Membuat Play Dough Yang Higinis & Bebas Racun

Posted by Ratna in featured-images, fun learning, mom's corner on 20-08-2008

Play dough atau play-doh, istilah populer jaman sekarang. Dulu saya suka pakai istilah malam atau plastisin. Kadang ada orang yang menyebutnya lilin mainan, karena bahan untuk membuatnya mungkin sama dengan bahan dasar membuat lilin/ parafin. Tapi kurang nyaman dipakai karena bikin tangan jadi berminyak.

Menyenangkan sekali bermain dengan play dough. Bisa membuat aneka bentuk semau kita. Dulu saya pernah memakai tanah liat sebagai media. Setelah dibentuk, lalu dijemur hingga kering. Dari mulai bentuk standar: asbak, sampai bikin patung pocong :) Murah (gratis malah…) tapi tidak meriah. Selain warnanya yang cuma satu macam (ngga asik lagi warnanya), juga tidak dijamin bebas kuman.

Sekarang, saya sudah punya resep membuat play dough yang aman buat dimainkan. Saya dapatkan resepnya dari buku Creative Child karya Dr.Dorothy Einon. Anak-anak saya suka sekali, karena adonannya tidak lengket apalagi berminyak seperti yang kebanyakan dijual di pasaran. Terus, warnanya menarik sekali…dan ada wangi makanannya. Karena saya pakai pewarna makanan dalam bentuk essence atau pasta.

Buatnya gampang sekali: Read the rest of this entry »

Tips Mencukur Rambut Anak

Posted by Ratna in daily activity, mom's corner on 14-08-2008

Anak-anak saya tidak pernah mau mencukur rambutnya di tukang cukur atau salon. Mereka hanya mau dicukur rambut oleh saya, atau oleh Papanya. Tidak peduli potongannya nanti seperti apa.

Sempat stress, karena saya tidak pernah mencukur rambut orang sebelumnya. Cuma daripada mereka gondrong seperti Mbah Jambrong, akhirnya saya nekat mencukur rambut mereka. Bismillah saja.

Mencukur rambut bukan hal mudah, apalagi yang empunya rambut adalah anak kecil/ balita. Salah-salah bukan hanya rambut yang digunting, tapi telinga pun bisa terluka karena tergunting.

Saya menggunakan cara-cara ini saat menggunting rambut anak-anak: Read the rest of this entry »

Menghemat Belanja Dapur

Posted by Ratna in daily activity, food 'n eat, mom's corner on 01-08-2008

Harga-harga naik. Termasuk harga keperluan dan belanja dapur. Tidak bisa diganggu gugat dengan berkeluh-kesah, bahkan berdemo ramai-ramai. Kalau saya, paling cuma bisa kutak-katik daftar belanjaan dan menu harian saja. Cukup pusing juga mengatur dana terbatas dengan berharap hasil sebaik mungkin. Dalam arti, makanan yang disajikan tetap menarik/ menggugah selera, gizi harian keluarga pun tercukupi.

Saya mencoba mengefisienkan biaya dapur, dengan cara:

Belanja dalam jumlah besar.
Belanja kecil-kecil dan sedikit tiap hari jatuhnya mahal. Lebih baik belanja untuk keperluan satu minggu sekaligus. Kalau belanja di pasar/ titip belanja ke ibu warung, belanja banyak bisa dikorting. Dengan catatan punya kulkas. Karena setelah selesai belanja, bahan-bahan masakan harus segera dibersihkan. Cuci semua sayuran dan daging. Simpan dalam wadah bertutup rapat. Daging/ ikan ditaruh di freezer/ chiller. Sayuran disimpan di vegetables bin. O iya. Untuk tahu, direndam dalam wadah bertutup berisi air bersih. Ganti airnya setiap hari. Meski ‘fresh from pasar’ lebih baik, tapi kan judulnya buat penghematan :mrgreen:


Meminimalkan bumbu

Jangan harap ada masakan Padang di rumah saya. Selain bikinnya lama, menguras tenaga, juga bumbunya itu bow! Rame banget dan sudah pasti mahal. Di rumah, saya pakai bumbu yang light n mild. Kalau bisa, cuma pakai garam doang. Seperti masak telor ceplok, hihi…
Tapi bumbu minimalis juga bisa kok buat makanan cihuy. Misalnya bikinsteak atau sushi.

Mengganti dan memodifikasi menu
Yang tadinya beli 1 kilogram daging sapi hanya untuk disemur saja hari ini, coba dagingnya dibagi dua bagian. Untuk hari ini dan untuk besok. Menu hari ini diganti judulnya, dari semur daging sapi menjadi semur kentang pakai daging. Tentu, biayanya jauh lebih hemat dibanding masakan yang full daging. 1/2 kg sisanya, bisa dipakai besok untuk membuat sop, misalnya. Buat pengganti AKG daging yang hilang, bisa diganti telur yang lebih murah. Lagian kalau keseringan makan daging nggak baik juga buat kesehatan. (Psst…. terutama kesehatan dompet, hihi…)

Kurangi makanan pelengkap
Misalnya kerupuk, sambal, acar, atau bawang goreng. Memang makanan terasa ada yang kurang tanpa kehadiran ‘mereka’. Tapi lumayan lho anggaran yang bisa dipangkas hanya dengan menghilangkan ’si embel-embel’ ini. Untuk makan krupuk sehari, misal 10 buah= Rp 2.000,00. Sebulan beli krupuk sampai Rp 60.000,00. Kan lumayan tuh, bisa beli daging ayam sampai dengan 3 kg. Apalagi sambel. Harga cabai merah sekarang kan buzzubunengng! Read the rest of this entry »