Free Image Hosting

Bertukar cerita dengan para pemilik online shop, ternyata berjualan di dunia maya tidak bisa dianggap sebelah mata. Jangankan online shop yang sudah berupa website profesional, masih berupa lapak-lapak gratisan (seperti milik saya) pun setiap harinya selalu ramai oleh pembeli. Tidaklah mengherankan, jika akhirnya banyak orang tertarik berjualan secara ‘virtual’. Tak sedikit pula para pedagang yang menutup toko mereka di dunia nyata (terlebih yang ada alasan omzet kurang memuaskan), kemudian sepenuhnya fokus membangun toko onlinenya.

Begitu pula dengan saya, yang walaupun tidak punya pengalaman membuka toko sebelumnya, akhirnya tertarik juga untuk mencoba… Berawal dari menjadi dropshipper untuk pakaian wanita, lalu dilanjut dengan menjualkan baju-baju Bali dan perlengkapan home spa. Namun ternyata saya merasa sangat tidak nyaman dengan menjadi dropshipper. Mengapa? Oke deh, saya akan berbagi cerita dengan Anda.

Apa sih dropshipper itu?
Dropshipper adalah orang yang menjalankan satu jenis sistem penjualan dimana penjual tidak memiliki produk yang dijualnya tetapi memiliki ijin untuk menjual barang tersebut atas namanya sendiri. Ia hanya menjadi perantara supplier (pemilik barang) dengan pembelinya/  customer. Untuk lebih jelasnya, bisa lihat skema berikut atau googling aja sanahh:mrgreen:

Sistem dropship bisa diilustrasikan sebagai berikut:
1. Dropshipper mempromosikan dan menjual barang A kepada customer seharga Rp 2.500
2. Customer mentransfer uang Rp 2.500 kepada dropshipper
3. Dropshipper membeli barang A seharga Rp 2.000 dari supplier
4. Dropshipper mentransfer uang sebesar Rp 2.000 ke supplier (selisih Rp 500 diambil sebagai laba)
5. Supplier mengirimkan barang A kepada customer atas nama dropshipper
Dengan langkah mudah tersebut, tak heran bila ada yang bilang kalau sistem dropship ini memberi peluang siapa saja untuk jadi makelar tapi bertampang owner…:lol:

Sistem dropship ini menguntungkan bagi Anda yang ingin menambah penghasilan tanpa harus mengeluarkan modal (kecuali biaya promosi). Anda tidak perlu repot-repot stok barang, membungkus dan mengirimkannya. Tapi tentu ada konsekuensi dari berjualan cara dropshipping:

