Posted by Ratna | Posted in renungan | Posted on 05-08-2010
Kata adalah simbol yang dibuat manusia, sehingga sebetulnya memiliki arti yang tidak jelas (menurut Dr. Jeannette Murad, staf pengajar Fak. Psikologi UI).
Memang, kata merupakan bentuk ucapan (verbal) dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Namun, perasaan kita akan lebih tampil dalam tingkah laku non-verbal. Misalnya melalui intonasi, tekanan kata, mimik, dan sebagainya. Dari cara memberi penekanan kata, juga bisa memberi makna yang lain.
Contoh, kata “dia cantik” adalah ucapan tulus, tapi jika diucapkan “Dia? Cantik?” jelas mengandung pelecehan. Jadi, tergantung bagaimana mengucapkannya. Kata-kata bisa sama, tapi arti atau pemaknaannya tergantung pada yang menyertainya, termasuk mimik atau bahasa tubuh.
Mempersepsikan kata juga tergantung pada bagaimana relasi kita dengan seseorang. Relasi renggang berbeda dengan seandainya berteman baik. Sehingga, jika dikatakan “gembrot banget sih kamu”, penerimaannya akan berbeda. Pada orang yang tak begitu dikenal, akan terasa menyakitkan. Sebaliknya, jika diucapkan kepada seorang sahabat, bisa diterima sebagai feedback positif, bahwa berat badan kita bertambah, sehingga butuh diet khusus.
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in renungan | Posted on 12-05-2010
Saat ini wanita maju seakan diartikan sebagai wanita yang mempunyai kesibukan di luar rumah, yang mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Sehingga tidak heran, cukup banyak wanita yang akhirnya merasa tak percaya diri, jenuh, dan merasa terjerat karena kehidupannya semata-mata adalah istri dan ibu yang selamanya mengurus rumah tangga.
Tak dapat dimungkiri, saya pun pernah merasakan hal demikian. Meski pada akhirnya saya menyadari, membuat suami dan anak-anak saya bahagia tinggal di rumah dan semangat bekerja/ belajar di sekolah adalah sebuah prestasi dan prestise tersendiri bagi saya. Terlebih setelah mengetahui bahwa Nancy Reagan, wanita Amerika yang tumbuh dalam masyarakat yang banyak berbicara tentang kemajuan dan persamaan hak wanita mengatakan: “Apa salahnya menjadi istri yang mengurus rumah, anak dan suami? Saya rasa menjadi istri dan ibu, adalah panggilan yang paling mulia.”
Media massa memang memegang peran penting dalam memengaruhi cara berpikir masyarakat. Banyak wanita yang mendambakan kehidupan seperti pribadi-pribadi yang mereka kenal melalui pemberitaan (baca: selebritas). Tetapi apakah wanita-wanita ‘sukses’ ini tidak mempunyai masalah? Bisa jadi ada saat-saat wanita-wanita tersebut begitu merindukan kehidupan tenteram, bersama suami dan anak-anaknya. Tanpa mereka diganggu oleh deringan telepon, serta jadwal pekerjaan.
Cukup banyak wanita yang bekerja di luar rumah, yang sebenarnya tidak seharusnya mereka bekerja. Menurut La Rose, dalam bukunya Pribadi Mempesona, tidak sepantasnya wanita bekerja dengan alasan:
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in curhat | Posted on 16-11-2009
Sabtu malam kemarin, karena ada sesuatu yang harus dibeli di BEC (Bandung Electronic Center) kami sekeluarga ‘pergi ke Bandung’. Meski rumah kami terletak di kota Bandung juga, tapi karena Cileunyi sudah masuk wilayah Kabupaten Bandung dan terasa jauuuuuh sekali kalau mau ke Bandung Kota, maka kami kalau ‘turun gunung’ selalu menyebutnya ‘mau ke Bandung’.
