PRT, Perlu Atau Tidak
Kemarin saya menelpon seorang sahabat di luar kota. Sekedar melepas kangen. Tapi sahabat saya itu seperti sedang sangat sibuk dan langsung minta maaf tidak bisa menerima telpon saat itu lalu berjanji malamnya dia telpon balik saya. Namun baru besoknya (tadi) pagi-pagi sekali dia baru telpon dan bilang kalau minggu ini lagi repot banget karena pembantunya pulang kampung. So telpon saya kemarin di ‘reject’.
![]()
Jadi ingat, sehabis lebaran idul fitri tahun kemarin saya YM-an dengan teman yang lain, ibu-ibu juga. Dia curhat, katanya terkena lebaran fever. Badannya pegel-pegel semua. Saya kira dia kecapean sehabis mengunjungi dan salam-salaman dengan sanak-saudara dan kerabat. Ternyata: “2 minggu gue jadi Upik Abu. Gilee…cape banget. Kerjaan ngga abis-abis. Pembantu gue mudik semua…” Walah…
Memang bukan sekali dua kali saja saya ‘menemukan’ teman yang kewalahan ketika pembantu atau baby sitternya tidak ada. Masih saya anggap wajar sekali kalau sang Ibu bekerja di luar rumah dan anak masih perlu pengawasan (balita). Tapi saya suka ‘empet’ sendiri kalau sang Ibu hanya berada di rumah, anak belum terlalu banyak (baru satu atau dua), atau anak sudah besar (sehingga bisa diajak bantu-bantu), fasilitas pendukung tersedia (air banyak-tinggal ngocorin dari kran-ngga usah nimba, mesin cuci ada) tapi masih saja mengeluh dan merengek-rengek. Bayangkan orang-orang generasi dulu (seangkatan ibu, nenek or uyut kita) anak enam, sepuluh bahkan dua belas bisa dibesarkan sampai ‘jadi orang’ tanpa pembantu!
O iya, saya juga sering mendapat komentar dari teman-teman saya. Seperti: “Kalo aku sih, harus punya minimal satu pembantu.” “Gila aja anak tiga ngga punya pembantu…” “Na, masa sih ga punya pembantu? Anak-anakmu apa ngga terlantar tuh…”
Tidak dapat dimungkiri, saya pun terkadang kewalahan menghadapi tugas harian ibu rumah tangga. Tapi… itu semua hanya terasa jika saya ingin perfect. Ingin semua pekerjaan beres dalam satu waktu. Yang keluar ujung-ujungnya malah cuma omelan. Pekerjaan pun jadi ‘awur-awuran’ ngga karuan. Ngga puguh mana yang harus diselesaikan duluan. Apalagi kalau setelah diprovokasi temen-temen tadi.
But in fact… Alhamdulillah, (mungkin agak narsis dikit…) saya bisa ngerjain semua sendiri. Mungkin ngga kinclong-kinclong amat sih rumahnya. Setrikaan ngga beres semua dalam sehari, masakan menunya kurang lengkap. Atau di salah satu sudut ruangan mungkin ada tertinggal debu. Terus suka lupa naro gunting kuku dimana… Tapi secara keseluruhan saya bisa bilang: beres! Termasuk beres ngasuh anak. Minimal anak saya ngga kucel bin kumel dan tidak termasuk anak-anak yang minta perhatian lebih.
Mungkin ini juga hikmahnya tidak dimanja oleh keberadaan pembantu. Anak-anak saya sudah terbiasa melihat ibunya sibuk bersih-bersih dan multi-tasking jadi ada kesadaran dalam diri mereka untuk menghargai ibunya. Di usia yang masih belia, mereka seringkali saling menasihati satu sama lain untuk ngga ganggu saya kalau saya lagi tiduran. “Jangan ganggu Mama. Kasian cape…” Hiks, jadi terharu deh. (Notes: tapi ngga selamanya manis begini sih. Seringnya mah teteuph aja suka ribut. Cuma saya ingin mengenang yang baik-baiknya aja…
)
Hikmah lain, dibanding tetangga-tetangga saya yang ber-babu, anak-anak saya jauh lebih mandiri. Seperti mandi, cebok, beresin mainan, makan dan berpakaian sendiri. Ini juga saya lihat di tetangga lain yang tidak berpembantu, anaknya juga lebih mandiri. Mungkin kalau punya pembantu, anak-anak cenderung ditolong terus. Diambilkan ini-itu, dibantu, diturut semua inginnya.
