UU Pornografi Disahkan

Posted by Ratna in OON (out of niche) on 31-10-2008

Alhamdulilah…
Akhirnya UU Pornografi disahkan juga. Meski belum terbayang implementasinya nanti bagaimana. Yang pasti, setelah baca UU-nya, saya tidak melihat yang namanya pemaksaan aturan agama tertentu di dalamnya. Tidak ada pemicu disintegrasi bangsa. Tidak ada usaha penyeragaman budaya kearah budaya Arab. Tidak ada pembunuhan adat-istiadat dan kebudayaan daerah (pasal 14). Tidak ada tirani mayoritas terhadap minoritas. Jadi mengapa banyak orang menentang UU ini disahkan ya? Atau malah saya yang kurang memahami isinya ya?

Atau jangan-jangan ada salah satu atau lebih dari isi UU ini yang berseberangan dengan kepentingan orang-orang yang kontra? Jadi mereka antipati terhadap disahkannya UU ini. Misalnya, orang-orang yang hobi menikmati keindahan tubuh perempuan, terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Atau orang-orang yang telah terbiasa mengeksploitasi daya tarik seksualnya untuk mendapatkan rupiah dan ketenaran. Atau orang-orang yang mendapatkan keuntungan dari mempertontonkan tubuh-tubuh perempuan. Ooops. Jangan-jangan sayanya saja yang terlalu berprasangka.

Semoga. Kehadiran UU ini menjadi titik tolak bangsa ini menjadi bangsa yang jauh lebih bermoral, beretika dan beradab.

Menikahi Anak Dibawah Umur

Posted by Ratna in marriage on 28-10-2008

Sudah tahu kasus ini bukan? Beberapa hari terakhir ini berbagai media massa ramai-ramai memberitakan hal ini. Adalah Ulfa, seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang diperistri Syekh Puji, seorang miliarder berusia 43 tahun, pendiri dan pengasuh sebuah pondok pesantren di Jawa Tengah.

Kasus ini mencuat ke publik karena Syekh Puji dinilai telah melanggar UU Perkawinan dan UU Perlindungan Anak. Dimana dalam dalam salah satu pasal tentang Perlindungan Anak, disebutkan bahwa orang tua berkewajiban untuk tidak mengawinkan anak di bawah umur. Dalam UU tersebut dijelaskan bahwa definisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Kita coba lihat dari bird saya’s eye view… :mrgreen:
Satu. Kedewasaan berpikir dan kematangan fisik tiap manusia berbeda.
Sebagai contoh. Dulu, waktu saya berusia 12 tahun, saya masih pecicilan. Masih hobi main perang-perangan dan bersepeda sama teman-teman. Tidak suka membantu bersihkan rumah, apalagi disuruh-suruh. Belum pula menstruasi. Berbeda dengan salah satu teman perempuan sekelas saya. Dia begitu anggun, berbicara seperlunya, rajin belajar, rajin mengaji, membantu ibunya mencuci baju, ke pasar, jaga warung, mengasuh adik-adiknya, dan sudah menstruasi sejak beberapa tahun sebelumnya.
Jadi, di usia yang sama, kematangan fisiologis dan atau psikologis satu individu berbeda dengan individu lainnya. Makanya, ada orang yang sudah berumur 30tahun, tapi bisa dikatakan masih belum siap mental untuk menikah.

Kedua. Uyut (ibunda nenek saya) menikah di usia 12 tahun, dan dikaruniai 12 anak yang sehat-sehat. Selama itu, tidak ada keluhan apapun dengan alat reproduksinya dan rumah tangganya pun awet sampai ajal menjemput.

Ketiga. Rasulullah SAW menikahi Aisyah r.a di usia 9 tahun. Saya lupa kisah persisnya bagaimana. Seingat saya, Rasulullah menikah dengan Aisyah banyak bercanda dan bermain-mainnya. Namun sebagaimana kita tahu, kehidupan Rasulullah SAW bersama Aisyah r.a. berlangsung lancar-lancar saja. Bahkan Rasulullah bisa mencapai kemenangan menegakkan Dinullah, bukan tanpa peran serta Aisyah, bocah yang dulu dinikahi di usia dini.

Jadi?
Menurut saya, sah-sah saja menikahi anak usia 12 tahun. Cuma, ini negara Indonesia. Orang Islamnya terikat dengan dua ukuran. Di satu sisi sebagai Muslim dia terikat pada syariat, sementara di sisi lain sebagai warga negara dia terikat pada hukum positif, dalam hal ini UU Perkawinan.

