Kata adalah simbol yang dibuat manusia, sehingga sebetulnya memiliki arti yang tidak jelas (menurut Dr. Jeannette Murad, staf pengajar Fak. Psikologi UI).

Memang, kata merupakan bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kita akan lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal. Misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Dari cara memberi penekanan kata, juga bisa memberi makna yang lain.

Contoh, kata “dia cantik” adalah ucapan tulus, tapi jika diucapkan “Dia? Cantik?” jelas mengandung pelecehan. Jadi, tergantung bagaimana mengucapkannya. Kata-kata bisa sama, tapi arti atau pemaknaannya tergantung pada yang menyertainya, termasuk mimik atau bahasa tubuh.

Mempersepsikan kata juga tergantung pada bagaimana relasi kita dengan seseorang. Relasi renggang berbeda dengan seandainya berteman baik. Sehingga, jika dikatakan “gembrot banget sih kamu”, penerimaannya akan berbeda. Pada orang yang tak begitu dikenal, akan terasa menyakitkan. Sebaliknya, jika diucapkan kepada seorang sahabat, bisa diterima sebagai feedback positif, bahwa berat badan kita bertambah, sehingga butuh diet khusus.

Kata-kata bisa berdampak negatif bagi orang lain. Salah satunya karena orang yang mendengarkan mempunyai latar belakang yang berbeda dengan yang berbicara. Ada juga faktor perbedaan budaya. Misalnya penggunaan kata ‘si’ di depan nama seseorang.

Sebaliknya, memberikan kata-kata pujian juga harus hati-hati. Jika tak tepat waktu, misal sedang ada masalah, maka pujian bisa berakibat fatal. Begitu pun jika tak sesuai dengan kenyataan, pujian bisa dianggap sindiran atau ejekan. Ada pula pujian yang diprotes si terpuji, karena ia merasa dirinya tak pantas dipuji.

So, bagaimana dengan kita yang sudah terbiasa berinteraksi dengan orang lain lewat tulisan? Misalnya di blog, juga ‘celetukan’ lewat status di Facebook atau Twitter. Ya, tentu saja kehati-hatian harus selalu dipakai. Apalagi sebuah tulisan tidak bisa menampilkan tingkah laku non-verbal seperti intonasi, gerak-gerik tubuh, mimik wajah dan penekanan kata. Pemakaian tanda baca dan emoticon bisa digunakan untuk membantu proses komunikasi secara tertulis.

Well…
Berkata-kata sebagaimanapun simpelnya harus selalu berhati-hati, karena bisa menyakiti orang lain. Dan itu berbahaya. Mengancam integrasi, lebaynya. Apa yang kita ucapkan memang harus sesuai dengan situasi dan kondisi, supaya tidak terjadi friksi dengan orang lain. Apa yang menurut kita biasa, belum tentu diinterpretasikan sama oleh orang lain. Apalagi mereka yang tidak mengerti maksud dan arti kata-kata yang kita ucapkan.Tapi kalau terlalu hati-hati, malah jadi takut bicara.

So, penggunaan media sosial seperti blog, Facebook, Twitter, bagi saya merupakan media yang bagus untuk terus belajar mengasah kemampuan menulis. Fasilitas komen dan reply bisa dijadikan tolok ukur apakah pesan kita diterima dengan baik atau tidak.