1. Anda tidak tahu pasti stok/ ketersediaan barang di supplier. Saat ini barang masih ada, beberapa menit kemudian belum tentu. Seringkali ini membuat customer kecewa. Selain harus sering menanyakan ketersediaan barang, dropshipper juga harus sabar menunggu konfirmasi dari supplier. Benar-benar harus sabar. Customer ingin cepat-cepat mendapat kepastian barang, supplier seringkali lama merespon dengan berbagai alasan.
2. Anda bukan pemilik barang, dan tidak menyimpan sendiri barang yang dijual. Bisa dipastikan Anda tidak akan menguasai sepenuhnya product knowledge. Anda hanya mengetahui sebatas foto dan informasi lain yang diberikan supplier. Itupun kadang tidak sesuai fakta yang ada. Dan jika ada customer yang meminta tambahan informasi, kadang supplier hanya menjawab sekenanya. Misalnya saat customer minta tambahan foto (tampak samping, belakang dan detail), supplier enggan memberikan. Disini dropshipper harus pintar-pintar berkomunikasi dengan customer.
3. Masih terkait dengan poin ke-2. Karena Anda tidak menyimpan barang sendiri, maka Anda tidak tahu kondisi barang yang sebenarnya. Kualitas barang, kondisi barang, dan kelayakan bungkus/ kemasan kirimnya. Contoh: Baju A, bahan spandek warna biru dikirim ke customer sesuai permintaan. Begitu sampai, customer komplain karena barang tidak sesuai harapan. Baju warna biru? Ya. Bahan spandek? Ya. Potongan seperti difoto? Ya. Lalu? Ternyata bahannya kain spandek dengan kualitas buruk, jahitan sangat amat tidak rapi dan ada kancing yang copot. Ketika Anda katakan ini kepada supplier, supplier bilang: “Sebelum dikirim barang sudah diperiksa, kancing lengkap/ utuh. Baju itu bahan spandek, warna biru, potongan sesuai foto. Tak ada kebohongan. Kalaupun ada kekurangan, itu resiko berbelanja online. Tidak bisa meraba bahan secara langsung.” Nah lho… Siapa yang bohong soal kancing baju yang lepas? Dan untuk menyelamatkan muka, dropshipper akhirnya merefund uang customer tanpa bisa mengembalikan baju ‘jelek’ pada supplier. Atau… Bisa saja dropshipper tidak mau rugi, dengan cara memaksa customer menelan pil pahit sendirian: barang tidak bisa diretur. Kalau saya sih tidak mau begitu. Kasihan customernya… Tapi kalau terus-terusan begitu juga sayanya yang kasian dong. Mau untung kok malah buntung:sad:
Oh iya, saya juga pernah dikomplain customer gara-gara packing supplier yang ngasal. Barang hanya dibungkus selembar plastik transparan hingga terlihat jelas isinya apa. Duh! <intermezzo>
4. Harus ikut aturan supplier. Yaiyalah. Supplier kan yang punya barang, puncak kekuasaan tertinggi dong ya?:mrgreen: Biasanya supplier menentukan sendiri rule bagi para dropshipper. Salah satunya aturan tentang ‘keep’ barang. Ada supplier yang begitu ‘penindas’. Aturannya: tidak bisa cancel barang. Misal, customer mau barang A, dropshipper bilang ke supplier. Eh, tahunya customer cancel atau kabur begitu saja (istilahnya hit and run). Supplier tak mau tahu alasan apapun, yang penting kalau sudah bilang “mau” harus jadi. Jika customer membatakan pembelian, itu resiko dropshipper. Barang tetap harus dibeli dropshipper. Kalau tidak, dropshipper dicoret dari daftar klien supplier (diblacklist) dan tidak bisa dropshipping lagi. Tak heran ada teman saya yang dropshipper sejati, di rumahnya jadi banyak barang hasil hit and run customer-customernya. Kalau laku ya syukur, tapi kebanyakan tidak laku karena baju-bajunya sudah out of date.:sad:

Meski banyak ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan *halah* dengan menjadi dropshipper, tapi keuntungan yang diperoleh pun tak bisa diremehkan. Banyak yang mendapatkan untung banyak hanya dengan ‘memakelari’ saja. Tentunya, keberuntungan itu tidak datang begitu saja dong yaa… Banyak variabel yang membentuknya. Diantaranya, dropshipper memiliki:
1. Supplier yang betul-betul profesional dan menghargai customer. Mereka mengutamakan kepuasan pelanggan. Barang terjaga baik, pengiriman tepat waktu, packaging baik, selalu memberikan informasi dan pelayanan sebaik-baiknya termasuk info kurir dan masalah retur barang.
2. Kemampuan berkomunikasi dengan customer dan supplier. Bagaimanapun, dropshipper berada di tengah-tengah kepentingan yang berbeda. Dropshipper harus bisa menyelaraskan dua kepentingan berbeda tersebut. Salah satu bermasalah, berdampak pada sisi lain.
3. Kemampuan marketing. Hanya dengan beriklan gratis di social media, situs-situs iklan, dan sedikit kemampuan ngeblog plus ilmu SEO, bisa mengantarkan seseorang menjadi dropshipper handal. Apalagi jika dia punya network yang bagus atau kemampuan plus lainnya (modal finansial misalnya).

Jadi kesimpulannya kalau mau jadi dropshipper sukses harus punya supplier oke, dan betul-betul harus tahan banting. Karena bagaimanapun dropshipper itu ‘tameng’ bagi kesalahan supplier.

Hmmmm… Apa lagi ya?:roll::roll::roll:
Sementara sampai sini dulu dongeng-dongengnya…Kalau ada waktu -dan (yang terpenting) mood- saya mau bercerita mengapa saya memutuskan untuk menstock barang sendiri dan akhirnya berdagang di Mukena Pelangi. (Ahihiii… Masih kosong, Bo! Webnya belum ada isinyaaa… :oops: Gapapa, ngasih link dulu aja. Biar tenar duluan, hahaha… Sementara saya masih menggelar dagangan di lapak yang amburadul, namanya juga masih dagang amatiran. Masih mejeng di pasar kaget dan trotoar dunia maya. Siap ditertibkan satpol kapan-kapan, hihihi… Do’akan saja cepet beres upgrade lapak jadi kios trus ningkat jadi toko dan lalu mall dehhh…):lol::lol:

See you!;-)

Wow! Ternyata sudah lebih dari setahun saya gak posting-posting disini ya… Hihii… Malah kaget lihat jumlah komentar di postingan terakhir sudah hampir sampai 200. Padahal itu  hanya artikel paid review, yang tentu saja isinya tidak mewakili pribadi saya secara langsung. Setahun gak ngeblog, pasti kangen lah. Cuma mungkin hasrat menulis dan blogwalking saya terkalahkan oleh [...]