O,ya. Satu lagi. Suami saya juga sering membantu ‘kerjaan ibu-ibu’ saya. Kalau hari libur, tidak segan-segan turun tangan bantuin saya mengasuh anak, cuci piring bahkan memasak. Anak-anak yang biasanya tukang meledek orang yang mengerjakan pekerjaan lintas gender, ini justru bangga dengan ayahnya. Bilang kepada orang-orang “Papah aku bisa masak lho! Laki-laki tapi jago masak…”
Bagaimanapun punya pembantu atau tidak itu terserah kepada yang menjalankan rumahtangga itu sendiri. Kalau saya dan suami sih, lebih nyaman tidak punya pembantu. Kalau sehari dua hari bantu-bantu sih tidak masalah. Kalau setiap hari ‘mejeng’ di rumah, ngga nyaman ajalah… serasa sumpek gitu. Apalagi rumah kami kan ga luas. Belum lagi perasaan was-was yang selalu hinggap di kepala saya: pembantu akan menculik dan menjual anak-anak saya kalau saya lengah. Misalnya waktu saya mandi, tiba-tiba mereka lenyap. Hii…
Tapi, saya juga mungkin akan punya PRT kalau:
- Rumah saya berikut halamannya luas (diatas 400m2). Butuh tenaga ekstra buat merawat rumah sebesar itu. Pasti lebih lama nyapu dan ngepelnya. Bakalan ngga sempet ngerjain pekerjaan lainnya. Keburu cape!
- Harus nimba (mengkatrol air dari dalam sumur) buat keperluan sehari-hari.
- Ga ada mesin cuci.
- Punya anak kembar.
- Punya suami perfeksionis yang rewel selalu ingin makanan enak bin lezat ala resto, rumah bebas debu, laci yang rapi, istri yang selalu bebas wajah lelah dan berpenampilan bak artis…
Bagaimanapun, adalah hak prerogatif sebuah keluarga untuk punya pembantu atau tidak. Saya rasa banyak keuntungan yang diperoleh dengan mempunyai pembantu. Misalnya, waktu dengan anak-anak akan lebih banyak, karena sebagian tugas kita ada yang mengerjakan. Selain itu, kualitas pengasuhan yang lebih baik kepada anak-anak juga lebih memungkinkan. Karena energi kita tidak terlalu banyak terbagi dengan tugas-tugas rumah tangga lainnya.
Namun, jangan sampai dengan adanya pembantu malah membuat kita jadi tidak produktif. Misalnya karena banyak waktu luang, hanya duduk-duduk di depan televisi menonton acara yang sebenarnya tidak perlu. Malah kadang anak-anak dititipkan pembantu saja buat diajak main ke luar rumah, biar bisa nonton acara TV kesayangan. Ini yang sering saya temui di banyak kalangan. Halah… Kasihan kau, Nak…








This post has 17 comments
September 15th, 2008
Kata2 apa yah yang co2k..??, hmmm.., SALUT!!, semoga calon istri saya (pacar) liat tulisan mbak
, saya ga pengen anaq saya ntar jadi “anaq pembantu”, nurutnya malah sama “si bibi” daripada sama ibu atau ayahnya sendiri.., dohh.., gawat.., ga mau.., ga mau..
September 15th, 2008
Wah mesti byr
September 15th, 2008
Huehehe…. ibu2 di Indonesia memang sedikit manja karena pembantu RT di sini sangat murah. Berbeda di luar negeri di mana tenaga pembantu sangat mahal: bisa mencapai US$ 800 per minggu !! Jadi apa susahnya sih capek barang seminggu?? Wong saya aja yang cowok kalau pembantu pergi juga ngga kaku kok ikut membersihkan rumah bahkan ikut mencuci piring, yang bagi kebanyakan cowok Indonesia masih terlihat aneh! Yah, begitulah Indonesia, yang seharusnya aneh dibilang nggak aneh, yang seharusnya baik dan nggak aneh, eh dibilang aneh! Huehehe……
September 15th, 2008
HHHmmm…
Setuju Ibu …
Dan juga mungkin punya PRT kalau sedang punya Bayi …
Kasihan melihat wanita yang masih punya bayi kecil itu … terus melakukan semua pekerjaan rumah tangganya sendirian saja …
ah itu melelahkan sangat …
Gak tega ngeliatnya Bu …
Sumpah …
September 15th, 2008
Yang penting PRT itu jangan buat ‘meladeni’, tapi ‘membantu’. Sesuai dengan kata2 ‘pembantu’.
Misalnya: anak kelas 3 masih disuapin, itu namanya ‘diladeni’, bukan ‘dibantu’.
Memang susah juga mendidik anak, sedangkan kita suami istri kerja semua. Tapi minimal menyempatkan duduk dan main sama anak2. Uangell..!!
September 16th, 2008
dirumah juga ndak ada pembantu Mbak..
sy kdng kasihan lihat istri mberesin semuanya..
sambil gendong sikecil yg lumayan gendut hehehe
menurut sy,
perlu adanya PRT dirumah, biar ibunya bisa lebih konsentrasi ngedidik anak.
