Hari Ibu

Posted by Ratna in Intermezzo, mom's corner on 22-12-2008

Sekarang 22 Desember ya? Waduh, hampir lupa kalau sekarang Hari Ibu. Hehe. Meskipun ingat, kadang saya suka EGP dan cuma bergumam “Sowot gituloh…”

Hari Ibu.
Berarti hari saya dong. Karena saya juga seorang ibu.

Katanya sih, Hari Ibu diperingati untuk menghormati kaum ibu. Wah,asyiiik… Saya punya hari spesial. Hari yang dihormati dan sering disebut-sebut pula di televisi :)

Apa yang saya dapatkan hari ini ya? Penghormatan seperti apa ya?
Tak ada yang spesial hari ini… *kasian banget*. Semua berjalan seperti biasa. Tak ada bebas tugas, atau karpet merah bertabur bunga nan wangi untuk setiap jejak langkah saya. Apalagi tiket gratis keliling dunia dan menginap di hotel-hotel berbintang tujuh :mrgreen:

Namun penghormatan itu selalu saya rasakan. Tidak terbatas hari ini saja. Tapi sepanjang tahun. Setiap hari. Saya merasa terhormat telah diberikan kesempatan mengandung, melahirkan dan mengasuh anak-anak saya. Tidak semua wanita diberi kepercayaan menerima amanah ini. Ini yang membuat saya merasa terhormat. Karena saya merasa qualified untuk dijadikanNya seorang ibu.

Nah.
Saat ini saya baru memenuhi kualifikasi sebagai seorang ibu. Lantas, sudah qualified jugakah saya untuk menjadi ibu yang baik? Ibu yang berhasil menciptakan kebahagiaan diantara anak-anaknya?

Hmmm…
Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, di Hari Ibu ini, saya minta hadiah spesial dari Anda yang nyasar baca postingan ini. Do’akan ya, agar saya tidak hanya merasa dihormati saja. Tapi benar-benar qualified juga untuk mendapatkan penghormatan.

Kepada, Ibu Qualified: Hormaaaaaaaaaaaaaa…t, grak!!!

Brownies Cocol Keju

Posted by Ratna in food 'n eat, mom's corner on 19-12-2008

Seperti biasa, anak-anak saya ‘ogah’ kalau disuruh makan nasi. Mau tidak mau, saya harus selalu mencari cara agar karbohidrat dkk bisa masuk ke perut mereka. Beruntung, anak-anak saya suka camilan. Termasuk kue Brownies. Jadi soal gizi harian, bisa diakali meski mereka termasuk picky-eater..

Daripada membeli, saya lebih sering membuat Brownies sendiri. Selain karena toko kue jauh, membuat kue sendiri bisa membuat anak-anak saya sedikit tenang. Tidak lari-lari melulu. Karena mereka asyik membantu colek-colek membuat adonan kue. Sekalian belajar berhitung dengan cara menimbang bahan-bahan kue. Belajar bekerja secara sistematis dengan cara mengikuti petunjuk resep. Dan belajar bersabar dicereweti ibunda menunggu kue matang :D

Saya tak punya resep kojo membuat Brownies. Malah sering gonta-ganti resep. Sekedar memuaskan kepenasaran: resep ini enak nggak ya? Rasa kan mirip-mirip. Yang beda paling tekstur atau kadar manisnya. Yang penting bagi saya, bahan coklatnya harus yang berkualitas. Baik coklat bubuk maupun dark cooking chocolate. Resep satu ini saya share, karena paling gampang cara membuatnya dan tidak perlu banyak peralatan keluar dari lemari.

Oh iya. Berhubung tidak ada persediaan gula kastor di rumah, saya pakai gula pasir biasa. Hasilnya: giung euy! Alias kemanisan a.k.a. manis banget seperti saya. Untuk menetralisir rasa manis yang lumayan berlebih itu, saya parut keju cheddar. Jadi cara makannya: ambil sepotong Brownies, lalu cocolin ke keju parut. Lalu, ammm! Nyemm…nyemmm…. Lima jari tangan kanan dikuncupkan, digoyang-goyang, wajah menghadap kamera, lalu bilang: maknyussss….

