job bisa dihargai sampai $100. Bayangkan jika seminggu sekali saja dapat job, dengan menulis sedikit saja langsung dapat bayaran mahal. Apalagi dengan pagerank tinggi, banyak sekali advertiser yang berminat direview. Untuk blog dengan pagerank 3 seperti milik saya ini, rata-rata dalam seminggu mendapat 4-5 job. Dulu pernah setiap hari ada, dalam sehari bisa sampai 3 job. Namun karena adanya krisis global, job paid review dari advertiser juga terkena imbasnya, menjadi menyusut jumlahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dua mata lainnya, sejajar di belakang.<br />
Seiring dengan revenue yang cukup menarik, ternyata ada konsekuensi yang harus dibayar. Sekilas sudah saya sebutkan tadi diatas, bahwa sebuah postingan paid review harus me-link website advertiser yang direviewnya.  Itu menyebabkan pagerank blog <em>publisher</em> menjadi turun. Untuk itu saya (publisher) harus berupaya agar link keluar tidak melebihi link yang mensupport blog ini. Caranya dengan mencari <em>backlink</em> untuk blog ini (insyaAllah kapan-kapan akan saya bahas mengenai backlink). Dan itu bukan pekerjaan mudah.
</p>
<p style="text-align: justify;">Sisi mata belakang lainnya adalah saya harus merelakan blog ini berpenampilan seperti &#8216;blog sampah&#8217;. Mungkin banyak yang sebal, ketika masuk ke home page blog ini banyak tulisan berbahasa Inggris yang isinya iklan. Nggak asyik banget! Apalagi saya menetapkan blog ini tidak memiliki <em>niche</em> khusus. Saya promosikan blog ini dalam kategori &#8216;general&#8217;, biar jobnya banyak. Makanya, postingan paid review di blog ini juga macam-macam. Kadang mereview mobil, kadang membahas makanan kucing, kadang mempromosikan bikini&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah paid review. Ada yang tertarik menjadi publisher juga? <img onclick="grin(':wink:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=":wink:" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/11/06/paid-review-pisau-bermata-y/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pacaran Aman (Re-post)</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/11/06/pacaran-aman-re-post/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/11/06/pacaran-aman-re-post/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 17:02:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<category><![CDATA[nostalgia]]></category>

		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<category><![CDATA[calon suami]]></category>

		<category><![CDATA[hamil pra nikah]]></category>

		<category><![CDATA[HP]]></category>

		<category><![CDATA[ko-ass]]></category>

		<category><![CDATA[menikah]]></category>

		<category><![CDATA[pacaran]]></category>

		<category><![CDATA[pacaran aman]]></category>

		<category><![CDATA[pager]]></category>

		<category><![CDATA[zina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=1310</guid>
		<description><![CDATA[(Pernah publish di blog jadul saya.)
Bagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.
Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em>(Pernah publish di <a href="http://mominaction.wordpress.com">blog jadul </a>saya.)</em></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.</p>
<p style="text-align: justify;">Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, sehingga bisa diambil keputusan tepat, diteruskan atau tidaknya program ini ke tahapan menikah.</p>
<p><span id="more-1310"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini saya lihat banyak yang melakukan pacaran tidak aman (PTA). Tidak aman disini berarti menyerempet bahaya, mengancam jiwa (free sex yang akhirnya terkena HIV/AIDS), mengoyak kehormatan keluarga (hamil pranikah), dan meraup banyak dosa (berzina dalam arti seluas-luasnya).</p>
<p style="text-align: justify;">Jika dilihat dari niat pacaran versi saya, kemungkinan PTA akan jauh lebih terhindarkan. Sebab niatnya hanya memang untuk lebih mengenal calon pasangan. Tidak lebih. Tapi apalah artinya niat, kalau kesempatan untuk melakukan PTA selalu ada. Ingat kata Bang Napi: Kejahatan tidak muncul hanya karena ada niat, tetapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!<img onclick="grin(':mrgreen:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></p>
<p style="text-align: justify;">O ya, barangkali sedikit pengalaman saya di masa lalu bisa dijadikan referensi sebagai &#8220;pacaran aman&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang laki-laki yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya (senior yang cuek, yang sepertinya tidak pernah memerhatikan saya) tiba-tiba melamar saya untuk menjadi istrinya. Super kaget? Pasti! Dua hari ngga bisa tidur.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin karena saat itu saya lagi ‘harot-harotnya’ baca buku-buku religius dan ikut pengajian sana-sini, saya ngga mikir lagi harus menunda untuk menikah. Apalagi kriteria saya untuk calon suami (mampu memimpin saya <span style="text-decoration: line-through;">yang keras kepala </span>dan bebas rokok) memang terpenuhi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari pertama &#8216;pacaran&#8217;, ketemu di rumah teman. Lagi rame-rame, acara makan-makan. Di ruang yang masih tetap terlihat publik, kami tukar cerita mengenai keluarga masing-masing. Lalu langsung tentang rencana pernikahan. (ehm…ehm…saya ngetiknya sambil senyum-senyum nih…nostalgila…hehe…)<br />
Seterusnya jarang sekali ketemu. Dia sibuk kerja dan ko-ass, saya kuliah. Tapi komunikasi tiap hari tetap lancar, meski saat itu kami hanya pakai pager. Maklum HP masih langka dan masih merupakan barang mewah. Kalau telponan, dia jarang di rumah. Sedangan di kost saya tidak pasang telpon.
</p>
<p style="text-align: justify;">Karena pakai pager dirasa kurang efektif dan efisien, akhirnya kami ngobrol pakai media buku tulis. Kami menulis apa saja. Kadang-kadang pakai ilustrasi gambar segala. Pas kebetulan bisa ketemu, kami tukeran buku. Terus ngisi lagi di buku itu. Seperti surat-suratan gitu. Tapi lebih praktis dan terdokumentasi dengan rapi. Begitu seterusnya, tiap kami ketemu, langsung tuker-tukeran buku. Sampai sekarang buku-buku itu masih saya simpan. Lucu kalau dibaca-baca lagi. Kebanyakan isinya sih serius ngebahas soal nikah. Berantemnya juga ada. Biasanya karena calon suami saya itu lupa ngisi buku. Atau sekali ngisi cuma beberapa baris. Dia juga tidak pernah menulis kata-kata yang bikin wanita ‘klepek-klepek’ alias romantis. Kan sebel, saya melulu yang nulis panjang-panjang, pengen ini pengen itu…, kesannya malah saya yang heboh sendiri (halah, jadi curcol!)</p>
<p style="text-align: justify;">Setahun kami pacaran surat-suratan di buku. Akhirnya sukses juga saya menikah tanpa sebelumnya ujung rambut sampai kaki pernah tercolek sedikitpun. Bangga dong… <img src='http://ratnarespati.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/11/06/pacaran-aman-re-post/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Hah, Dodol?</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/10/31/hah-dodol/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/10/31/hah-dodol/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 23:55:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<category><![CDATA[dodol]]></category>

