Baju Lebaran
Ghina, teman bermain Abil bertanya pada saya; “Tante, Abil udah dibeliin baju lebaran belum?”
Sejenak saya tertegun. Baju lebaran?
Tak lama saya bertanya balik: “Baju lebaran buat apa ya?”
Ghina, anak kelas 4 SD itu hanya mesem-mesem. Malah Abil yang nyerobot, “Ma, Abil mau baju lebaran…”
Saya : “Baju lebaran buat apa?”
Kini giliran Abil yang cengar-cengir. Pasti. Abil ngga ngerti baju lebaran itu untuk apa.
Saya : “Ayo… Kenapa harus beli baju lebaran?”
Ghina: “Mmmm… Ngga tau. Mama Ghina aja yang suka beli kalau lebaran.”
Wah. Tradisi beli baju untuk lebaran ternyata ngga pernah hilang ya. Mau di kota, di kampung sama saja. Mau lebaran pasti orangtua pada ribut berburu baju buat anak-anaknya. Kecuali saya aja kali yaa, hihi…
Dua tahun lalu, saya sempat kena omel dan gunjingan orang-orang sekitar saya. Gara-gara saya sekeluarga ngga pakai baju baru saat lebaran. Terutama anak-anak. Katanya ngga peduli anak lah. Teungteuingeun lah. Sampai, “Masak anak tukang becak aja Bapaknya mampu beliin, ini anak dokter kok pake baju lama?”
Sebenarnya bukan masalah mampu tidak mampu. Dan juga bukan masalah tidak menghormati tradisi. Tapi apakah itu penting?
Saya (dan suami tentunya) hanya ingin anak-anak kami tidak menafsirkan lebaran sebagai hari yang wajib memakai segala yang baru dan bagus. Apalagi untuk riya dan berfoya-foya. Dimana kebanyakan orang berlebaran hanya untuk petantang-petenteng, show-off kesana-kemari.
Insya Allah. Anak-anak saya akan selalu percaya diri meski berlebaran tanpa baju baru. Yang penting, di hari tersebut anak-anak saya berpakaian pantas, bersih dan rapi. Juga mereka bisa memaknai lebaran sebagai the real Idul Fitri. Hari dimana orang ‘kembali berbuka’, bisa makan-minum seperti biasa di siang hari. Tentunya dengan kebiasaan positif, dimana di dalamnya orang-orang yang biasanya berjauhan bisa saling bertemu dan memaafkan. Tanpa harus ada kesan bermewah-mewah.








This post has 5 comments
September 28th, 2008
saat baca postingan di atas.., saya nge-bayangin wajah anaq2 lugu itu (ghina dan abil)..
, must be cute isn’t it??
September 28th, 2008
Memang betul…… lebaran bukan bermakna berfoya2 dengan baju2 baru dan segala macam hal2 duniawi lainnya. Dan bahkan lebaran juga bukan bermakna berjejal2 atau berpayah2 pulang kampung yang berdesak2an dan menghabiskan ongkos itu. Yang penting diajarkan dari usia dini bahwa lebaran yang penting berawal dari ibadah puasa Ramadhan yang khusyuk dan ikhlas, setelah itu baru di hari raya Idul Fitri kita merayakan kemenangan kita dalam menjalankan ibadah puasa kita dengan cara bermaaf2an dan juga dengan menjaga tali silaturahim…..
September 29th, 2008
pagi pagi menebar benih
pulangnya di hari senja
sebentar lagi lebaran nih
maafkan ane jika ada salah ya
salam kanal
September 30th, 2008
Waktu anak-anak kecil (TK s.d awal SD) saya selalu membelikan baju baru untuk Lebaran, karena kawatir pertanyaan teman kecil seperti itu, kalau dari sesama orangtua sih nggak pernah dapat komentar apa-apa. Tapi setelah mereka cukup mengerti, dan kami menyiapkan dulu dengan cerita, apa makna Lebaran atau hari kemenangan…baru deh mereka tak apa-apa tanpa baju Lebaran.
Namun ada tapinya…ganti mereka yang berkata..”Ibu, nanti kalau ayah ibu ada rejeki, saya boleh kalau minta…….?” Minimal anak-anak sudah dilatih kalau minta sesuatu mesti memberi waktu, karena ortu nya tak selalu punya uang.
Oktober 5th, 2008
itulah beda si kaya dan si miskin, bagi si kaya beli baju baru emang ga mesti lebaran karena bisa tiap bulan bahkan bisa tiap minggu beli yang baru. tapi bagi yang punya uang paspasan ya moment lebaran ini mereka ada kesempatan beli baju baru, karena ortu mereka baru dapat thr. dan dihari biasa gaji pas buat makan aja