Tetrasiklin Staining
Kalau ditanya bagian tubuh apa yang paling bikin saya kurang percaya diri…jawabannya pasti: gigi! Memang. Gigi saya jelek kurang bagus dipandang mata. Sejak tumbuh gigi tetap, gigi saya tidak putih seperti punya teman-teman. Bahkan terkadang saya diledekin teman katanya saya tidak pernah gosok gigi. Wah, sedih sekali saya. Padahal saya rajin gosok gigi lho. Untungnya mulut saya ngga pernah bau. Kecuali kalau puasa kali ya?
Berdasarkan penjelasan dokter gigi saya waktu kecil, gigi saya kusam karena pengaruh pemberian obat-obatan yang terjadi saat masa perbenihan gigi. Kondisi ini dikenal dengan istilah tetrasiklin staining. Yaitu perubahan warna gigi karena pengaruh obat yang mengandung tetrasiklin. Memang sih, waktu kecil saya sering sakit-sakitan dan diberi aneka obat antibiotik oleh dokter.
Sialnya lagi. Hal ini bukan hanya menyangkut ‘estetika’. Tapi kualitas gigi saya juga lebih buruk dibandingkan gigi-gigi manusia pada umumnya
Seperti gigi lebih rapuh, permukaan lebih kasar, mudah berlubang (karies gigi), dan sebagainya. Jadi perlu perawatan super ekstra agar kesehatan gigi saya tetap terjaga dan tidak bertambah parah jeleknya.
Namun dari ‘nasib’ yang saya alami ini, saya bisa lebih mudah mengajarkan kepada anak-anak untuk selalu merawat gigi sejak dini. Saya sendiri yang langsung jadi model. ‘Contoh buruk’ kalau malas menyikat gigi. Walaupun pada kenyataannya bukan karena malas gosok gigi sih. Penjelasan tentang apa sebenarnya yang terjadi hingga gigi saya hancur kusam, biar setelah anak-anak saya agak besar dikit. Sekarang yang penting mereka tahu dulu apa akibat kalau tidak rajin menyikat gigi. Kalau sudah mulai malas menyikat gigi, saya suka langsung bikin pilihan, “Mau gigi seperti Mama, atau mau gigi seperti Papa?” (Iya sih, gigi suami saya mah bagus euy. Jadi bliaw yang jadi good model-nya.) Alhamdulillah, Abil dan Ari sekarang sudah ‘otomatis’ meluncur ke kamar mandi untuk menyikat gigi di malam hari kalau mau tidur. Tanpa harus disuruh-suruh lagi.
Oya. Selain itu, dengan menjadi ‘contoh yang buruk’, saya juga menanamkan kepada anak-anak bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna. Jadi jangan sampai saya di’kultus-individu’kan oleh anak-anak. Seakan-akan saya yang selalu mengajarkan tentang kebaikan, dianggap selalu 100% berbuat kebaikan.
Jadi, sejak dini saya ingin memahamkan tentang hadits “Janganlah pandang siapa yang berkata, tapi pandanglah apa yang dikatakannya.” Semoga kelak, mereka bisa proporsional menilai orang lain di sekitar mereka.








This post has 5 comments
Juni 24th, 2008
aduh bu seru punya website gigi jadi topik ember jadi inget waktu kuliah klo jeng selalu kurang pede sama gi2nya sendiri kalau bilang gigiku abu2 tapikan selalu d bagi tau bahwa gi2 jeng akibat antibiotik tapi salut buat ibu yang satu ini menerapkan sistem sama2 anak2 pendidikan yang modern d tunjang lagi lakinya dokter he he he pokona mah jeng inget bala2 sagede badigdog ha ha ha ha
Juni 24th, 2008
Wow. Helmi masih inget ya sama gigiku. Abu-abu? Perasaan you bilang gigigku ‘bekas di behel’ deh, hehe.
Ngga akan pernah lupa atuh sama bala-bala mah.
Juni 25th, 2008
Just Wanna Say …
Welcome Back Ibu …
Bagaimana kabarnya …
Sehat-sehat kan ?
Salam saya
Juni 25th, 2008
En satu lagi …
Ganti tampilan …
Ganti alamat …
Asik-asik … !!!
Juli 1st, 2008
@ nh18
Wahh… Pak Trainer. Sudah jauh-jauh berkunjung kesini. Alhamdulillah saya sehat. Bagaimana Bapak dan keluarga? Makasih lho Pak. Senang sekali saya. Jangan bosan kembali lagi ya Pak. Salam untuk keluarga.