Selain itu, kematangan fisik seorang anak tidak identik dengan kematangan psikologinya. Sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor dan sudah menstruasi, secara mental bisa jadi ia belum siap untuk berhubungan seks. Kehamilan bisa saja terjadi pada anak usia 12 tahun. Namun, psikologinya belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Jika dilihat dari tinggi badan, wanita yang memiliki tinggi dibawah 150 cm kemungkinan akan berpengaruh pada bayi yang dikandungnya. Posisi bayi tidak akan lurus di dalam perut ibunya. Sel telur yang dimiliki anak juga diperkirakan belum matang dan belum berkualitas sehingga bisa terjadi kelainan kromosom pada bayi. Dalam menghadapi persalinan, kematangan psikis juga sangat berpengaruh.

Tapi… Kalau memperhatikan kontroversi yang terjadi sekarang, apakah justru ‘para pembela hak anak’ itu sendiri yang malah ‘menyerang’ Ulfa secara tidak langsung? Membuat Ulfa merasa jadi orang terbodoh di dunia karena mau saja dinikahi oleh orang tua yang jauh lebih pantas jadi ayahnya? Merasa tidak nyaman dan aman karena diberitakan dimana-mana? Bukankah tidak boleh membuat ‘anak’ menjadi drop mentalnya karena terekspos media terus-menerus? Menyakiti hatinya dengan menghujat suaminya (yang nota-bene pilihannya juga) di media-media massa?

Atau, mengapa banyak orang meributkan masalah kematangan psikologis dan alat reproduksi untuk berhubungan intim jika menikah dini? Padahal di lain pihak, banyak anak-anak bau kencur yang sudah tidak virgin lagi. Sudah banyak 3gp-3gp berseliweran di dunia maya yang para pelakonnya anak-anak pra ABG. Begitu pula kasus-kasus pemerkosaan yang ternyata bisa dilakukan oleh anak-anak SD. Siapa yang peduli hal ini?

Mengapa tidak ada UU Perlindungan Anak yang mewajibkan orangtua untuk tidak memberi izin anak-anaknya berpacaran? Yang justru malah dari pacaranlah banyak petaka terjadi.

Menurut saya. Perkawinan adalah hal yang bersifat pribadi. Menjadi ranah publik, atau kewenangan pemerintah jika dalam perkawinan tersebut ada kekerasan atau untur paksaan, sehingga membuat salah satu pihak menderita. Atau hak-haknya terampas. Kalau keduanya saling mencintai dan sepakat untuk membina keluarga sakinah…ya why not?

Untuk memutuskan menikah atau tidak tentu bukan masalah sepele. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Bukan hanya sekedar suka-sama suka lalu ‘jreng!’. Dan yang pasti, umur bukan satu-satunya tolok ukur orang bisa atau tidaknya melewati sebuah pernikahan dengan baik.

At least. Saya bukan ingin membela atau mendiskreditkan pihak-pihak tertentu. Kalaupun saat ini saya jadi Ulfa, saya juga akan menolak dijadikan istri Syekh Puji. Karena saya masih ingin bebas bermain dengan teman-teman, dan yang pasti ingin suami yang ganteng ;)

Update 31 Oktober 2008:
Setelah bertemu Kak Seto Mulyadi dari Komnas Perlindungan Anak, akhirnya Syekh Puji mau menceraikan Ulfa dan mengembalikan Ulfa ke ‘habitat’nya. Dengan demikian Ulfa dapat bersekolah lagi, bermain dengan teman-temannya dan berkumpul bersama keluarganya lagi.

Namun, apakah ini mengakhiri persoalan? Apakah Ulfa begitu dengan mudahnya kembali pada kehidupannya yang dahulu? Apa tidak ada perasaan malu terhadap lingkungannya? Perasaan malu karena merasa dirinya telah ‘berbeda’ dengan teman-teman perempuannya? Apakah nanti Ulfa akan terbebas dari ejekan teman-temannya? Belum lagi pikirannya terbebani orangtuanya yang terancam hukuman penjara karena telah melanggar UU Perlindungan Anak. Apakah kejadian ini tidak membuat Ulfa stress? Tak terbayang oleh saya bagaimana keadaan Ulfa sekarang… :(

Banyak hikmah yang dapat kita petik dari kasus ini. Terutama untuk para wali nikah a.k.a. ayah para gadis yang akan dinikahkan. Agar benar-benar bertanggungjawab terhadap pernikahan anak gadisnya termasuk dalam memutuskan memilih calon suaminya dan kapan waktu yang tepat untuk menikahkan anak gadisnya.

