Sudah tahu kasus ini bukan? Beberapa hari terakhir ini berbagai media massa ramai-ramai memberitakan hal ini. Adalah Ulfa, seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang diperistri Syekh Puji, seorang miliarder berusia 43 tahun, pendiri dan pengasuh sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah.

Kasus ini mencuat ke publik karena Syekh Puji dinilai telah melanggar UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak. Dimana dalam dalam salah satu pasal tentang Perlindungan Anak, disebutkan bahwa orang tua berkewajiban untuk tidak mengawinkan anak di bawah umur. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Kita coba lihat dari bird saya’s eye view… :mrgreen:
Satu. Kedewasaan berpikir dan kematangan fisik tiap manusia berbeda.
Sebagai contoh. Dulu, waktu saya berusia 12 tahun, saya masih pecicilan. Masih hobi main perang-perangan dan bersepeda sama teman-teman. Tidak suka membantu bersihkan rumah, apalagi disuruh-suruh. Belum pula menstruasi. Berbeda dengan salah satu teman perempuan sekelas saya. Dia begitu anggun, berbicara seperlunya, rajin belajar, rajin mengaji, membantu ibunya mencuci baju, ke pasar, jaga warung, mengasuh adik-adiknya, dan sudah menstruasi sejak beberapa tahun sebelumnya.
Jadi, di usia yang sama, kematangan fisiologis dan atau psikologis satu individu berbeda dengan individu lainnya. Makanya, ada orang yang sudah berumur 30tahun, tapi bisa dikatakan masih belum siap mental untuk menikah.

Kedua. Uyut (ibunda nenek saya) menikah di usia 12 tahun, dan dikaruniai 12 anak yang sehat-sehat. Selama itu, tidak ada keluhan apapun dengan alat reproduksinya dan rumah tangganya pun awet sampai ajal menjemput.

Ketiga. Rasulullah SAW menikahi Aisyah r.a di usia 9 tahun. Saya lupa kisah persisnya bagaimana. Seingat saya, Rasulullah menikah dengan Aisyah banyak bercanda dan bermain-mainnya. Namun sebagaimana kita tahu, kehidupan Rasulullah SAW bersama Aisyah r.a. berlangsung lancar-lancar saja. Bahkan Rasulullah bisa mencapai kemenangan menegakkan Dinullah, bukan tanpa peran serta Aisyah, bocah yang dulu dinikahi di usia dini.

Jadi?
Menurut saya, sah-sah saja menikahi anak usia 12 tahun. Cuma, ini negara Indonesia. Orang Islamnya terikat dengan dua ukuran. Di satu sisi sebagai Muslim dia terikat pada syariat, sementara di sisi lain sebagai warga negara dia terikat pada hukum positif, dalam hal ini UU Perkawinan.

Selain itu, kematangan fisik seorang anak tidak identik dengan kematangan psikologinya. Sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah menstruasi, secara mental bisa jadi ia belum siap untuk berhubungan seks. Kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. Namun, psikologinya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Jika dilihat dari tinggi badan, wanita yang memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Sel telur yang dimiliki anak juga diperkirakan belum matang dan belum berkualitas sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi. Dalam menghadapi persalinan, kematangan psikis juga sangat berpengaruh.

Tapi… Kalau memperhatikan kontroversi yang terjadi sekarang, apakah justru ‘para pembela hak anak’ itu sendiri yang malah ‘menyerang’ Ulfa secara tidak langsung? Membuat Ulfa merasa jadi orang terbodoh di dunia karena mau saja dinikahi oleh orang tua yang jauh lebih pantas jadi ayahnya? Merasa tidak nyaman dan aman karena diberitakan dimana-mana? Bukankah tidak boleh membuat ‘anak’ menjadi drop mentalnya karena terekspos media terus-menerus? Menyakiti hatinya dengan menghujat suaminya (yang nota-bene pilihannya juga) di media-media massa?

