Saya ingin berbagi satu tayangan TV yang susah saya lupakan. Kemarin, di Trans TV. Jam dan judul acaranya lupa.

Seorang ibu bertubuh gembrot dan berpakaian kutung yang lusuh. Duduk beralaskan beton kotor di bawah kolong jembatan Kali Ciliwung, Jakarta. Beton tempat ia duduk juga merupakan rumah tempat ia dan ‘tetangga-tetangganya’ hidup. Tidur, makan dan beranak-pinak.

Sambil bercakap-cakap santai dengan tetangga, ia memegang jaring berdiameter sekira 30-40 cm dengan pegangan panjang. Jaring itu dipergunakan untuk mengambil barang-barang yang hanyut di kali.
Diantara barang-barang yang tersangkut di jaringnya ada yang bisa ia jual. Seperti botol-botol plastik, kaleng-kaleng bekas, dan kresek. Ada juga yang dipergunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Alat-alat rumah tangga yang hanyut seperti baskom plastik, sendok plastik, bahkan kasur.

Namun yang membuat saya terhenyak, si ibu juga menjaring sayuran. Bukan untuk pakan ternak. Tapi untuk dimasak dan dimakan bersama-sama para tetangga!
Ya Allah, di air sekotor itu? Hiii…

Si Ibu yang gigi-gigi serinya sudah terkena karies semua itu hanya tertawa, “Kami sudah biasa begini. Mungkin kalau orang lain pada ngga berani…(makan sayuran hanyut)”

Dari sekian lama menjaring, hari itu si ibu berhasil mendapatkan satu buah kentang, satu tomat dan seikat daun sawi hijau yang sudah layu. Dimasak, disatukan dalam satu wajan. Sayur apa itu ya? Tapi yang pasti si ibu dan para tetangga memakannya dengan lahap dan penuh ceria…

Terlepas dari kemiskinan yang menjerat mereka. Kenapa tak terpikirkan mencari makanan yang lebih manusiawi ya? Misalnya dengan bercocok tanam. Dilahan yang terbataspun (termasuk kolong jembatan) sayuran dan bumbu dapur bisa ditanam. Seperti cabe, tomat, kunyit, jahe, lengkuas, bawang, kangkung, labu siam, toge…

Kalau lahannya agak luas, bisa makan gratis tiap hari tuh. Itu yang dialami orangtua saya di Tasikmalaya. Berdalih olahraga, ayah-ibu saya bercocoktanam dan memelihara ikan di depan, samping dan belakang rumah. Ayah tak segan-segan mencangkul atau turun ke kolam ikan dan sawah pinggir rumah. Ibu juga menanam aneka bumbu dapur dan buah-buahan. Sesekali saja mempekerjakan orang untuk bersih-bersih rumput.

Dengan bercocok tanam seperti itu, sangat membantu sekali bagi pensiunan seperti ayah saya. Beras, bumbu, sayuran (genjer, kangkung), lalapan, buah-buahan (pisang, kelapa, manggis, markisa, pepaya, mangga,manggis,jambu,kersen), umbi-umbian (singkong, ubi, kacang), ikan, belut… *hehe,maaf jadi terkenang kampung halaman soalnya* semua tinggal petik,gali dan tangkap. Paling ke warung kalau mau beli garam, telur, tahu atau tempe saja. Hemat sekali. Jadi uang pensiun bisa dipakai buat traktir cucu-cucu makan es krim.

Sekarangpun saya coba menanam ‘tanaman dapur’ di halaman depan rumah (ngga punya halaman belakang sih). Lumayan, ngga harus dikit-dikit beli, dikit-dikit warung. Hari gini kan cabe rawit aja lima ratus perak cuma dapat se-emprit :)