Halah, dasar orang ndeso. Makan Brownies aja kok mirip makan ‘pete cocol sambel’? :mrgreen:

Enjoying Mati Listrik…

Posted by Ratna in Intermezzo, mom's corner on 15-12-2008

Musim hujan begini, rumah saya seringkali dapat giliran mati listrik. Kata orang, kalau rumah agak pinggir kota dan bukan lingkungan tempat tinggal kaum elit, memang sering ketiban sial mati listrik. Ya, nikmati sajalah. Toh banyak romansa tersendiri ketika rumah gelap gulita :D

Bagi yang sering dapat pemadaman bergilir, atau alasan lain dari Customer Service PLN saya punya beberapa tips agar suasana rumah yang gelap gulita tetap menyeramkan menyenangkan.

1. Siapkan media hiburan non-elektrik.
Sewa badut? Oh, no! Bukan itu maksud saya.
Mainan yang menggunakan papan permainan alias game-board, tepat sekali untuk mengisi waktu menunggu listrik menyala di malam hari. Tentunya kalau kita ada teman alias tidak sendiri. Scrabble, monopoli, ular tangga, halma, ludo, tic-tac-toe, misalnya. Atau main kartu. Remi, domino, kwartet, uno…

2. Bercengkrama dengan keluarga.
Ini yang paling sering saya lakukan dulu dengan orangtua dan adik-adik saya. Semua berkumpul di kasur ortu yang besar. Selimutan rame-rame. Meski kami beranjak dewasa, kebiasaan itu masih tetap berlangsung.

3. Mendongeng dan bermain bayangan.
Nah, kalau ini sih sudah ranah ibu-ibu. Meski listrik padam, ngasuh mah tetep must go on :) Namanya juga anak-anak, mau gelap mau terang bawaannya blingsatan terus. Biar mereka tetap tenang dan tidak berbuat macam-macam (bermain api lilin misalnya) saya menjerat mereka dengan mendongeng dan atau bermain bayangan.

4. Dzikrullah.
Membaca buku atau menulis, sudah pasti tidak nyaman dengan pencahayaan kurang. Sangat pas, jika waktu mati listrik dipakai untuk bertafakur dan juga berdzikir kepadaNya. Apalagi jika suasananya sepi, diiringi tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting…

5. Tidur.
Acara ini paling ‘nggak’ bagi saya. Suka ada kekhawatiran rumah kebakaran gara-gara api lilin, meski sebagai penerang saya memakai emergency lamp :D Aneh….

6. Kabur ke mal.
Ini senjata pamungkas. Kalau sudah jenuh-jenuh amat di rumah dengan segala kegelapan yang menyertai, pergi saja dari rumah. Pulangnya nanti saja kalau sudah mengantuk atau kira-kira pas lampu sudah menyala.

7. Mmmm…
SMS-an? Chatting via HP? Boleh juga. Tapi saya belum pernah coba.

Apa lagi ya?
Ada yang mau menambahkan?

Mengendalikan Marah

Posted by Ratna in Intermezzo on 13-12-2008

Pernah marah?
Apa yang Anda lakukan ketika marah? Mencaci-maki, ngomel-ngomel, diam tak bersuara, pergi keluar, atau bahkan banting-banting barang di sekitar Anda?

Apapun gayanya, marah tetaplah marah. Rasanya seperti menyiksa kalau tidak disalurkan. Itu yang saya rasakan. Sebelum menikah dan punya anak, kalau marah biasanya saya langsung bawa motor bebek kesayangan lalu pergi ke mana saja. Sambil stel musik kesukaan di ear-phone, menjelajahi kota Bandung. Mulai dari gang-gang sempit dan keramaian pasar sampai dinginnya hawa pegunungan Manglayang. Atau yang paling sering: cari mesjid sepi di sudut-sudut kota, lalu menulis diary :P

Sekarang? Yang pasti pakai style ibu-ibu pada umumnya. Ya. Ngomel-ngomel. Tapi alhamdulillah. Karena bukan ahli nge-rap, saya suka kepleset bicara kalau lagi berkicau. Misalnya mau bilang, “Itu mainannya diberesin!” malah jadi, “Itu beresannya dimainin!”. Memang malu sih… Tapi untung. Marahnya ganti jadi ketawa rame-rame.

