Play Station vs Galah Asin
Musim libur lebaran ini, di rumah hampir tiap siang dipenuhi anak-anak tetangga untuk bermain. Tidak penuh-penuh amat sih. Paling sampai 5 orang. Cuma karena rumahnya kecil, jadi terasa penuh
Melihat mereka bermain, kok sepertinya membosankan ya? Maunya main PS lagi-PS lagi. Komputer lagi-komputer lagi. Kalau berkumpul di luar pagar pun yang dibahas tidak terlepas dari game. Paling sesekali main petak umpet alias ucing sumput. Sudah.
Saya coba beri buku-buku cerita, kertas-kertas gambar dan crayon. Tapi tidak lama kemudian anak-anak sudah bosan. Main ular tangga, halma dan ludo juga hanya bertahan sebentar. Yang agak anteng paling waktu dikasih mainan malam alias lilin mainan (play-dough). Sampai saya akhirnya ikutan nimbrung dengan anak-anak, ngobrol-ngobrol tentang masa kecil saya yang banyak sekali permainan. Yang pada akhirnya saya mengajari mereka sebagian permainan jadul meski sayanya juga lupa-lupa ingat.
Memang, permainan anak-anak jaman sekarang berbeda sekali dengan permainan/ mainan anak-anak jaman dulu. Anak-anak masa kini cenderung solitaire dan tidak banyak bergerak. Kalau tidak main PS/ PC game, pasti board games, seperti ular tangga, monopoli, catur, sudoku atau scrabble. Bisa jadi karena lahan untuk bermain sudah tidak ada. Kalaupun tidak, para orangtua sering melarang anak-anaknya untuk terlalu bergaul dengan tetangga. Alasannya beragam. Berdasarkan pengamatan terhadap tetangga
:takut anak-anak kotor/ kepanasan/ kena angin, takut bergaul dengan anak-anak nakal, takut anak-anak kecapekan karena lari-lari akhirnya jatuh sakit, takut lupa mengerjakan PR, dan lain sebagainya. Yang sebenarnya alasan-alasan tersebut cuma dicari-cari. Entah mengapa. Orangtua jaman sekarang sepertinya lebih suka anaknya jadi orang rumahan. Yang kalaupun keluar rumah/ bergaul, mending di tempat les saja.
Sedikit bernostalgia. Semasa kecil di tahun 80′an, saya tumbuh di lingkungan komplek yang kebanyakan kepala keluarganya adalah pegawai negeri. Di Bandung, Jawa Barat. Kebetulan, saya mempunyai banyak sekali teman sebaya. Meski lapangan serbaguna agak jauh tempatnya, kami bisa menggunakan jalan komplek sebagai tempat bermain. Kalau dibandingkan dengan ragam permainan semasa nenek atau ibu saya masih kecil, tentu permainan saya waktu kecil jauh lebih sedikit. Tapi jika dibandingkan dengan permainan saat ini, saya masih bisa cukup berbahagia bisa menikmati masa-masa indah dulu
Main aneka ucing-ucingan (ucing kup, ucing sumput, ucing karet, ucing sendal), sapintrong, sorodot gaplok, galah (galah asin, galah jidar), simseu, slep-dur, sondah, gatrik, pris-prisan, boy-boyan, main lima sekawan-lima sekawanan, congklak, mencari jejak, perang sumpit, ngadu simar, apa lagi ya?
Permainan jaman dulu juga banyak ‘theme song’-nya. Kebanyakan lagu-lagunya riang dan lucu. Seperti cingciripit (tulang bajing kacapit), blung-blong (tampele tampa gelong), keledat-keledut samping kadut (nyabut hui), paciwit-ciwit lutung, tat-tit-tut daun sampeu, slep-dur, do-mikado, tongtolang nangka, bangbang kalima-lima gobang, kepiting cina uwo-uwo… Masih banyak lagi.
Belum lagi, mainan tidak sepenuhnya hasil membeli. Apalagi di kampung-kampung. Mainan adalah buatan tangan sendiri. Dibuat dari apa saja, bahan yang ada di sekitar tempat bermain. Seperti bedil-bedilan pelepah pisang, mobil-mobilan kulit jeruk bali, sumpit, parasut-parasutan dari kresek, dan lain-lain. Mungkin kita masih bisa menonton acara bikin mainan tradisional seperti ini di acara si Bolang Trans7.
Menurut saya, anak-anak jadul benar-benar bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan ‘lebih anak-anak’. Bisa mengoptimalkan kemampuan motorik, linguistik, musikal, sosial dan kreativitasnya. Daya imajinasi juga. Sebab dulu saya dan teman-teman sering berkhayal bersama-sama dalam menciptakan sebuah skenario permainan. Main ibu-ibuan. Atau main monster-monsteran. Atau main dokter-dokteran. Main pilot-pilotan… bagaimana ketika badai datang dan pesawat mengalami kerusakan. Senang sekali. Berbagai sound-effect keluar dari mulut sendiri-sendiri. Tidak perlu mainan canggih bagi kami saat itu. Yang penting kami puas bermain, senang, capek, pulang ke rumah, mandi… Setelah itu pasti lapar, lalu makan dengan lahap, bisa mengerjakan PR dengan senang hati karena sudah puas bermain, terus tidur. Puas pokoknya….