Kendaraan kami diparkir di basement BIP (Bandung Indah Plaza) demi mengefisienkan waktu yang kala itu sudah pukul tujuh malam. Kalau terlalu banyak wara-wiri kasihan anak-anak yang pasti sudah mulai mengantuk. Rombongan (ciee rombongan!) dibagi dua. Suami pergi ke BEC dengan anak sulung dan tengah. Saya dan si bungsu belanja keperluan dapur di Hypermart.
Saya yang amat sangat jarang pergi ke keramaian di pusat kota Bandung, ketika mulai menjejakkan kaki di BIP menjadi terbengong-bengong sendiri. Duhh, begini kali ya, ibu-ibu kampung yang mainannya paling jauh juga Carrefour Kiaracondong… Saya merasa jadi orang katro sekaligus jadi orang paling beradab. Hayahh, lebay deh. Tapi betul! Saya bingung sendiri melihat cara berpakaian wanita-wanita kota. Juga gaya berpacaran mereka. Meski seringkali melihat di televisi, banyak sekali makhluk bening dan aneka macam ‘adegan heboh’. Tapi menyaksikan secara ‘live’ membuat saya tulalit.
Sekian dulu dan terima kasih.
(Hihhiii… maap, lagi buru-buru ngejar dedleeeeeen!)
Duh, judul apa sih ini?
Terus terang saya juga kebingungan. Memangnya ada pisau bermata Y? Mata Y juga apa… Ngarang dotkom bangeet!
Mau cerita nih. Beberapa menit lalu saya mendapat notifikasi baru dari sebuah broker paid review. Bahwa blog saya mendapatkan kesempatan untuk mereview sebuah website. Hoalah! Saya langsung tersenyum sambil mengernyitkan dahi. Menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. PR paid review yang kemarin tiba lewat email juga belum saya kerjakan, sudah datang lagi yang baru. Sebenarnya tugas itu bisa didelegasikan pada penulis konten, yang kemampuan berbahasa Inggrisnya pasti jauh lebih baik dibanding saya. Namun saya sering ingin mengerjakan sendiri. Selain faktor kepuasan yang luar biasa saat tulisan saya di approve advertiser, juga menulis dalam bahasa Inggris secara signifikan bisa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris saya.
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in Intermezzo, nostalgia | Posted on 06-11-2009
(Pernah publish di blog jadul saya.)
Bagi saya, pacaran hanya dilakukan untuk orang yang berniat menikahi pasangan yang dipacarinya. Bukan karena alasan saling suka atau sayang satu sama lain, lalu “Jalani aja deh, gimana nanti…” atau juga bukan untuk sekedar teman ‘jalan’.
Pacaran menurut saya adalah kata populer untuk mendefinisikan: program terstruktur mengenal calon pasangan sebelum menikah, sehingga bisa diambil keputusan tepat, diteruskan atau tidaknya program ini ke tahapan menikah.
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in curhat | Posted on 31-10-2009
Beberapa waktu lalu -pas panas lagi mentrang-mentring- saya ngajak dua anak terkecil saya ikut menjemur pakaian di lantai atas rumah. Ngaku deh, pas si bontot tidur pagi, yang seharusnya saya buru-buru menjemur pakaian, saya malah asik nongkrongin berita online, blog dan kaskus
. Jadilah pas si bontot bangun, matahari udah naik ke atas ubun-ubun. Acara menjemur? Ya harus segera dilaksanakan dong. Bisi keburu expired panasnya. So, mau gak mau saya ajak anak-anak ‘bekerja’ di bawah terik mentari. (Please guys, di loteng masih ada tempat anak-anak berteduh kok…)
Setelah kelar dengan acara menjemur yang dipersuperquick asalcantol, saya langsung mengajak anak-anak untuk langsung turun ke lantai GF. (Emangnya di mol??) Tapi duo jagoan tetep habennagen sambil ngoprek barang-barang ‘buangan’ semacam pipa pralon bekas dan kuas gundul. Aneka gaya bujukan tak membuat mereka beranjak dari lantai UG. Sampai saat saya kecletot bilang, “Ayooo ah, kita pulang….”
