Berbelanja di kaki lima atau pedagang keliling, terkadang ujung-ujungnya malah merasa gondok bin bete. Barang dengan kualitas sama, di tempat lain jatuhnya jauh lebih murah. Meski sudah bertitel ibu-ibu, saya seringkali tidak tahu harga. Apalagi jago tawar-menawar.

Makanya, untuk menghindari keculasan pedagang yang tahu saya yang kurang mahir dalam menawar dan sering jatuh kasihan, saya akhirnya selalu belanja di hypermarket. Selain ragam produk yang dijual juga lebih banyak, saya tak perlu stress memikirkan takut ditipu. Sebab harga pada label yang tertera di setiap produk, saya percayai merupakan harga terbaik yang diberikan hypermarket tersebut kepada pelanggannya.

Namun lagi-lagi saya seringkali merasa bersalah pada para pendagang keliling yang bersusah payah menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah itu. Keluar masuk gang. Terkena panas terik, debu, hujan, dan sebagainya. Saya jadi merasa egois. Demi selisih harga yang tak seberapa, saya mau jauh-jauh datang ke hypermart. Tapi kalau mereka datang, “Nggak, Mang!” Padahal kalau dipikir-pikir, harga lebih mahal sedikit tidak apa-apa kan. Itung-itung ongkos delivery service. Belum lagi, setidaknya bisa membuat si pedagang bahagia karena dagangannya laku. Membantu menyambung hidupnya. Juga meringankan berat beban pikulannya meski sedikit.

Tapi, berbelanja di tukang dagang keliling atau kaki lima memang harus disertai keikhlasan. Kalau mau beli ya beli saja. Jangan berharap garansi dan macam-macam. Malah dari awal harus diniatkan buat bersedekah. Kalau tidak, saya biasanya ya kayak tadi : gondok bin bete…