Sudah 2 minggu lebih Ari tinggal di rumah kakek dan neneknya. Orangtua saya di Tasikmalaya. Ari memang lebih betah tinggal disana. Selain memang selalu tersedia makanan kesukaannya: surabi, ranginang dan opak, udara disana suegarrr sekali. Rumah dikelilingi kolam ikan, pepohonan dan sawah. Halaman depan dan belakang juga sangat luas. Jadi leluasa pisan kalau dipakai berlari-lari atau naik sepeda. Tidak seperti rumah kami yang “noleh sana mentok, liat sini nabrak”. Rumah tipe 45 yang lebar halaman depannya hanya dua meter.

Lain halnya dengan Abil. Abil tidak suka tinggal di Tasik. Alasannya sih karena tidak ada komputer, soulmatenya. Yang ada cuma PC Core2Duo mesin tik merek Brother yang sudah puluhan tahun nongkrong di kamar kerja ayah saya.

Kondisi ini sangat mendukung saya untuk sejenak memisahkan Abil dan Ari. Karena setahun belakangan ini mereka sering ‘berantem’. Untungnya tidak sampai pukul-pukulan atau smackdown. Paling suara gaduh saling cerewet saja yang kadang berakhir tangisan. Seringnya sih karena rebutan sesuatu.

Meski saya mencoba berbuat adil, misalnya dengan memberikan mainan yang sama persis, tapi adaaaa…saja yang diributkan. Apalagi kalau mainannya cuma satu. Walau kadang suka gantian pakainya, saling menaati jadwal, tetap saja kalau salah satu egonya keluar…hmmm…bikin kepala saya serasa lepas. Ditambah kalau ‘perang’nya setelah saya susah payah menidurkan Alle. Walhasil anak terkecil saya itu bisa bangun dengan sekejap. Grrrh!

Saya sendiri menganggap pertengkaran anak-anak saya wajar. Masih banyak rukunnya ketimbang musuhannya. Istilah ini populer disebut sibling rivalry. Sibling rivalry adalah permusuhan dan kecemburuan antara saudara kandung yang menimbulkan ketegangan diantara mereka. Hal ini tak dapat disangkal bahwa perselisihan antar mereka akan selalu ada. Biasanya ini terjadi apabila masing-masing pihak berusaha untuk lebih unggul dari yang lain. Kemungkinan sibling rivalry akan semakin besar apabila mereka berjenis kelamin sama dan jarak usia keduanya cukup dekat.

Agar kondisi ini tidak membuat jenuh kami semua, ya sutralah…pisahin aja. Sekalian mengenalkan pada Abil dan Ari bagaimana rasanya hidup berjauhan. Terbukti, baru beberapa hari sudah pada kangen. Saling menelepon hampir tiap hari. Alamat bayaran telpon pasti naik. Dipakai interlokal terus.

Tapi asyiknya saya jadi ada waktu lebih. Setidaknya beban saya berkurang satu. Kan lumayan, bisa mencurahkan lebih banyak perhatian kepada Abil yang mau masuk SD, pada Alle yang sudah mulai berguling-guling 360 derajat di kasur. Kepada blog baru saya tercinta :) dan Mr. Papih yang lebih tercinta lagi :mrgreen: Yang terakhir ini nih yang sering terlupakan. Maaf ya, Dear….