Do you want to get your family mixed up in an activity that might bring you closer together? Then why not think about camping. Camping is a great way to enjoy the great outdoors. No matter what the season, camping can be a wondrous experience and a welcome relief from the cramped confines of city [...]

Tags:

Beberapa bulan terakhir, bisa dikatakan saya tergila-gila dengan Casiopea, sebuah group band dari Jepang yang mengusung genre jazz fusion. Mungkin teman-teman di jejaring sosial -terutama twitter- sudah tahu sekali kalau saya sering berbagi kegiatan harian saya yang hampir tidak jauh dari Casiopea, Casiopea dan Casiopea. Lagi masak, nyetel lagu Casiopea. Lagi online, playlist Casiopea semua, [...]

Terakhir saya posting di blog ini… Wow!! Hampir setengah tahun lalu, hehehe… Ya, tak mengapalah. Memang mungkin sense menulis saya tidak sebaik teman-teman blogger lainnya. Walaupun setiap hari selalu banyak ide berseliweran, saya hanya mampu menuangkan dalam bentuk twit-twit kecil. Setelah itu selesai. Hampir tak ada arsip. Sebab di twitter tampaknya tak ada fitur untuk [...]

Lama sekali saya tak menulisi blog ini lagi. Kangen? Pasti! Tapi saya selalu merasa tak punya waktu untuk membuat postingan meski hanya dua paragraf. Hmmm… Sebegitu sibuknyakah saya? Entahlah. Sepertinya tidak. Buktinya saya selalu sempat bercengkrama dengan teman-teman di facebook maupun twitter. Dua jejaring sosial yang setiap hari tidak pernah saya lewatkan untuk hadir disana. [...]

Tags:

Sahabat saya menelepon sambil menangis tersedu-sedu. Suaminya selingkuh dengan teman sekantornya. Jadi ingat. Sekitar tujuh tahun lalu saya pernah baca opini seorang Bapak (yang juga seorang suami tentunya) di majalah Femina edisi tahun ‘80-an. Judulnya sama dengan judul tulisan ini. Si Bapak berpendapat bahwa sifat dasar lelaki memang suka ‘bertualang’ dengan wanita lain selain istrinya. [...]

Tags:

(Hapunten anu kasuhun ka para pini sepuh. Dina danget ieu sim kuring nganggo basa Sunda loma tanpa sensor…) Tilu poe ieu, meh unggal poe kuring nyieun cilok. FYI, cilok teh sabangsaning kadaharan opieun nu dijieun tina aci, wangunna baruleud leutik. Ari cara ngadaharna teu kawas dahareun sejen nu guyub make sendok atawa di comot ku [...]

Tags:

Sore tadi, hati saya cukup dibikin nyelekit saat membaca berita tentang seorang guru honorer yang nekat mencuri pakaian di sebuah swalayan dengan alasan tidak mendapatkan THR untuk membeli baju lebaran. (Berita baca disini) Spontan batin saya langsung nyeletuk, “Kenapa sih, ngotot banget pengen baju lebaran? Memangnya lebaran harus selalu pakai baju baru ya? Demi gaya [...]

Kata adalah simbol yang dibuat manusia, sehingga sebetulnya memiliki arti yang tidak jelas (menurut Dr. Jeannette Murad, staf pengajar Fak. Psikologi UI). Memang, kata merupakan bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kita akan lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal. Misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Dari cara [...]

Tags:

Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai wanita yang mempunyai kesibukan di luar rumah, yang mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga tidak heran, cukup banyak wanita yang akhirnya merasa tak percaya diri, jenuh, dan merasa terjerat karena kehidupannya semata-mata adalah istri dan ibu yang selamanya mengurus rumah tangga. Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah merasakan [...]

Sabtu malam kemarin, karena ada sesuatu yang harus dibeli di BEC (Bandung Electronic Center) kami sekeluarga ‘pergi ke Bandung’. Meski rumah kami terletak di kota Bandung juga, tapi karena Cileunyi sudah masuk wilayah Kabupaten Bandung dan terasa jauuuuuh sekali kalau mau ke Bandung Kota, maka kami kalau ‘turun gunung’ selalu menyebutnya ‘mau ke Bandung’. Kendaraan [...]