Sebagai pengelola keuangan keluarga (ehm…) saya tentu selalu berusaha menghemat anggaran belanja rumah tangga. Dengan catatan, mutu belanjaan tetap terjaga meski ada alasan penghematan.

Dulu, sebelum punya banyak anak :mrgreen: saya suka hunting barang-barang keperluan rumah dan dapur sampai ke pasar-pasar murah. Yang sering menggelar tikar dagangan di tempat-tempat dan waktu tertentu. Misalnya disekitar lapangan Gasibu Bandung dan Unpad Jatinangor, yang online buka setiap hari Minggu pagi.

Selain harganya murah dan kualitas meriah, saya juga bisa sambil pacaran jalan-jalan sama suami. Itung-itung olahraga. Karena area gelar tikar dagangan lumayan luas. Kalau sudah capek dan sudah ngeborong banyak belanjaan, saya dan suami suka jajan di warung tenda atau kaki lima disitu. Memang kurang higinis sih… Tapi gapapa lah sekali-kali. Kan dalam rangka mengenang masa melarat kuliah dulu juga :)

Sekarang, sangat tidak mungkin saya dan suami belanja kesana lagi. Bawa anak tiga berdesak-desakkan. Jadi akhirnya kami banting setir bener-bener. Yang asalnya belok kanan, ke Gasibu, sekarang belok kiri, ke Carrefour Kiaracondong. Alasan awalnya sih karena disana ada troley untuk bayi dan troley untuk balita, yang ditempeli mobil-mobilan didepannya. Jadi kesana cukup praktis bagi keluarga saya yang kelebihan balita :) Ngga usah nggendong Alle yang ndut, atau bawa kereta bayinya. Ari yang suka lari-lari juga bisa anteng di dalam mobil-mobilan.

Akhirnya, saya temukan juga kalau Carrefour termasuk tempat belanja yang ramah dompet, tapi ngga ramah kartu kredit. Kalau dibandingkan dengan supermarket atau hypermarket, Carrefour punya produk dengan harga murah lebih banyak. Terlebih Carrefour juga memasarkan produk-produk sendiri dengan label ‘Carrefour’ yang tulisannya warna biru dan ‘Paling Murah’ yang labelnya bertulisan merah. Kualitas ‘Carrefour’ lebih baik dibanding ‘PM’, tentunya dengan harga lebih mahal.

Saya yang suka ‘trial n error’ beberapa kali mencoba produk ‘PM’ karena harganya memang paling murah. Hasilnya ada yang memuaskan, ada juga yang bikin kapok. Ini dia reviewnya:

  1. Kecap manis.
    Saya, suami dan anak-anak ngga suka rasanya. Terus terang: ngga enak!
  2. Facial Tissue. Sebaiknya ngga dipakai di wajah. Kasar, menurut saya. Tapi lumayan buat ngelap-ngelap meja atau tetesan makanan di lantai.
  3. Diaper. Untuk sehari-hari Alle pakai ini. Meski tidak breathable cover, tapi lumayan kering dan halus permukaannya. Jadi ngga pernah bikin kulit Alle iritasi. Asal jangan nunggu sampai penuh atau kotor aja, saya kira aman. Refastenable tape-nya juga ngga bikin paha bayi yang gendut jadi sakit akibat terlalu tight pakainya. OK banget menurut saya yang hemat. Cuma buat ‘pup’ aja kok ;) Kalau bepergian atau keluar rumah, saya baru pakai diaper beneran yang mahal. Biar pantat Alle ngga gampang gerah:)
  4. Gula pasir. Kapok. Gulanya ngga bersih. Banyak endapannya kalau diseduh. Terasa sakit dan gatal di kerongkongan. Mungkin digiling sama kulit tebunya kali ya?
  5. Detergen Matic. Mendingan pakai detergen biasa aja. Atau detergen matic ‘beneran’. Hasilnya ngga bersih dan bau apek. Boros lagi.
  6. Beef Burger. Rasa dan kualitas, sama dengan produk warung. Mirip isi burger yang dijual di tukang burger keliling.
  7. Kaos kaki anak. Lumayan buat Abil. Yang suka main kotor-kotoran di sekolah. Daripada beli yang mahal. Sayang. Tiap hari ganti. Itupun harus dicuci dengan ekstra kerja keras saking kotornya. Beli yang mahal juga percuma. Cepet rusak.
  8. Chicken nugget. Kebanyakan tepungnya dibandingkan ayamnya.
  9. Minyak goreng. Saya ngga pernah mikir lagi kalau nemu barang ini. Langsung masukin aja ke keranjang. Eh, troli.
  10. Car shampoo. Ini sih yang pake suami saya. Tapi kayaknya sama aja dengan merek lain. Ngga bikin mobil Mr.Papih berubah jadi Ferrari :mrgreen: