Sahabat saya menelepon sambil menangis tersedu-sedu. Suaminya selingkuh dengan teman sekantornya.

Jadi ingat. Sekitar tujuh tahun lalu saya pernah baca opini seorang Bapak (yang juga seorang suami tentunya) di majalah Femina edisi tahun ‘80-an. Judulnya sama dengan judul tulisan ini.

Si Bapak berpendapat bahwa sifat dasar lelaki memang suka ‘bertualang’ dengan wanita lain selain istrinya. Entah itu dalam bentuk fantasi maupun selingkuh ‘beneran’. Ia mengatakan bahwa itu adalah ‘kenakalan’ biasa yang bisa reda dengan sendirinya.

Kata si Bapak lagi. Kaum istri tidak perlu gundah-gulana apalagi stress sampai setengah gila jika mendapati suaminya berselingkuh. Yang penting suami tetap sayang kepada keluarga. Tanggung jawab menafkahi lahir-batin. Tidak meninggalkan tugas dan kewajibannya sebagai kepala keluarga, suami dan ayah. Pokoknya tetap menomorsatukan keluarga. Lain halnya kalau ia sampai meninggalkan keluarga.

Soal selingkuh, itu mainan wajar bagi laki-laki. Dan suami juga akan menghargai istrinya yang mengerti akan salah satu ‘kebutuhan’ khas lelaki ini. Katanya.

Entahlah. Terlepas dari ‘opini sok rasional’ ala si Bapak, yang pasti saya akan 3C (Cemburu, Crying, Cak-mencak tak ye…) kalau suami saya ketahuan selingkuh. Bukan tidak mungkin malah berkembang jadi 4C (3C+ Cerai) Hiiiy, amit-amit jabang bayi…

Tuhan saja yang Maha Kuat dan Maha Segalanya paling marah kalau diduakan. Dosa paling besar kalau ada yang syirik kepadaNya. Qul huwallaahu ahad! Apalagi saya, manusia biasa yang ‘hanya’ seorang perempuan…