		<category><![CDATA[wajik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=1290</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu lalu -pas panas lagi mentrang-mentring- saya ngajak dua anak terkecil saya ikut menjemur pakaian di lantai atas rumah. Ngaku deh, pas si bontot tidur pagi, yang seharusnya saya buru-buru menjemur pakaian, saya malah asik nongkrongin berita online, blog dan kaskus. Jadilah pas si bontot bangun, matahari udah naik ke atas ubun-ubun. Acara menjemur? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Beberapa waktu lalu -pas panas lagi mentrang-mentring- saya ngajak dua anak terkecil saya ikut menjemur pakaian di lantai atas rumah. Ngaku deh, pas si bontot tidur pagi, yang seharusnya saya buru-buru menjemur pakaian, saya malah asik <em>nongkrongin </em>berita online, blog dan kaskus<img onclick="grin(':oops:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_redface.gif" alt=":oops:" />. Jadilah pas si bontot bangun, matahari udah naik ke atas ubun-ubun. Acara menjemur? Ya harus segera dilaksanakan dong. Bisi keburu expired panasnya. So, mau gak mau saya ajak anak-anak &#8216;bekerja&#8217; di bawah terik mentari. (Please guys, di loteng masih ada tempat anak-anak berteduh kok&#8230;)</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah kelar dengan acara menjemur yang dipersuperquick asalcantol, saya langsung mengajak anak-anak untuk langsung turun ke lantai GF. (Emangnya di mol??) Tapi duo jagoan tetep <em>habennagen</em> sambil ngoprek barang-barang &#8216;buangan&#8217; semacam pipa pralon bekas dan kuas gundul. Aneka gaya bujukan tak membuat mereka beranjak dari lantai UG. Sampai saat saya kecletot bilang, &#8220;Ayooo ah, kita pulang&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">My 2nd son, Ari 4,5 tahun, langsung nyeletuk, &#8220;Emang kita udah pulang, Dodddooooolll!&#8221; sambil mukanya dipasang <em>big grin</em>, senyum yang giginya gede-gede itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Omaigat&#8230; Doddooooolll?? Haqqul yakin, saya hanya ngajarin anak-anak kalau dodol itu temennya wajik, kue basah yang giung itu. Yang manisnya agak kelewatan itu. Yang apalagi kalo makannya sambil liatin sayah&#8230; Ay, ay&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">OK, temans. Simpen dulu asal muasal anak saya dapet pokeb dodol. Kira-kira menurut Anda kata &#8216;dodol&#8217;yang dipakai anak saya tadi termasuk kata-kata kasar atau bukan ya? Atau sekedar lucu-lucuan, yang (bisa saja) menambah keakraban orangtua-anak? Atau perlu diberantas karena gak pantas diucapkan pada orangtua? Yang pasti saya tadi berhasil ngajak anak-anak turun berkat pake gaya si Unyil: &#8220;Mari kita kemon!&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/10/31/hah-dodol/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jam Dua Belas Malam&#8230;</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/06/25/jam-dua-belas-malam.../</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/06/25/jam-dua-belas-malam.../#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 18:34:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<category><![CDATA[daily activity]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=767</guid>
		<description><![CDATA[Hampir setiap jarum jam pendek itu menunjuk langit-langit, aku sedang asyik bercengkerama dengan benda datar berdiagonal 16&#8243;. Brightness 45 dan contrast 38. Di kejauhan, petugas ronda memukul tiang telepon sebanyak dua belas kali dengan tepat.
Setiap 24 jam sekali, pada saat yang sama, aku selalu bersamanya. Menatap segala keindahan dunia yang terlukis di tubuhnya. Menikmati kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Hampir setiap jarum jam pendek itu menunjuk langit-langit, aku sedang asyik bercengkerama dengan benda datar berdiagonal 16&#8243;. Brightness 45 dan contrast 38. Di kejauhan, petugas ronda memukul tiang telepon sebanyak dua belas kali dengan tepat.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap 24 jam sekali, pada saat yang sama, aku selalu bersamanya. Menatap segala keindahan dunia yang terlukis di tubuhnya. Menikmati kata demi kata yang berbaris di setiap mili raganya. Ya, aku melihat seluas-luas dunia hanya dengan mengintip kotak kecilnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam ini, aku ingin sesuatu yang berbeda mengisi kebersamaanku dengannya. Aku tak hanya ingin mengambil, mengambil dan mengambil apa yang ada di dalam jendela ajaib ini. Aku juga ingin memberi. Ingin mempersembahkan titik gelora yang sering bermunculan di sudut-sudut peluhku. Peluh yang bening, yang keluar dari persemayamannya di dalam jiwaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga tulisan ini menjadi prolog kebersamaanku dengannya. Bahwa dia tidak akan bertepuk sebelah<span style="text-decoration: line-through;"> tangan </span>layar. Sebab layar hati dan asaku akan selalu menyertainya setiap jam dua belas malam.</p>
<p style="text-align: justify;">Insya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Wismilak pren!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/06/25/jam-dua-belas-malam.../feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Berkomunikasi Dengan Orang Mati</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/06/21/talk-with-a-dead-ones/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/06/21/talk-with-a-dead-ones/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 18:26:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<category><![CDATA[kematian]]></category>