My 2nd son, Ari 4,5 tahun, langsung nyeletuk, “Emang kita udah pulang, Dodddooooolll!” sambil mukanya dipasang big grin, senyum yang giginya gede-gede itu.
Omaigat… Doddooooolll?? Haqqul yakin, saya hanya ngajarin anak-anak kalau dodol itu temennya wajik, kue basah yang giung itu. Yang manisnya agak kelewatan itu. Yang apalagi kalo makannya sambil liatin sayah… Ay, ay…
OK, temans. Simpen dulu asal muasal anak saya dapet pokeb dodol. Kira-kira menurut Anda kata ‘dodol’yang dipakai anak saya tadi termasuk kata-kata kasar atau bukan ya? Atau sekedar lucu-lucuan, yang (bisa saja) menambah keakraban orangtua-anak? Atau perlu diberantas karena gak pantas diucapkan pada orangtua? Yang pasti saya tadi berhasil ngajak anak-anak turun berkat pake gaya si Unyil: “Mari kita kemon!”
Hampir setiap jarum jam pendek itu menunjuk langit-langit, aku sedang asyik bercengkerama dengan benda datar berdiagonal 16″. Brightness 45 dan contrast 38. Di kejauhan, petugas ronda memukul tiang telepon sebanyak dua belas kali dengan tepat.
Setiap 24 jam sekali, pada saat yang sama, aku selalu bersamanya. Menatap segala keindahan dunia yang terlukis di tubuhnya. Menikmati kata demi kata yang berbaris di setiap mili raganya. Ya, aku melihat seluas-luas dunia hanya dengan mengintip kotak kecilnya.
Malam ini, aku ingin sesuatu yang berbeda mengisi kebersamaanku dengannya. Aku tak hanya ingin mengambil, mengambil dan mengambil apa yang ada di dalam jendela ajaib ini. Aku juga ingin memberi. Ingin mempersembahkan titik gelora yang sering bermunculan di sudut-sudut peluhku. Peluh yang bening, yang keluar dari persemayamannya di dalam jiwaku.
Semoga tulisan ini menjadi prolog kebersamaanku dengannya. Bahwa dia tidak akan bertepuk sebelah tangan layar. Sebab layar hati dan asaku akan selalu menyertainya setiap jam dua belas malam.
Insya Allah.
Wismilak pren!
Posted by Ratna | Posted in Intermezzo | Posted on 21-06-2009
Menonton Oprah Winfrey Show tadi pagi dengan topik mengenai cenayang, ramalan dan komunikasi dengan orang yang sudah mati bikin saya susah tidur. Dalam tayangan tadi, memang ada orang-orang tertentu yang mempunyai kelebihan/kepandaian untuk bisa melihat masa depan. Ini merupakan dasar yang harus dimiliki seorang paranormal untuk bisa berhubungan dengan orang yang sudah meninggal.
Analoginya sama seperti halnya dokter bedah, dia harus punya dasar dulu sebagai dokter umum. Syarat lain yang harus dimiliki adalah dia harus punya kepercayaan yang kuat terhadap hal gaib. Dijelaskan pula, bahwa mereka yang di alam sana adalah energi. Sama seperti kita yang ada di dunia ini adalah energi juga. Cuma beda frekuensi. Satu lagi yang membedakan, adalah kita punya tubuh/raga, sedangkan mereka sudah copot dari raganya (mati) dan sekarang hanya tinggal ruhnya saja. Jadi mereka susah untuk berkomunikasi dengan kita karena keterbatasan raga tersebut. So, paranormal itu yang bisa menjadi mediatornya. Paranormal bisa menangkap frekuensi mereka yang ‘rendah’ dengan cara-cara khusus yang akhirnya bisa ‘merasakan’ berkomunikasi dengan mereka.