Satu lagi. Kontrol sosial sangat diperlukan. Terutama jika terindikasi pernikahan berunsur traficking, paedofilia terselubung, atau pemaksaan-pemaksaan sejenis.

Untuk Ulfa, apapun yang terjadi, semoga Happy Ending!

Kleptomania

Posted by Ratna in OON (out of niche), healthy life, you need to know on 27-10-2008

Beberapa hari lalu, seorang teman dekat saya kedapatan mengutil di sebuah hypermarket. Tentu kaget dong. Mengingat dia seorang alim, terpelajar, punya status sosial tinggi dan secara materi pun berkecukupan. Barang yang diambil pun yang harganya tak seberapa: batu baterai ukuran AAA.

Berdasar pengakuan si teman, ia melakukan tindakan ini untuk ketiga kalinya di hypermarket yang sama. Sebelumnya, ia pernah mengutil pentil ban mobil dan paper clip. Waduh. Aneh deh. Untuk sebuah barang yang murah, yang sudah pasti dapat ia beli, ia kok berani mempertaruhkan reputasinya yang sudah baik di masyarakat ya? Read the rest of this entry »

On Your 32nd…

Posted by Ratna in silly poem on 17-10-2008

Here’s a wish for happiness
and many dreams come true
Not only on your Special Day
but always - all life through

You,

For better or worse, through thick and thin,
you’ve been there by my side
sharing the laughter and the tears
through life’s uncertain ride.
We don’t know what the future has
in store for you and me
but this I know, without a doubt,
the best is yet to be.

May your birthday bring
You as much happiness
As you give to everyone
Who knows you

Happy  Birthday My Husband

Play Station vs Galah Asin

Posted by Ratna in fun learning, nostalgia on 14-10-2008

Musim libur lebaran ini, di rumah hampir tiap siang dipenuhi anak-anak tetangga untuk bermain. Tidak penuh-penuh amat sih. Paling sampai 5 orang. Cuma karena rumahnya kecil, jadi terasa penuh :mrgreen:

Melihat mereka bermain, kok sepertinya membosankan ya? Maunya main PS lagi-PS lagi. Komputer lagi-komputer lagi. Kalau berkumpul di luar pagar pun yang dibahas tidak terlepas dari game. Paling sesekali main petak umpet alias ucing sumput. Sudah.

Saya coba beri buku-buku cerita, kertas-kertas gambar dan crayon. Tapi tidak lama kemudian anak-anak sudah bosan. Main ular tangga, halma dan ludo juga hanya bertahan sebentar. Yang agak anteng paling waktu dikasih mainan malam alias lilin mainan (play-dough). Sampai saya akhirnya ikutan nimbrung dengan anak-anak, ngobrol-ngobrol tentang masa kecil saya yang banyak sekali permainan. Yang pada akhirnya saya mengajari mereka sebagian permainan jadul meski sayanya juga lupa-lupa ingat. Read the rest of this entry »

Sudah Tiga, Atau Baru Tiga?

Posted by Ratna in birth n pregnancy, mom's corner on 14-10-2008

Lebaran kemarin, ketika bertemu saudara atau teman, hampir semua bertanya, “Berapa anakmu?”
Tentu saja langsung saya jawab dengan mantap, pasti dan jujur: “Tiga.” :mrgreen:

Cuma setelah itu pasti diledekin. Macam-macamlah. Ada yang bilang rajin amatlah, musim hujan melululah, pokoknya segala macam. Maklum, saya dan suami baru memasuki usia 30 sudah berbuntut banyak. Karena dulunya menikah muda. Sedangkan saudara dan teman, kebanyakan baru memikirkan pernikahan setelah usia diatas 27 tahunan. Adik saya pun yang sudah bangkotan sampai saat ini masih memikirkan urusan karier dan melanjutkan kuliahnya.

O ya. Ketika saya jawab “tiga”, ada saja yang menyeletuk “Baru tigaaa…” Atau kalau saya menjawab “sudah tiga” pun: “Tinggal berapa lagi nih?” Hoh, memangnya pakai target lusinan gitu? :mrgreen: Read the rest of this entry »

Voltus V

Posted by Ratna in nostalgia on 11-10-2008

Pernah dengar atau tahu tentang Voltus V? Bagi yang mengalami masa kanak-kanak di tahun 80-an pasti tahu. Tenar sekali saat itu. Sama boomingnya dengan Google V, Gaban, Sharivan, Megaloman dan Lionmaru. Cuma kalau yang barusan saya sebutkan itu termasuk tokusatsu. Kalau Voltus V itu film kartun, produksi Jepang juga.