This post has 14 comments
Oktober 14th, 2008
hebat.., masih inget semua.., klo dl saya permainannya.., hmmm.., apa yah.., ahh.., sudah lupa semua namanya
, tp alhamdulillah.. saya masih termasuk anak yang bisa menikmati masa kanak-kanaknya dengan ‘lebih anak-anak’.
spydeeyk´s last blog post..Free Online SEO Tools
Oktober 15th, 2008
anak2 sepertinya juga memiliki dunianya sendiri, mbak ratna. ingin selalau mencari tantangan. *walah kok jadi sok tahu saya*
sawali tuhusetya´s last blog post..Goyang Poco-poco dan Kesetaraan Gender
Oktober 15th, 2008
Jadi inget jaman dulu, maenan mobil-mobilan yuk mbak (bikinan sendiri dari kulit jeruk) qqq
Keris´s last blog post..Melihat dada indah wanita, menyehatkan
Oktober 15th, 2008
Sebaiknya memang permainan anak2 harus berimbang antara fun, kreativitas, sosialisasi, juga kegiatan2 fisik. Tidak harus semua ada dalam satu permainan tetapi lebih pada variasi permainannya agar si anak juga tumbuh berimbang…..
Yari NK´s last blog post..Manusianse
Oktober 15th, 2008
Aih teh itu nama mainannya tolong diterjemahkan dulu
Cuma satu yang ngerti, lima sekawan-lima sekawanan…hhhmmmm apa ini seperti yang saya mainkan dulu ya… pura-pura jadi anggota Lima Sekawan (buku karangan Enid Blyton) dan adik tetangga yang paling bungsu kebagian jadi Timmy–anjingnya hahaha….
Yoga´s last blog post..Sisipan
Oktober 15th, 2008
Swetujuh … swetujuh …
selain galah asin a.k.a gobak sodor …
Bentengan … bentengan … itu top … top … banget …
tau main bentengan kan Bu ???
nh18´s last blog post..PMR
Oktober 15th, 2008
Galah asin itu gobak sodor ya…..?
Mbak, benar kata Yoga, harus diterjemahkan dulu, mungkin nanti ada kesamaan dengan daerah lain.
Karena hidup di kompleks yang ada lapangan bola, banyak pohon besar, dan dekat perkampungan, anak-anakku malah suka nglayap kemana-mana…bikin deg2an juga sih. Pulangnya juga badan kotor…jadi saya akalin…di rumah disediakan buku bacaan, tapi kalau teman mau pinjam dibawa kerumah harus ijin ibu…alhasil saya bisa membiasakan anak-anak bersama temannya membaca..memang risikonya si mbak menyediakan makanan biar betah. Dan karena di depan rumah ada pohon jambu yang berbuah terus…kalau bosen baca ya main panjat-panjatan, dan nanti sore si mbak yang senewen lapor ibu. Dan ibu cuma senyum mendengarkan (deg2an juga sih).
edratna´s last blog post..Cewek panggilan?
Oktober 16th, 2008
mendukung mas yoga dan bu enni. kalau bisa masing-masing jenis permainan jadulnya diuraikan satu persatu mbak. boleh jadi nanti jadi bahan referensi bagi yg membutuhkan
Oktober 16th, 2008
mangna ucing sumping masih usum keneh nyak?
da ayeuna mah usumna ucing garong ih … kekeke
aRai´s last blog post..Pasang GAY menikah di Bali (Indonesia Makin Geblek)
Oktober 21st, 2008
tetapi kini, kecenderungan permainan anak2 lebih ke individual, paling banyak pun dua orang anak itupun hanya sebatas lawan partner permainan. lebih cenderung mengejar skor/rating/point daripada kebersamaan.
well, aku bangga dengan massa kecilku nak……….
regards,
MyAvatarInside
http://3dsmaxsupport.blogspot.com/
MyAvatarInside´s last blog post..CUSTOMIZING YOUR WOOD FLOOR – PARQUET MATERIAL
Nopember 1st, 2008
Dulu paling seneng “meng bal” (maen bola-red)
.
Tapi kenapa sekarang sayah ga suka lagi yah. Kecuali kalo Persib yang laga.
Anak sekarang main bolanya pindah ke jari, judulnya Winning Eleven… euh… judul lainnya juga kayanya ada.
Iyah… gara2 kurang tempat main juga barangkali.
Nopember 4th, 2008
jadi kangen main galasin.
Koran Saya´s last blog post..Merger Bank Lippo & Bank CIMB Niaga
Agustus 22nd, 2009
Desember 29th, 2009
iya memang…kalau sekarang ga dokter2an..tapi kiamat2an!..gara2 lahan skolah kami dibuat main anak kecil..ah.terpaksa main di perpus.aku sama temenku jadi peran utama…uda tidur dulu.
Trackbacks