		<category><![CDATA[metafisik]]></category>

		<category><![CDATA[Oprah Winfrey]]></category>

		<category><![CDATA[ramalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=751</guid>
		<description><![CDATA[Menonton Oprah Winfrey Show tadi pagi dengan topik mengenai cenayang, ramalan dan komunikasi dengan orang yang sudah mati bikin saya susah tidur. Dalam tayangan tadi, memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan/kepandaian untuk bisa melihat masa depan. Ini merupakan dasar yang harus dimiliki seorang paranormal untuk bisa berhubungan dengan orang yang sudah meninggal. 
Analoginya sama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Menonton Oprah Winfrey Show tadi pagi dengan topik mengenai cenayang, ramalan dan komunikasi dengan orang yang sudah mati bikin saya susah tidur. Dalam tayangan tadi, memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan/kepandaian untuk bisa melihat masa depan. Ini merupakan dasar yang harus dimiliki seorang paranormal untuk bisa berhubungan dengan orang yang sudah meninggal. </p>
<p>Analoginya sama seperti halnya dokter bedah, dia harus punya dasar dulu sebagai dokter umum. Syarat lain yang harus dimiliki adalah dia harus punya kepercayaan yang kuat terhadap hal gaib. Dijelaskan pula, bahwa mereka yang di alam sana adalah energi. Sama seperti kita yang ada di dunia ini adalah energi juga. Cuma beda frekuensi. Satu lagi yang membedakan, adalah kita punya tubuh/raga, sedangkan mereka sudah copot dari raganya (mati) dan sekarang hanya tinggal ruhnya saja. Jadi mereka susah untuk berkomunikasi dengan kita karena keterbatasan raga tersebut. So, paranormal itu yang bisa menjadi mediatornya. Paranormal bisa menangkap frekuensi mereka yang &#8216;rendah&#8217; dengan cara-cara khusus yang akhirnya bisa &#8216;merasakan&#8217; berkomunikasi dengan mereka.</p>
<p>Dari tayangan tadi, memang ada beberapa bukti kalau orang hidup bisa berkomunikasi dengan orang mati. Misalnya si paranormal bisa mengetahui hal-hal pribadi/rahasia yang ternyata hanya diketahui oleh penguji dan orang mati yang dihubungi.<span id="more-751"></span></p>
<p>Salah satu manfaat dari bisa berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal ini adalah bisa mengungkap suatu kejahatan yang sulit terpecahkan. Kalau pelaku atau motif tidak ketemu, tanyai saja si korban pembunuhan, begitu simpelnya.</p>
<p>Oya, kebetulan suami saya juga nonton acaranya. Jadi pas mau tidur tadi saya bilang kalo salah satu dari kita meninggal duluan, asyik, kita masih bisa ngobrol&#8230; Terus saya bilang, kalo Papa duluan kesana tolong kasih bocoran disana gimana keadaannya. Jadi biar kita yang di dunia tau banget harus gimana. Soalnya sekarang susah nentuin mana yang harus diikuti. Banyak ajaran yang mengklaim diri &#8220;The Way To Heaven&#8221;.Yang satu nama aja bisa beribu-ribu versi. Jadi inget berita yang marak di TV belakangan ini jadinya. Tentang aliran sesat. Itu juga pasti mengklaim ajarannya benar. Terus saya juga bertanya, kenapa paranormal tidak mengobrol dengan para nabi? Bertanya tentang ajaran/kisah Nabi yang sebenarnya itu seperti apa. Jadi biar bisa disampaikan kepada orang-orang jaman sekarang, biar tidak berantem terus,sama-sama keras kepala saling mempertahankan pendapatnya tentang mempersepsikan agama. Terus biar kita tahu apa yang harus dilakukan di dunia sebenarnya apa. Ibadah yang seperti apa. Jihad yang kayak apa. </p>
<p>Memang sampai saat ini saya masih mencari cara untuk menujuNya. Cara yang saya yakin suatu hari pasti ketemu. Saya ingin mengabdi padaNya dengan sesempurnanya keyakinan saya. Bukan atas adat istiadat/ kebiasaan lingkungan saya ataupun doktrin-doktrin. Tapi berdasarkan ilmu. Akal yang saya pergunakan. Sebab Allah pun berfirman dalam AlQur&#8217;an bahwa Dia murka terhadap orang yang tidak mempergunakan akalnya. Saat ini, yang baru bisa saya lakukan adalah berusaha tidak merugikan siapapun. Itu saja dulu.<br />
Eeh, jadi kemana-mana. Tapi, udah ah&#8230; <em>A time to sleep</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/06/21/talk-with-a-dead-ones/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton Kolong Jembatan</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/06/21/nonton-kolong-jembatan/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/06/21/nonton-kolong-jembatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Jun 2009 18:21:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<category><![CDATA[bercocok tanam]]></category>

