(Pernah publish di blog jadul saya.)

Bagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.

Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, sehingga bisa diambil keputusan tepat, diteruskan atau tidaknya program ini ke tahapan menikah.

Saat ini saya lihat banyak yang melakukan pacaran tidak aman (PTA). Tidak aman disini berarti menyerempet bahaya, mengancam jiwa (free sex yang akhirnya terkena HIV/AIDS), mengoyak kehormatan keluarga (hamil pranikah), dan meraup banyak dosa (berzina dalam arti seluas-luasnya).

Jika dilihat dari niat pacaran versi saya, kemungkinan PTA akan jauh lebih terhindarkan. Sebab niatnya hanya memang untuk lebih mengenal calon pasangan. Tidak lebih. Tapi apalah artinya niat, kalau kesempatan untuk melakukan PTA selalu ada. Ingat kata Bang Napi: Kejahatan tidak muncul hanya karena ada niat, tetapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!:mrgreen:

O ya, barangkali sedikit pengalaman saya di masa lalu bisa dijadikan referensi sebagai “pacaran aman”.

Seorang laki-laki yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya (senior yang cuek, yang sepertinya tidak pernah memerhatikan saya) tiba-tiba melamar saya untuk menjadi istrinya. Super kaget? Pasti! Dua hari ngga bisa tidur.

Mungkin karena saat itu saya lagi ‘harot-harotnya’ baca buku-buku religius dan ikut pengajian sana-sini, saya ngga mikir lagi harus menunda untuk menikah. Apalagi kriteria saya untuk calon suami (mampu memimpin saya yang keras kepala dan bebas rokok) memang terpenuhi.

Hari pertama ‘pacaran’, ketemu di rumah teman. Lagi rame-rame, acara makan-makan. Di ruang yang masih tetap terlihat publik, kami tukar cerita mengenai keluarga masing-masing. Lalu langsung tentang rencana pernikahan. (ehm…ehm…saya ngetiknya sambil senyum-senyum nih…nostalgila…hehe…)
Seterusnya jarang sekali ketemu. Dia sibuk kerja dan ko-ass, saya kuliah. Tapi komunikasi tiap hari tetap lancar, meski saat itu kami hanya pakai pager. Maklum HP masih langka dan masih merupakan barang mewah. Kalau telponan, dia jarang di rumah. Sedangan di kost saya tidak pasang telpon.

Karena pakai pager dirasa kurang efektif dan efisien, akhirnya kami ngobrol pakai media buku tulis. Kami menulis apa saja. Kadang-kadang pakai ilustrasi gambar segala. Pas kebetulan bisa ketemu, kami tukeran buku. Terus ngisi lagi di buku itu. Seperti surat-suratan gitu. Tapi lebih praktis dan terdokumentasi dengan rapi. Begitu seterusnya, tiap kami ketemu, langsung tuker-tukeran buku. Sampai sekarang buku-buku itu masih saya simpan. Lucu kalau dibaca-baca lagi. Kebanyakan isinya sih serius ngebahas soal nikah. Berantemnya juga ada. Biasanya karena calon suami saya itu lupa ngisi buku. Atau sekali ngisi cuma beberapa baris. Dia juga tidak pernah menulis kata-kata yang bikin wanita ‘klepek-klepek’ alias romantis. Kan sebel, saya melulu yang nulis panjang-panjang, pengen ini pengen itu…, kesannya malah saya yang heboh sendiri (halah, jadi curcol!)

Setahun kami pacaran surat-suratan di buku. Akhirnya sukses juga saya menikah tanpa sebelumnya ujung rambut sampai kaki pernah tercolek sedikitpun. Bangga dong… :)