O ya. Saya pernah mencoba, ketika marah saya langsung wudhu dan shalat. Tapi kok malah shalatnya tidak khusyu’ ya? Ingat ‘materi marah’ terus dan berabe sama air mata. Ya. Kalau marah sekali saya suka malah jadi menangis. Tapi, kalau marah tidak kunjung reda, saya tidur saja. Pas bangun tidur, marah sudah 100% hilang.

Bagaimana dengan Anda?

That’s All - Michael Buble

Posted by Ratna in Intermezzo on 13-12-2008

Lagi suka banget denger lagu-lagunya Michael Buble. Terutama album With Love. Aransemennya yang super jadul, tidak tahu kenapa bikin saya seperti de javu. Perasaan seperti pernah menjadi pelakon dunia di tahun 60-an.

Ini, lirik salah satu lagu yang ada di album With Love-nya Michael Buble. Yuuk… nyanyi yuuk…

“That’s All” lyrics

I can only give you love that lasts forever,
And a promise to be near each time you call.
And the only heart I own
For you and you alone
That’s all,
That’s all…

I can only give you country walks in springtime
And a hand to hold when leaves begin to fall;
And a love whose burning light
Will warm the winter’s night
That’s all,
That’s all.

There are those I am sure who have told you,
They would give you the world for a toy.
All I have are these arms to enfold you,
And a love time can never destroy.

If you’re wondering what I’m asking in return, dear,
You’ll be glad to know that my demands are small.
Say it’s me that you’ll adore,
For now and evermore
That’s all,
That’s all.

Click here to download That’s All-Michael Buble mp3

Bakso Kampung

Posted by Ratna in Uncategorized on 07-12-2008

Hari ini saya kurang beruntung. Isi tabung gas elpiji untuk bahan bakar kompor di rumah habis. Cadangannya juga kosong. Keteledoran saya juga sih. Lama tidak mengecek keperluan dapur. Naasnya pula, warung dekat rumah yang biasa menjual gas elpiji juga tutup. Pemiliknya liburan Idul Adha. Mau hunting LPG, suami yang selalu jadi sopir tiba-tiba ada keperluan mendadak sampai malam.

Waduh… padahal teman nasi tinggal salad dan remah-remah bawang bombay bekas sarapan tadi pagi pakai chicken teriyaki . (Haha…sarapan kok yang begituan??) Kalau tinggal di tengah kota sih gampang. Tinggal telpon kedai fast food, makanan hangat langsung bisa diantar sampai rumah. Lha rumah saya, selalu dibilang “Out of coverage, Bu. Maaf!”

Akhirnya, saya dan anak-anak jajan mi bakso yang lewat depan rumah. Lumayan, buat ganjel perut yang sudah dangdutan dari tadi. Terakhir saya makan bakso begini sekitar 6 tahun lalu. Sengaja selama ini tidak jajan, buat membiasakan anak-anak saya tidak jajan sembarangan. Kalau sekarang, anak-anak sudah agak besar, sekalian saya perlihatkan bagaimana cara penyajian bakso ala emang-emang pinggir jalan. Meski akhirnya dikonsumsi juga karena darurat :D

Untuk meminimalkan efek samping *halah* saya tidak pakai saus sambal merah merona itu. Huh, padahal dulu kalau makan bakso tanpa sambal oranye menyala itu, serasa bagai makan pizza tanpa topping. Tapi kalau ve-tsin alias MSG sih tetep pakai… Dan wajib pakai mangkok dari rumah! Tahu kan, bagaimana mencuci mangkok ala mang-mang itu? Celup-celup ember doang terus di lap.Iieeks!

Jadilah beli mi bakso tanpa mi. Bakso non mi. Eh, gimana sih? Maksudnya, beli bakso dan kuahnya saja. Tanpa mi kuning yang konon selalu berformalin itu, dan tanpa sayuran (toge dan sawi hijau) pula. Ya… lagi-lagi ketakutan. Sayurannya setelah si Emang nge-grab dari keramaian pasar langsung dipotong-potong tanpa dicuci dulu. Dihidangkan langsung setelah cuma diceburin ke air mendidih beberapa detik.

Tapi…

Makan siang itu nikmat sekali. Entah karena lapar yang sangat. Atau karena sesuatu yang kurang higinis itu selalu enak.