Saat pudar rembulan menusuk malam, kuajak sarung belelku menyusuri sebuah tempat.

Tiga kurcaciku yang sedang bermain riang di atas awan lelapnya, kuhadiahi kata sayang di sudut-sudut telinganya: “Ibu pergi dulu, Nak. Hati-hati kau tendang mimpi adikmu…”

Beres! Lengang… Aman terkendali.
Kuberlalu ringan. Awali petualangan sambil berdendang.

Suara klik dan klik menggiringku lebih jauh merambah pelosok rimba. Melenggang. Kangkung? Oh, tidak. Ia sudah aman di dalam lambungku!

Ta…rararira… Aku melompat, meloncat, berputar. Terkekeh, terisak dan tertawa lagi.

“Iya kan, Sarung…
Benderang sekali hutan ini. Tempo hari aku kemari, membuatku tercandu untuk kembali.”

Sarungku menggeliat. Ia senang. Senyumnya mengembang sempurna. Seperti adonan donatku kemarin pagi. Ia memeluk tubuhku semakin erat. Menjalarkan hangatnya tanpa berkata-kata.

“Nyeeeeny…..” Aku terperanjat.
“Nyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeny……”
Aku malas bergeming. Berharap rintihan nan manja itu tak lagi terdengar.
“Maaaamaaaaaaah…. Nyenyeeeeeeeeeeeeny!!”

Gyaaaaaah!! Buyar deh. Lagi-lagi si bontot menginterupsi kemesraanku dengan kompi dan flock. Besok lagi ya! Gudnait!