		<category><![CDATA[kali ciliwung]]></category>

		<category><![CDATA[kolong jembatan]]></category>

		<category><![CDATA[sayuran]]></category>

		<category><![CDATA[trans TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=749</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin berbagi satu tayangan TV yang susah saya lupakan. Kemarin, di Trans TV. Jam dan judul acaranya lupa.
Seorang ibu bertubuh gembrot dan berpakaian kutung yang lusuh. Duduk beralaskan beton kotor di bawah kolong jembatan Kali Ciliwung, Jakarta. Beton tempat ia duduk juga merupakan rumah tempat ia dan ‘tetangga-tetangganya’ hidup. Tidur, makan dan beranak-pinak.
Sambil bercakap-cakap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya ingin berbagi satu tayangan TV yang susah saya lupakan. Kemarin, di Trans TV. Jam dan judul acaranya lupa.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang ibu bertubuh gembrot dan berpakaian kutung yang lusuh. Duduk beralaskan beton kotor di bawah kolong jembatan Kali Ciliwung, Jakarta. Beton tempat ia duduk juga merupakan rumah tempat ia dan ‘tetangga-tetangganya’ hidup. Tidur, makan dan beranak-pinak.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil bercakap-cakap santai dengan tetangga, ia memegang jaring berdiameter sekira 30-40 cm dengan pegangan panjang. Jaring itu dipergunakan untuk mengambil barang-barang yang hanyut di kali.<span id="more-749"></span><br />
Diantara barang-barang yang tersangkut di jaringnya ada yang bisa ia jual. Seperti botol-botol plastik, kaleng-kaleng bekas, dan kresek. Ada juga yang dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Alat-alat rumah tangga yang hanyut seperti baskom plastik, sendok plastik, bahkan kasur.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun yang membuat saya terhenyak, si ibu juga menjaring sayuran. Bukan untuk pakan ternak. Tapi untuk dimasak dan dimakan bersama-sama para tetangga!<br />
Ya Allah, di air sekotor itu? Hiii…
</p>
<p style="text-align: justify;">Si Ibu yang gigi-gigi serinya sudah terkena karies semua itu hanya tertawa, “Kami sudah biasa begini. Mungkin kalau orang lain pada ngga berani…(makan sayuran hanyut)”</p>
<p style="text-align: justify;">Dari sekian lama menjaring, hari itu si ibu berhasil mendapatkan satu buah kentang, satu tomat dan seikat daun sawi hijau yang sudah layu. Dimasak, disatukan dalam satu wajan. Sayur apa itu ya? Tapi yang pasti si ibu dan para tetangga memakannya dengan lahap dan penuh ceria…</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari kemiskinan yang menjerat mereka. Kenapa tak terpikirkan mencari makanan yang lebih manusiawi ya? Misalnya dengan bercocok tanam. Dilahan yang terbataspun (termasuk kolong jembatan) sayuran dan bumbu dapur bisa ditanam. Seperti cabe, tomat, kunyit, jahe, lengkuas, bawang, kangkung, labu siam, toge…</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau lahannya agak luas, bisa makan gratis tiap hari tuh. Itu yang dialami orangtua saya di Tasikmalaya. Berdalih olahraga, ayah-ibu saya bercocoktanam dan memelihara ikan di depan, samping dan belakang rumah. Ayah tak segan-segan mencangkul atau turun ke kolam ikan dan sawah pinggir rumah. Ibu juga menanam aneka bumbu dapur dan buah-buahan. Sesekali saja mempekerjakan orang untuk bersih-bersih rumput.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan bercocok tanam seperti itu, sangat membantu sekali bagi pensiunan seperti ayah saya. Beras, bumbu, sayuran (genjer, kangkung), lalapan, buah-buahan (pisang, kelapa, manggis, markisa, pepaya, mangga,manggis,jambu,kersen), umbi-umbian (singkong, ubi, kacang), ikan, belut… *hehe,maaf jadi terkenang kampung halaman soalnya* semua tinggal petik,gali dan tangkap. Paling ke warung kalau mau beli garam, telur, tahu atau tempe saja. Hemat sekali. Jadi uang pensiun bisa dipakai buat traktir cucu-cucu makan es krim.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarangpun saya coba menanam ‘tanaman dapur’ di halaman depan rumah (ngga punya halaman belakang sih). Lumayan, ngga harus dikit-dikit beli, dikit-dikit warung. Hari gini kan cabe rawit aja lima ratus perak cuma dapat se-emprit <img src='http://ratnarespati.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/06/21/nonton-kolong-jembatan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Toilet di Mal</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/04/02/toilet-di-mal/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/04/02/toilet-di-mal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 16:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Intermezzo]]></category>

