Lebaran dan Baju Baru

Posted by Ratna in Uncategorized on 03-09-2010

Sore tadi, hati saya cukup dibikin nyelekit saat membaca berita tentang seorang guru honorer yang nekat mencuri pakaian di sebuah swalayan dengan alasan tidak mendapatkan THR untuk membeli baju lebaran. (Berita baca disini)

Spontan batin saya langsung nyeletuk, “Kenapa sih, ngotot banget pengen baju lebaran? Memangnya lebaran harus selalu pakai baju baru ya? Demi gaya aja sampai bela-belain mencuri.” Namun celotehan batin nyinyir saya langsung saya hentikan dengan beristighfar. Saya tak tahu konteks sebenarnya. Saya tak boleh mengumpat-umpat orang sembarangan.

Tentunya ada dorongan yang sangat kuat hingga seseorang berani berbuat hal yang bertentangan dengan hati nuraninya. Terlebih, pelaku adalah seorang guru di sebuah madrasah. Yang setidaknya nilai-nilai keagamaan sudah banyak mendominasi kesehariannya.

Oh, ya. Saya punya sebuah cerita terkait baju lebaran ini. Seorang teman, pada saat malam takbiran Idul Fitri beberapa tahun lalu bertengkar dengan ayahnya. Gara-gara ia dan suaminya tak membelikan baju lebaran buat anak-anaknya. Alasannya, teman saya menganggap baju lebaran bukanlah hal yang krusial. Apalagi pada saat itu, kondisi keuangan rumah tangganya sedang tidak baik. Namun ayah teman saya itu malah marah dan menyebut-nyebut kalau teman saya itu tidak memperhatikan anak. Bahkan membandingkan dengan tetangga yang keadaan ekonominya lebih memprihatinkan, mampu membelikan baju lebaran.

Teman saya merasa tersinggung dan menangis karena pernyataan ayahnya tersebut. Lalu terjadilah adu argumentasi yang sebenarnya kurang pantas dilakukan di tengah kumandang takbir. Hingga esoknya, pas lebaran tiba, suasana maaf-maafan masih terwarnai acara bete-betean.Teman saya bete karena masih sakit hati, ayahnya juga cemberut karena melihat cucunya kalah keren dengan cucu tetangga.

“Gara-gara baju lebaran gitu loooh… Kok gue dibilang nggak merhatiin anak? Justru dengan nggak ngebiasain beli baju lebaran itu bentuk perhatian gue sama anak. Biar anak gue nggak ketelen sama tradisi kampungan itu. Biar anak gue nggak cuma taunya lebaran itu ajang petantang petenteng mamerin diri. Huuu!” kata teman saya sambil terisak saat dia menceritakan pertengkaran dengan ayahnya.

Ada kisah lain, sodara-sodara. Setiap lebaran, dulu keluarga besar saya selalu mengadakan acara halal bil halal. Pada suatu hari, saya dan ayah saya bertemu dengan saudara yang pada saat acara halal bi halal tidak hadir. Tentu kami bertanya dong, mengapa ia tidak datang. Jawabannya cukup mengagetkan, “Malu ah, belum punya mobil….”Dan ia mengatakannya dengan serius.

Satu lagi. Beberapa hari lalu saya membaca status seorang teman di Facebook. Ia terlihat stress karena tidak punya uang untuk dibagi-bagi pada saudara-saudaranya. Duh. Padahal saya tahu saudara-saudaranya orang berpunya semua.

Yah begitulah. Pada orang-orang tertentu, stigma “lebaran harus keren” melekat begitu erat. Sampai-sampai demi sebuah penampilan, orang sampai tega menekan anaknya yang tak berpunya untuk beli baju lebaran. Orang sampai mengabaikan silaturahmi dengan keluarga besar karena malu belum punya mobil. Orang sampai menyiksa diri dengan stress gara-gara malu, takut ketahuan nggak punya uang buat dibagi-bagi.

Lagi-lagi materi. Lagi-lagi gengsi. Lagi-lagi ketakutan menjadi inferior kalau tidak gaya.

Mungkin motivasi ini pula yang mendorong ibu guru honorer ini mencuri baju.

Wallahu’alam.

Agar Kata Tak Menjadi Petaka

Posted by Ratna in renungan on 05-08-2010

Kata adalah simbol yang dibuat manusia, sehingga sebetulnya memiliki arti yang tidak jelas (menurut Dr. Jeannette Murad, staf pengajar Fak. Psikologi UI).

Memang, kata merupakan bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kita akan lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal. Misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Dari cara memberi penekanan kata, juga bisa memberi makna yang lain.

Contoh, kata “dia cantik” adalah ucapan tulus, tapi jika diucapkan “Dia? Cantik?” jelas mengandung pelecehan. Jadi, tergantung bagaimana mengucapkannya. Kata-kata bisa sama, tapi arti atau pemaknaannya tergantung pada yang menyertainya, termasuk mimik atau bahasa tubuh.

Mempersepsikan kata juga tergantung pada bagaimana relasi kita dengan seseorang. Relasi renggang berbeda dengan seandainya berteman baik. Sehingga, jika dikatakan “gembrot banget sih kamu”, penerimaannya akan berbeda. Pada orang yang tak begitu dikenal, akan terasa menyakitkan. Sebaliknya, jika diucapkan kepada seorang sahabat, bisa diterima sebagai feedback positif, bahwa berat badan kita bertambah, sehingga butuh diet khusus.

Read the rest of this entry »

Wanita Bekerja di Luar Rumah?

Posted by Ratna in renungan on 12-05-2010

Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai wanita yang mempunyai kesibukan di luar rumah, yang mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga tidak heran, cukup banyak wanita yang akhirnya merasa tak percaya diri, jenuh, dan merasa terjerat karena kehidupannya semata-mata adalah istri dan ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.

Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah merasakan hal demikian. Meski pada akhirnya saya menyadari, membuat suami dan anak-anak saya bahagia tinggal di rumah dan semangat bekerja/ belajar di sekolah adalah sebuah prestasi dan prestise tersendiri bagi saya. Terlebih setelah mengetahui bahwa Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.”

Media massa memang memegang peran penting dalam memengaruhi cara berpikir masyarakat. Banyak wanita yang mendambakan kehidupan seperti pribadi-pribadi yang mereka kenal melalui pemberitaan (baca: selebritas). Tetapi apakah wanita-wanita ‘sukses’ ini tidak mempunyai masalah? Bisa jadi ada saat-saat wanita-wanita tersebut begitu merindukan kehidupan tenteram, bersama suami dan anak-anaknya. Tanpa mereka diganggu oleh deringan telepon, serta jadwal pekerjaan.

Cukup banyak wanita yang bekerja di luar rumah, yang sebenarnya tidak seharusnya mereka bekerja. Menurut La Rose, dalam bukunya Pribadi Mempesona, tidak sepantasnya wanita bekerja dengan alasan:

Read the rest of this entry »