Pernah marah?
Apa yang Anda lakukan ketika marah? Mencaci-maki, ngomel-ngomel, diam tak bersuara, pergi keluar, atau bahkan banting-banting barang di sekitar Anda?

Apapun gayanya, marah tetaplah marah. Rasanya seperti menyiksa kalau tidak disalurkan. Itu yang saya rasakan. Sebelum menikah dan punya anak, kalau marah biasanya saya langsung bawa motor bebek kesayangan lalu pergi ke mana saja. Sambil stel musik kesukaan di ear-phone, menjelajahi kota Bandung. Mulai dari gang-gang sempit dan keramaian pasar sampai dinginnya hawa pegunungan Manglayang. Atau yang paling sering: cari mesjid sepi di sudut-sudut kota, lalu menulis diary :P

Sekarang? Yang pasti pakai style ibu-ibu pada umumnya. Ya. Ngomel-ngomel. Tapi alhamdulillah. Karena bukan ahli nge-rap, saya suka kepleset bicara kalau lagi berkicau. Misalnya mau bilang, “Itu mainannya diberesin!” malah jadi, “Itu beresannya dimainin!”. Memang malu sih… Tapi untung. Marahnya ganti jadi ketawa rame-rame.

O ya. Saya pernah mencoba, ketika marah saya langsung wudhu dan shalat. Tapi kok malah shalatnya tidak khusyu’ ya? Ingat ‘materi marah’ terus dan berabe sama air mata. Ya. Kalau marah sekali saya suka malah jadi menangis. Tapi, kalau marah tidak kunjung reda, saya tidur saja. Pas bangun tidur, marah sudah 100% hilang.

Bagaimana dengan Anda?