		<category><![CDATA[healthy life]]></category>

		<category><![CDATA[eco washer]]></category>

		<category><![CDATA[hand sanitizer]]></category>

		<category><![CDATA[kloset jongkok]]></category>

		<category><![CDATA[mal]]></category>

		<category><![CDATA[rest room]]></category>

		<category><![CDATA[toilet]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=548</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang mengistilahkan toilet, rest room, WC, kamar kecil, bilik termenung, atau apalah namanya. Yang pasti tempat ini tempat favorit saya amat saya hindari jika sedang jalan-jalan di mal. Dipakai kalau pas lagi kebutuhan darurat saja, yang mau ngga mau harus sowan kesana.
Sebenarnya saya selalu malas jika harus melangkahkan kaki ke toilet umum, sekalipun di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada yang mengistilahkan toilet, rest room, WC, kamar kecil, bilik termenung, atau apalah namanya. Yang pasti tempat ini <span style="text-decoration: line-through;">tempat favorit saya</span> amat saya hindari jika sedang jalan-jalan di mal. Dipakai kalau pas lagi kebutuhan darurat saja, yang mau ngga mau harus sowan kesana.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya saya selalu malas jika harus melangkahkan kaki ke toilet umum, sekalipun di mal. Meski design toilet semewah apapun saya selalu was-was. Apalagi kalau pake toilet duduk, aduh&#8230;kebayang paha belakang saya harus bersentuhan dengan &#8216;bekas&#8217; orang. Mungkin bukan cuma &#8216;bekas&#8217; paha orang aja yang <span style="text-decoration: line-through;">borokan</span> pernah mejeng disitu. Bisa aja ada orang yang pernah jongkok disitu lengkap dengan alas kakinya yang kotor<img onclick="grin(':twisted:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_twisted.gif" alt=":twisted:" /> Huhu&#8230; So, di tas saya ngga pernah ketinggalan <em>hand sanitizer</em> (buat ditetesin di tempat duduk), tisu basah dan tisu kering buat ngelapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau boleh saran nih buat para pengelola mal atau pusat perbelanjaan lainnya, terutama mal-mal yang berada di kawasan non-elit, yang segmen konsumennya orang biasa-biasa aja&#8230;</p>
<p><span id="more-548"></span></p>
<p style="text-align: justify;">1. Gunakan <strong>kloset jongkok</strong> saja. Meski di pintu sudah diperingatkan: Dilarang Jongkok di Kloset Duduk, tetap aja banyak yang nekat jongkok. Entah alasan apa. Kan jadi jijay tuh bekas alas kaki mereka belepotan disitu<img onclick="grin(':evil:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_evil.gif" alt=":evil:" /></p>
<p style="text-align: justify;">2. Untuk pembilas, jangan pakai air yang langsung mancur dari kloset (Eco-washer) atau tissue. Sediakanlah gayung, atau selang shower. Orang Indonesia (termasuk nenek dan ibu saya) masih lebih menyukai dan terampil pakai cara-cara konvensional saja. Soalnya sudah berapa kali tuh saya nemu pintu toilet di mal basah kuyup gara-gara ada orang kekencengan bukan kran eco-washernya. Hihi&#8230;.kebayang paniknya. Atau kesembur malah&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">3. Optimalkan lagi kerja tim Cleaning Service. Becek sedikit, cepat pel. Pakai alat pel yang super absorbent itu ya. Biar user tidak kepleset-pleset atau jinjit-jinjit. Trus dinding-dindingnya juga jangan lupa disikat biar tak ada kotoran yang bikin licin, bikin bau n nggak sedap dipandang mata.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Sirkulasi udara tolong perhatikan. Kalau pengelola tidak bisa menyediakan pewangi ruangan, dengan selalu ada udara segar saja kita sudah merasa nyaman kok.</p>
<p style="text-align: justify;">Toilet memang kecil. Tapi penting <img onclick="grin(':wink:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif" alt=":wink:" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/04/02/toilet-di-mal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Memperpanjang Hosting Domain</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/03/22/memperpanjang-hosting-domain/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/03/22/memperpanjang-hosting-domain/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 17:22:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[blogging]]></category>