September 16th, 2008
Mama saya ga pernah punya pembantu, alhamduillah berhasil membersarkan ketiga anaknya dan masih sempat membantu papa dengan menerima pesanan makanan, ikut kegiatan ibu2 PKK & Darma Wanita, juga pengajian dan mengajak anak jalan2
. Anak2 juga diajarin berbagi kerjaan rumah tangga seperti menyapu dan mengepel….
September 16th, 2008
kebiasaan senang yah gitu bu… jadi kurang sehat. gitu banyak gerak pada pegel tuh badan
September 17th, 2008
Di rumah saya ada pembantu sewaktu anak2 udah pada gede, dan tugasnya juga cuma masak dan nyuci aja, nggak sampai ngurusin anak
tapi emang bermanfaat sebetulnya. Dan lebih enak pake kata “penolong” daripada “pembantu”, kesannya lebih mulia
September 17th, 2008
Liat tulisan mbak..jadi ingat ibu saya..
Salam kenal yak.
September 17th, 2008
bagi saya penting, kalo gak ada yang bantu wah bisa amburadul tiap pagi
wah ketinggalam blog barunya
September 18th, 2008
buat saya pembantu itu perlu…apalagi saya punya anak di bawah 2 tahun,..aduh reepooott
September 18th, 2008
Pengalaman saya PRT:
kalau nggak muda banget (sekalian disekolahin) tapi konsekuensi umur20-an ditinggal pulang buat dikawin ma pemuda di kampungnya, atau kalau nggak agak tuaan (tidak terkekang anak2nya yang masih kecil) heheh
September 18th, 2008
Betul sekali. Yang namanya pembantu, tugasnya kan hanya membantu pekerjaan yang tidak sempat ditangani oleh ibu-ibu.
Jangan sampai pembantu meng-cover seluruh pekerjaan, sedangkan ibu-ibu santai.
September 19th, 2008
broadband nya indosat blon sampe kesana yah bu, maren sempat baca katanya ampuh tuh broadband nya indosat
Nopember 25th, 2008
iya mba,.aku sdh tdk ber-pembantu sejak 4,5th yg lalu,wkt itu anak anakku usia 3th,5bln..tp krn enjoy,jd semua lancar2 aja,hanya malah manajemen wkt dan akan semakin mudah kl pekerjaan rmh tg dibikin sistemnya,..jd efisiensi wktdn tenaga..dn yg paling terasa saat idul Fitri,kita ttp merasa tdk ‘kehilangan’ sesuatu,..krn toh hari2 biasa mmg tanpa pembantu..(saat org2 lain stress krn ditinggal mudik)…sy terinspirasi sm temen yg tinggal di belanda,..dia ga pny pembantu krn mmg mahilll dn mmg ga dg budaya’punya pembantu’…ok mba,salam kenal ya
Januari 29th, 2009
Salut juga…
Mo tambahan nich buat alasan saya mungkin akan punya pembantu jika :
1. Punya mertua yang bawel yang tinggal serumah, yang maunya rumahnya bersih.
2. Punya mertua yang rewel yang mengharuskan anaknya dikasi makan 4 sehat 5 sempurna yang fresh dari kompor. jadinya sehari harus masak 3 kali sehari, kalo malam dikasi makanan yang dimasak siang katanya sudah ga bergisi.
3. Punya anak bayi yang sudah bisa merangkak dan sekarang mulai berantakin seisi rumah + dan mulai belajar berdiri di tempat yang membahayakan.
4. Punya mertua, yang bajunya sebelum direndem harus disikat dulu bagian yang kotor baru kemudian dibilas, kemudian baru bole dech direndam ampe besok pagi untuk dicuci.
5. Dan seabrek2 alasan lagi.
Huhuhu… nasibku..
Mana ini pembantu baru dapat 3 hari da cabut, ktnya neneknya sakit, mamanya harus jaga neneknya jd ga bisa jaga anaknya.
Cape dech….padahal da diwanti2 ama agennya ga mau yang alasan macam2 buat pulang. eh kejadian beneran..
Pembantu…pembantu…
kalo yang muda ganjen banget, setiap ada tukang ato abang yang dateng ke rumah digangguin, trus da kenal HP, kerjaannya SMS-an melulu. da kenal cowok, kerjaannya melamun terus.
kalo yang janda, sering alasan anaknya buat pulang de.. el..el..
kalo yang tua, kasian waktu dia manjat2 kursi buat bersihin ventilasi jendela.. dan tenaganya da ga sekuat yang muda.
jadi bagusnya yang mana??? Semuanya cape dech…
Pertama kali ditanya, niat kerja, iya jawabnya. Tapi da kerja jadi ga niat trus minta cabut dech….
Trackbacks