Dari tayangan tadi, memang ada beberapa bukti kalau orang hidup bisa berkomunikasi dengan orang mati. Misalnya si paranormal bisa mengetahui hal-hal pribadi/rahasia yang ternyata hanya diketahui oleh penguji dan orang mati yang dihubungi.
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in Intermezzo | Posted on 21-06-2009
Saya ingin berbagi satu tayangan TV yang susah saya lupakan. Kemarin, di Trans TV. Jam dan judul acaranya lupa.
Seorang ibu bertubuh gembrot dan berpakaian kutung yang lusuh. Duduk beralaskan beton kotor di bawah kolong jembatan Kali Ciliwung, Jakarta. Beton tempat ia duduk juga merupakan rumah tempat ia dan ‘tetangga-tetangganya’ hidup. Tidur, makan dan beranak-pinak.
Sambil bercakap-cakap santai dengan tetangga, ia memegang jaring berdiameter sekira 30-40 cm dengan pegangan panjang. Jaring itu dipergunakan untuk mengambil barang-barang yang hanyut di kali.
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in Intermezzo, healthy life | Posted on 02-04-2009
Ada yang mengistilahkan toilet, rest room, WC, kamar kecil, bilik termenung, atau apalah namanya. Yang pasti tempat ini tempat favorit saya amat saya hindari jika sedang jalan-jalan di mal. Dipakai kalau pas lagi kebutuhan darurat saja, yang mau ngga mau harus sowan kesana.
Sebenarnya saya selalu malas jika harus melangkahkan kaki ke toilet umum, sekalipun di mal. Meski design toilet semewah apapun saya selalu was-was. Apalagi kalau pake toilet duduk, aduh…kebayang paha belakang saya harus bersentuhan dengan ‘bekas’ orang. Mungkin bukan cuma ‘bekas’ paha orang aja yang borokan pernah mejeng disitu. Bisa aja ada orang yang pernah jongkok disitu lengkap dengan alas kakinya yang kotor
Huhu… So, di tas saya ngga pernah ketinggalan hand sanitizer (buat ditetesin di tempat duduk), tisu basah dan tisu kering buat ngelapnya.
Kalau boleh saran nih buat para pengelola mal atau pusat perbelanjaan lainnya, terutama mal-mal yang berada di kawasan non-elit, yang segmen konsumennya orang biasa-biasa aja…
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in blogging, internet | Posted on 22-03-2009
Kemarin saya baru mengurus perpanjangan hosting blog ini. Padahal overdue tinggal hitungan hari. Dasar! Kebiasaan jelek nih, selalu saja nunggu-nunggu mepet. Seharusnya saya prepare 2 bulan sebelumnya. Mana ini pengalaman pertama perpanjangan hosting lagi. Masih tulalit, meski sebenarnya gampang-gampang aja…
Cuma saya bingung waktu disuruh milih mau hosting di server Indonesia atau tetep di USA. Mana jawabannya di suruh ASAP lagi. Alhasil dengan pengetahuan saya yang minim dan kebetulan temen-temen blogger senior yang pada melek IT saat itu lagi pada nggak OL. Saya akhirnya cuma bisa menghitung kancing
Read the rest of this entry »
Posted by Ratna | Posted in Iseng | Posted on 18-03-2009
3 in 1?
Maksudnya mandi sambil keramas, sauna dan luluran? Bukan… Ini mandi yang rutin dilakukan tiap hari Minggu di pagi hari, sebelum kami sekeluarga pergi ke luar rumah. 3 in 1 itu mandi tiga orang sekaligus dalam satu kamar mandi. Oops, tiga anak maksud saya.
Kalau hari-hari biasa, si sulung nggak bisa hadir dalam acara mandi massal ini. Soalnya harus mandi subuh-subuh, kan sekolah pagi. Jadi di hari biasa, cuma ada acara mandi 2 in 1 saja. Yang mandi si tengah dan si bungsu dalam satu ember mandi yang besar (hehe, belum punya bath-tub soalnya). Atau paling tidak mandi 2,5 in 1.
Read the rest of this entry »