		<category><![CDATA[internet]]></category>

		<category><![CDATA[blog]]></category>

		<category><![CDATA[domain]]></category>

		<category><![CDATA[hosting]]></category>

		<category><![CDATA[paid review]]></category>

		<category><![CDATA[server]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=507</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin saya baru mengurus perpanjangan hosting blog ini. Padahal overdue tinggal hitungan hari. Dasar! Kebiasaan jelek nih, selalu saja nunggu-nunggu mepet. Seharusnya saya prepare 2 bulan sebelumnya. Mana ini pengalaman pertama perpanjangan hosting lagi. Masih tulalit, meski sebenarnya gampang-gampang aja&#8230;
Cuma saya bingung waktu disuruh milih mau hosting di server Indonesia atau tetep di USA. Mana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kemarin saya baru mengurus perpanjangan hosting <a href="http://ratnarespati.com">blog ini</a>. Padahal overdue tinggal hitungan hari. Dasar! Kebiasaan jelek nih, selalu saja nunggu-nunggu mepet. Seharusnya saya prepare 2 bulan sebelumnya. Mana ini pengalaman pertama perpanjangan hosting lagi. Masih tulalit, meski sebenarnya gampang-gampang aja&#8230;<img onclick="grin(':oops:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_redface.gif" alt=":oops:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Cuma saya bingung waktu disuruh milih mau hosting di server Indonesia atau tetep di USA. Mana jawabannya di suruh ASAP lagi. Alhasil dengan pengetahuan saya yang minim dan kebetulan temen-temen blogger senior yang pada melek IT saat itu lagi pada nggak OL. Saya akhirnya cuma bisa menghitung kancing <span id="more-516"></span>dan memilih hosting di Indonesia saja. Dengan pertimbangan pembaca blog saya yang 80% berasal dari Indonesia nggak perlu loading lama-lama sampai seluruh halaman kebuka semua.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan&#8230; ternyata apa yang terjadi sodare-sodare? Setelah blog ini sukses migrasi server. Hiih&#8230;sidebar-2 blog ini amburadul. Yang muncul malah tulisan-tulisan bahasa pehape yang bikin saya meriang&#8230;<img onclick="grin(':evil:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_evil.gif" alt=":evil:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Kebetulan saat itu salah satu <a href="http://angga.web.id">senior </a>saya lagi online. Lalu saya buzz, n walah&#8230; Saya langsung kaget pas bliaw nanya: &#8220;Emang paid reviewnya mau udahan?&#8221; Terus&#8230; &#8220;Ntar orang luar negri gak bisa baca blogmu&#8230; Kalau disimpan di Indonesia, orang luar gak bisa baca, error. Robot google juga kemungkinan mental. SEO-nya ntar ambles deh, postingan-postingan ke index nya bisa lama/ gak sama sekali, google kan server luar&#8230;bla-bla&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ya ampun&#8230; sebegitu parahkah?<img onclick="grin(':cry:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_cry.gif" alt=":cry:" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/03/22/memperpanjang-hosting-domain/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mandi 3 in 1</title>
		<link>http://ratnarespati.com/2009/03/18/mandi-3-in-1/</link>
		<comments>http://ratnarespati.com/2009/03/18/mandi-3-in-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 08:27:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratna</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Iseng]]></category>