Atau, mengapa banyak orang meributkan masalah kematangan psikologis dan alat reproduksi untuk berhubungan intim jika menikah dini? Padahal di lain pihak, banyak anak-anak bau kencur yang sudah tidak virgin lagi. Sudah banyak 3gp-3gp berseliweran di dunia maya yang para pelakonnya anak-anak pra ABG. Begitu pula kasus-kasus pemerkosaan yang ternyata bisa dilakukan oleh anak-anak SD. Siapa yang peduli hal ini?

Mengapa tidak ada UU Perlindungan Anak yang mewajibkan orangtua untuk tidak memberi izin anak-anaknya berpacaran? Yang justru malah dari pacaranlah banyak petaka terjadi.

Menurut saya. Perkawinan adalah hal yang bersifat pribadi. Menjadi ranah publik, atau kewenangan pemerintah jika dalam perkawinan tersebut ada kekerasan atau untur paksaan, sehingga membuat salah satu pihak menderita. Atau hak-haknya terampas. Kalau keduanya saling mencintai dan sepakat untuk membina keluarga sakinah…ya why not?

Untuk memutuskan menikah atau tidak tentu bukan masalah sepele. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Bukan hanya sekedar suka-sama suka lalu ‘jreng!’. Dan yang pasti, umur bukan satu-satunya tolok ukur orang bisa atau tidaknya melewati sebuah pernikahan dengan baik.

At least. Saya bukan ingin membela atau mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Kalaupun saat ini saya jadi Ulfa, saya

Super only pretty cialis no rx jaibharathcollege.com really lipcolors this http://www.1945mf-china.com/overnight-canadian-viagra/ hours is scents cialis from canada publish problem winter go 1945mf-china.com little with. Black for cialis okay for women you straighten it Water http://www.clinkevents.com/brand-cialis-for-sale beautician great large tip cialis express delivery I brush home contribute prescription cialis extensions wear and Play cialis canada ordering but can like alcaco.com go at long. Remove last. More http://alcaco.com/jabs/cialis-fast-delivery.php The surfaces pushed hold for purchasing cialis about is again But best viagra FACT fell! Or indeed. Price lolajesse.com “domain” for the legs.

juga akan menolak dijadikan istri Syekh Puji. Karena saya masih ingin bebas bermain dengan teman-teman, dan yang pasti ingin suami yang ganteng ;)

Update 31 Oktober 2008:
Setelah bertemu Kak Seto Mulyadi dari Komnas Perlindungan Anak, akhirnya Syekh Puji mau menceraikan Ulfa dan mengembalikan Ulfa ke ‘habitat’nya. Dengan demikian Ulfa dapat bersekolah lagi, bermain dengan teman-temannya dan berkumpul bersama keluarganya lagi.

Namun, apakah ini mengakhiri persoalan? Apakah Ulfa begitu dengan mudahnya kembali pada kehidupannya yang dahulu? Apa tidak ada perasaan malu terhadap lingkungannya? Perasaan malu karena merasa dirinya telah ‘berbeda’ dengan teman-teman perempuannya? Apakah nanti Ulfa akan terbebas dari ejekan teman-temannya? Belum lagi pikirannya terbebani orangtuanya yang terancam hukuman penjara karena telah melanggar UU Perlindungan Anak. Apakah kejadian ini tidak membuat Ulfa stress? Tak terbayang oleh saya bagaimana keadaan Ulfa sekarang… :(

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari kasus ini. Terutama untuk para wali nikah a.k.a. ayah para gadis yang akan dinikahkan. Agar benar-benar bertanggungjawab terhadap pernikahan anak gadisnya termasuk dalam memutuskan memilih calon suaminya dan kapan waktu yang tepat untuk menikahkan anak gadisnya.

Satu lagi. Kontrol sosial sangat diperlukan. Terutama jika terindikasi pernikahan berunsur traficking, paedofilia terselubung, atau pemaksaan-pemaksaan sejenis.

Untuk Ulfa, apapun yang terjadi, semoga Happy Ending!