Saat pudar rembulan menusuk malam, kuajak sarung belelku menyusuri sebuah tempat. Belantara maya.
Tiga kurcaciku yang sedang bermain riang di atas awan lelapnya, kuhadiahi kata sayang di sudut-sudut telinganya: “Ibu pergi dulu, Nak. Hati-hati kau tendang mimpi adikmu…”
Beres! Lengang… Aman terkendali.
Kuberlalu ringan. Awali petualangan sambil berdendang.
Suara klik dan klik menggiringku lebih jauh merambah pelosok rimba. Melenggang. Kangkung? Oh, tidak. Ia sudah aman di dalam lambungku!
Ta…rararira… Aku melompat, meloncat, berputar. Terkekeh, terisak dan tertawa lagi.
