Hah, Dodol?
Beberapa waktu lalu -pas panas lagi mentrang-mentring- saya ngajak dua anak terkecil saya ikut menjemur pakaian di lantai atas rumah. Ngaku deh, pas si bontot tidur pagi, yang seharusnya saya buru-buru menjemur pakaian, saya malah asik nongkrongin berita online, blog dan kaskus
. Jadilah pas si bontot bangun, matahari udah naik ke atas ubun-ubun. Acara menjemur? Ya harus segera dilaksanakan dong. Bisi keburu expired panasnya. So, mau gak mau saya ajak anak-anak ‘bekerja’ di bawah terik mentari. (Please guys, di loteng masih ada tempat anak-anak berteduh kok…)
Setelah kelar dengan acara menjemur yang dipersuperquick asalcantol, saya langsung mengajak anak-anak untuk langsung turun ke lantai GF. (Emangnya di mol??) Tapi duo jagoan tetep habennagen sambil ngoprek barang-barang ‘buangan’ semacam pipa pralon bekas dan kuas gundul. Aneka gaya bujukan tak membuat mereka beranjak dari lantai UG. Sampai saat saya kecletot bilang, “Ayooo ah, kita pulang….”
My 2nd son, Ari 4,5 tahun, langsung nyeletuk, “Emang kita udah pulang, Dodddooooolll!” sambil mukanya dipasang big grin, senyum yang giginya gede-gede itu.
Omaigat… Doddooooolll?? Haqqul yakin, saya hanya ngajarin anak-anak kalau dodol itu temennya wajik, kue basah yang giung itu. Yang manisnya agak kelewatan itu. Yang apalagi kalo makannya sambil liatin sayah… Ay, ay…
OK, temans. Simpen dulu asal muasal anak saya dapet pokeb dodol. Kira-kira menurut Anda kata ‘dodol’yang dipakai anak saya tadi termasuk kata-kata kasar atau bukan ya? Atau sekedar lucu-lucuan, yang (bisa saja) menambah keakraban orangtua-anak? Atau perlu diberantas karena gak pantas diucapkan pada orangtua? Yang pasti saya tadi berhasil ngajak anak-anak turun berkat pake gaya si Unyil: “Mari kita kemon!”







This post has 4 comments
Oktober 31st, 2009
kebiasaan mengucap dodol, vodoh, dsb. harus segera dihilangkan….
Nopember 6th, 2009
Ya. Termasuk menyaring acara-acara TV anak yang sering mengobral kata-kata tersebut. Seperti dalam film SpongeBob, Avatar, Backyardigan bahkan Rugrats.
Oktober 31st, 2009
Anak kecil memang suka menirukan baik yang positif maupun yang negatif, mereka seringkali tidak mengerti betapa kasarnya kata yang baru saja diucapkan. Kalau saya sebagai orang tua, saya peringatkan aja bahwa itu tidak baik, kedua kali juga saya peringatkan, ketiga kali baru saya pukul mulutnya. Ya, si kecil sedikit harus belajar mana kata yang baik untuk ditiru mana kata yang tidak baik untuk ditiru…
Nopember 6th, 2009
Saya setuju dengan cara Bapak mengajar anak. Dua kali diperingatkan, ketiga kalinya dipukul. Jaman sekarang banyak orangtua menabukan pendidikan ‘fisik’ dan diasumsikan bahwa bersikap demikian adalah KDRT. Padahal menurut saya, asal tidak kelewatan, berkata ‘jangan’ dan peringatan ‘fisik’ seperti jewer dan sintreuk juga perlu.