Archive for Nopember, 2009

Sabtu malam kemarin, karena ada sesuatu yang harus dibeli di BEC (Bandung Electronic Center) kami sekeluarga ‘pergi ke Bandung’. Meski rumah kami terletak di kota Bandung juga, tapi karena Cileunyi sudah masuk wilayah Kabupaten Bandung dan terasa jauuuuuh sekali kalau mau ke Bandung Kota, maka kami kalau ‘turun gunung’ selalu menyebutnya ‘mau ke Bandung’.:lol:

Mobil diparkir di basement BIP (Bandung Indah Plaza) demi mengefisienkan waktu yang kala itu sudah pukul tujuh malam. Kalau terlalu banyak wara-wiri kasihan anak-anak yang pasti sudah mulai mengantuk. Rombongan (ciee rombongan!) dibagi dua. Suami pergi ke BEC dengan anak sulung dan tengah. Saya dan si bungsu belanja keperluan dapur di Hypermart.

Saya yang amat sangat jarang pergi ke keramaian di pusat kota Bandung, ketika mulai menjejakkan kaki di BIP menjadi terbengong-bengong sendiri. Duhh, begini kali ya, ibu-ibu kampung yang mainannya paling jauh juga Carrefour Kiaracondong… Saya merasa jadi orang katro sekaligus jadi orang paling beradab. Hayahh, lebay deh. Tapi betul! Saya bingung sendiri melihat cara berpakaian wanita-wanita kota. Juga gaya berpacaran mereka. Meski seringkali melihat di televisi, banyak sekali makhluk bening dan aneka macam ‘adegan heboh’. Tapi menyaksikan secara ‘live’ membuat saya tulalit.:oops:

Sekian dulu dan terima kasih.
(Hihhiii… maap, lagi buru-buru ngejar dedleeeeeen!):mrgreen:

Tags: , , , , , ,

Ratna Nopember 16th, 2009      7 Comments »

Duh, judul apa sih ini?:roll:

Terus terang saya juga kebingungan. Memangnya ada pisau bermata Y? Mata Y juga apa… Ngarang dotkom bangeet!:mrgreen:

Mau cerita nih. Beberapa menit lalu saya mendapat notifikasi baru dari sebuah broker paid review. Bahwa blog saya mendapatkan kesempatan untuk mereview sebuah website. Hoalah! Saya langsung tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. PR paid review yang kemarin tiba lewat email juga belum saya kerjakan, sudah datang lagi yang baru. Sebenarnya tugas itu bisa didelegasikan pada penulis konten, yang kemampuan berbahasa Inggrisnya pasti jauh lebih baik dibanding saya. Namun saya sering ingin mengerjakan sendiri. Selain faktor kepuasan yang luar biasa saat tulisan saya di approve advertiser, juga menulis dalam bahasa Inggris secara signifikan bisa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya.

(lagi…)

Tags: , , , , , , , ,

Ratna Nopember 6th, 2009      10 Comments »

(Pernah publish di blog jadul saya. Saya posting ulang karena… mmm… gara-gara… barusan lihat suami saya lagi tidur. Entah kenapa jadi ingin bernostalgia. Hihi… Let’s cekidot yaa!)

Bagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.

Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, sehingga bisa diambil keputusan tepat, diteruskan atau tidaknya program ini ke tahapan menikah.

Saat ini saya lihat banyak yang melakukan pacaran tidak aman (PTA). Tidak aman disini berarti menyerempet bahaya, mengancam jiwa (free sex yang akhirnya terkena HIV/AIDS), mengoyak kehormatan keluarga (hamil pranikah), dan meraup banyak dosa (berzina dalam arti seluas-luasnya).

Jika dilihat dari niat pacaran versi saya, kemungkinan PTA akan jauh lebih terhindarkan. Sebab niatnya hanya memang untuk lebih mengenal calon pasangan. Tidak lebih. Tapi apalah artinya niat, kalau kesempatan untuk melakukan PTA selalu ada. Ingat kata Bang Napi: Kejahatan tidak muncul hanya karena ada niat, tetapi juga kesempatan. Waspadalah! Waspadalah!:mrgreen:

O ya, barangkali sedikit pengalaman saya di masa lalu bisa dijadikan referensi sebagai “pacaran aman”.

Seorang laki-laki yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya (senior yang cuek, yang sepertinya tidak pernah memerhatikan saya) tiba-tiba melamar saya untuk menjadi istrinya. Super kaget? Pasti! Dua hari ngga bisa tidur.

Mungkin karena saat itu saya lagi ‘harot-harotnya’ baca buku-buku religius dan ikut pengajian sana-sini, saya ngga mikir lagi harus menunda untuk menikah. Apalagi kriteria saya untuk calon suami (mampu memimpin saya yang keras kepala dan bebas rokok) memang terpenuhi.

Hari pertama ‘pacaran’, ketemu di rumah teman. Lagi rame-rame, acara makan-makan. Di ruang yang masih tetap terlihat publik, kami tukar cerita mengenai keluarga masing-masing. Lalu langsung tentang rencana pernikahan. (ehm…ehm…saya ngetiknya sambil senyum-senyum nih…nostalgila…hehe…)
Seterusnya jarang sekali ketemu. Dia sibuk kerja dan ko-ass, saya kuliah. Tapi komunikasi tiap hari tetap lancar, meski saat itu kami hanya pakai pager. Maklum HP masih langka dan masih merupakan barang mewah. Kalau telponan, dia jarang di rumah. Sedangan di kost saya tidak pasang telpon.

Karena pakai pager dirasa kurang efektif dan efisien, akhirnya kami ngobrol pakai media buku tulis. Kami menulis apa saja. Kadang-kadang pakai ilustrasi gambar segala. Pas kebetulan bisa ketemu, kami tukeran buku. Terus ngisi lagi di buku itu. Seperti surat-suratan gitu. Tapi lebih praktis dan terdokumentasi dengan rapi. Begitu seterusnya, tiap kami ketemu, langsung tuker-tukeran buku. Sampai sekarang buku-buku itu masih saya simpan. Lucu kalau dibaca-baca lagi. Kebanyakan isinya sih serius ngebahas soal nikah. Berantemnya juga ada. Biasanya karena calon suami saya itu lupa ngisi buku. Atau sekali ngisi cuma beberapa baris. Dia juga tidak pernah menulis kata-kata yang bikin wanita ‘klepek-klepek’ alias romantis. Kan sebel, saya melulu yang nulis panjang-panjang, pengen ini pengen itu…, kesannya malah saya yang heboh sendiri (halah, jadi curcol!)

Setahun kami pacaran surat-suratan di buku. Akhirnya sukses juga saya menikah tanpa sebelumnya ujung rambut sampai kaki pernah tercolek sedikitpun. Bangga dong… :)

Tags: , , , , , , , , ,

Ratna Nopember 6th, 2009      3 Comments »