		<category><![CDATA[3 in 1]]></category>

		<category><![CDATA[bath tub]]></category>

		<category><![CDATA[mandi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ratnarespati.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[3 in 1?
Maksudnya mandi sambil keramas, sauna dan luluran? Bukan&#8230; Ini mandi yang rutin dilakukan tiap hari Minggu di pagi hari, sebelum kami sekeluarga pergi ke luar rumah. 3 in 1 itu mandi tiga orang sekaligus dalam satu kamar mandi. Oops, tiga anak maksud saya.

Kalau hari-hari biasa, si sulung nggak bisa hadir dalam acara mandi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">3 in 1?<br />
Maksudnya mandi sambil keramas, sauna dan luluran? Bukan&#8230; Ini mandi yang rutin dilakukan tiap hari Minggu di pagi hari, sebelum kami sekeluarga pergi ke luar rumah. 3 in 1 itu mandi tiga orang sekaligus dalam satu kamar mandi. Oops, tiga anak maksud saya.
</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau hari-hari biasa, si sulung nggak bisa hadir dalam acara mandi massal ini. Soalnya harus mandi subuh-subuh, kan sekolah pagi. Jadi di hari biasa, cuma ada acara mandi 2 in 1 saja. Yang mandi si tengah dan si bungsu dalam satu ember mandi yang besar (hehe, belum punya bath-tub soalnya). Atau paling tidak mandi 2,5 in 1. <span id="more-497"></span>Setengahnya karena saya ikutan mandi setengah badan. Yup&#8230; sambil nunggu anak-anak yang mandinya nggak pernah mau sebentar,  saya pake waktunya buat luluran or simple meni-pedi <img onclick="grin(':cool:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif" alt=":cool:" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sore ini anak-anak juga lagi mandi 3 in 1 tuh. Gara-garanya si bontot yang kini umurnya udah 13 bulan lagi hobi main di depan rumah. Ngorek-ngorek tanah, main sapu, nyabutin tanaman, duduk lesehan di carport&#8230; pokoknya menyebalkan ibu-ibu yang melihatnya. Iya lah&#8230; tangannya kotor. N pasti selalu masuk ke mulutnya. Kakak-kakaknya juga suka mancing-mancing keluar pagar. Dorong-dorong mobil-mobilan sampai ngebuuuut. Bikin hati dag-dig-dug takut si bontot keserempet atau <em>kagele</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dibawa di dalam rumah? Mana mungkin! Rumah kami udah terlalu lelah untuk diberantaki. (Apa sayanya yag udah lelah beberes melulu? Hehe&#8230;) Paling diemnya kalo main komputer. Urusan baca buku? Maunya cuma malam hari pas mau tidur. So, akhirnya pake senjata pra-pamungkas: mandi 3 in 1 lagih!</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang mereka lagi jerit-jerit senang di kamar mandi. Semprot-semprotan air. Main bubble. Ibunya ngetik n fesbukan&#8230; (Ibu nggak tau diri!!!) Meski hati deg-degan takut anak-anak kepleset n kemasukan air&#8230; Udah ah. Mau ikutan nyebur. Mandi 3,5 in 1 aja, karena mau 4 in 1 saya nggak berani&#8230; <img onclick="grin(':mrgreen:');" src="../wp-includes/images/smilies/icon_mrgreen.gif" alt=":mrgreen:" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ratnarespati.com/2009/03/18/mandi-3-in-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
