Hampir setiap jarum jam pendek itu menunjuk langit-langit, aku sedang asyik bercengkerama dengan benda datar berdiagonal 16″. Brightness 45 dan contrast 38. Di kejauhan, petugas ronda memukul tiang telepon sebanyak dua belas kali dengan tepat.
Setiap 24 jam sekali, pada saat yang sama, aku selalu bersamanya. Menatap segala keindahan dunia yang terlukis di tubuhnya. Menikmati kata demi kata yang berbaris di setiap mili raganya. Ya, aku melihat seluas-luas dunia hanya dengan mengintip kotak kecilnya.
Malam ini, aku ingin sesuatu yang berbeda mengisi kebersamaanku dengannya. Aku tak hanya ingin mengambil, mengambil dan mengambil apa yang ada di dalam jendela ajaib ini. Aku juga ingin memberi. Ingin mempersembahkan titik gelora yang sering bermunculan di sudut-sudut peluhku. Peluh yang bening, yang keluar dari persemayamannya di dalam jiwaku.
Semoga tulisan ini menjadi prolog kebersamaanku dengannya. Bahwa dia tidak akan bertepuk sebelah tangan layar. Sebab layar hati dan asaku akan selalu menyertainya setiap jam dua belas malam.
Insya Allah.
Wismilak pren!