Saya jadi teringat film ini gara-gara tadi pagi Global TV menayangkannya. Jadi nostalgia deh. Saya bisa lihat lagi aksi Kenichi, Ippei, Daijirou dan kawan-kawan. Bisa dengar lagi si Voltus berteriak “Tenkuken!” ketika akan menghabisi lawannya. Lagu-lagunya pun masih saya ingat. Kalau mau, saya punya nih mp3nya. Opening dan ending Voltus V Soundtrack. Kalau mau mengunduh atau download, silakan kesini dulu.

Sundanesse Paid Review (maunya…)

Posted by Ratna in Iseng on 10-10-2008

Sori nya… Kanu teu bisa make atawa teu ngarti basa Sunda. Kuring keur sono pisan gunem catur dina basa my indung. (Heheh… apaa lagi my indung?)

Sabenerna kuring teh hayaang pisan boga blog husus basa sunda. Sepesial jang ngocoblak nu teu make jaim-jaiman. Ngan eta tea… Ngurus hiji wae ripuh. Hak-hik-hek kaditu-kadieu sanajan di imah ge. Gawe ngan nyerek si bungsu nu ngebut kokorondangan nepi ka dapur. Can deui kudu gogorowokan nitah si cikal ampih, da ulin wae ka jalan. Atawa nungtun si panengah kaluar ti kamar mandi bari nyetel radio butut setatsion biwir. Bongan hayoh wae ngancrub-ngancrub cocooan kana bak.

Tah geuning! Aya wancina oge. Kuring rek indehoy heula di dunia maya. Da barudak geus sarare tibra. Salaki ge keur ngaronda dines peuting. Keun bae gerohan mah. Oge antep sajah dulu cocooan yang paburantak. Jeung korsi-korsi tamu nu tadi digalusur, nu cenah eta teh kareta api. Eike rek hepi-hepi rait naw… Asseeekkk… Asseeeeekk… Hayu lah. Wang ceting! Heuheuy deuh… Internet… Em kaming yeuh!

Lebaran, My 100% Holiday

Posted by Ratna in Intermezzo, mom's corner on 08-10-2008

Banyak saudara maupun teman saya yang stres ketika lebaran usai. Badan capek setelah berkunjung kesana-kemari. Rumah kotor dan berantakan. Cucian baju dan piring-gelas menumpuk. Pembantu belum kembali dari kampungnya. Belum kalau anak-anak rewel…

Bagi saya,lebaran justru santai sekali. Sebab menginap di rumah orangtua/mertua, anak-anak banyak yang mengasuh. Om-omnya, tantenya, nenek-kakeknya… Makanan juga sudah tersedia. Lengkap pula. Jadi tinggal nyam-nyam tanpa harus repot-repot masak. Cuci piring juga sekali-sekali saja. Sebab banyak saudara yang pada rajin bantu-bantu. Kalau cucian baju sih, dibekal saja. Urusan nanti kalau sudah sampai rumah :mrgreen: Saya lagi mau nikmati liburan saja. Cuti dulu jadi ibu rumah tangga. Hehe..

Terkecoh CCTV Streaming Mudik

Posted by Ratna in you need to know on 08-10-2008

Baca juga: Taktik Mudik Pakai CCTV Streaming dan GPS

Harapan untuk bisa mudik dengan lancar ternyata jauh panggang dari punggung :) Padahal sebelum pergi pulkam saya sudah ngecek titik-titik macet menuju Tasikmalaya. Semua lancar. Maka dengan pede-nya, di hari H lebaran, setelah sungkeman dan makan-makan di rumah mertua di daerah Suci, Bandung, kami langsung meluncur ke rumah orangtua saya di Tasikmalaya.

Apa daya, keluar kodya Bandung yang biasanya hanya memakan waktu setengah jam, ini diperlukan waktu sampai delapan kali lipat. Empat jam! Mana cuaca sangat puanaasss. AC distel full pun seperti tidak ada artinya. Kasihan sekali lihat orang-orang di mobil tanpa AC atau yang berada di mobil bak terbuka. Mukanya merah-merah matang gitu… :(

Read the rest of this entry »

Selamat Idul Fitri 1429H

Posted by Ratna in daily activity on 01-10-2008

Dari hati yang terdalam… Mohon dimaafkan segala kesalahan. Barangkali ada yang pernah tersakiti oleh tulisan saya, komen, respon komen atau interaksi lainnya. Minal aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir bathin.